Monday, July 11, 2011
Hello Again!
Nah, sekarang saya punya banyaaaak sekali waktu senggang yang sangat senggang. Apa pasal? Karena saya sudah lulus, sudah mendapat gelar untuk di belakang nama saya, dan sudah waktunya berkelana jauh dari rumah. Hehe. Tapi mengenai yang terakhir, mungkin belum akan terjadi dalam waktu dekat. Masih ada revisi atas skripsi yang sudah dikerjakan selama delapan bulan terakhir, ada pikiran-pikiran yang harus diendapkan, dan ada jiwa yang mesti ditetirahkan sejenak. Tapi kalau ada tawaran kerja yang masih ringan dan tidak harus pindah kota, bisa juga sih. Akan saya terima dengan lapang dada. #mureeeee :)))
Jadi, mari ramaikan blog ini lagi. Wohoooo. Semoga-semogi-momogi deh yaaaa. :D
Tuesday, April 12, 2011
Rasanya Seperti Lelah
Rentang asa masih tersaput jelas di pelupuk
Jejak rasa tidak mau hilang, masih ingin dipupuk
Ketika renjana alam tidak tertahan untuk merestui
Maka asa itu pupus, seringkali begitu
Walaupun doa menemani pun terucap lirih
Senandung rasa pernah jelas terungkap walau sesekali
Selanjutnya meragu karena awan kelabu kembali menyapa
Resah hati adalah kawan mesra
Detik masih berbunyi, sehingga yakin mungkin asa itu masih berkeliar
Kembali resah dan mencari celah asa
Lagi,lagi, dan terus bergitu
Hingga lelah dan tertidur bersama senyap
Sampai pada titik mana kau menyetujui dirimu sudah berusaha keras dan menyadari ternyata tidak ada yang kau ubah? Ketika kau merasa semuanya telah kau lakukan tapi tidak ada hasil yang sesuai keinginanmu? Bagaimana kau akan berdamai dengan dirimu dan sadar jika semua usahamu telah sia-sia? Kapan kau akan putuskan bahwa perjuangan sudah usai dan kau hanya akan duduk diam menekuri malam yang duduk diam? Mereguk teh dengan aroma mint yang menenangkan dan menahan napas untuk menahan bulir-bulir air tidak jatuh ke pipimu. Menghilangkan prasangka dari pikirmu dan menafikkan penyesalan dari segala hatimu. Menikmati detak jantung yang jadi menderu dan perasaan hati tak menentu. Ketika kau tidak bisa mengatur suhu tubuh dan nada bicaramu, hingga kau putuskan diam saja bergelung pucat pasi. Sampai kau sadar kau tidak kedinginan tapi sekujur tubuhmu bergetar.
Sampai mana batas lelahmu?
***
Jadi ceritanya ini adalah basian skripsi. Kayak orang minum alcohol kebanyakan, pasti harus ada yang dimuntahin toh? Haha. Kayaknya kalo ngerjain skripsi itu memang harus banget ada acara galau-galaunya gitu ya. Dan buat saya, inilah hasilnya. Hehe. Puisinya sudah dibuat bertahun-tahun yang lalu, tahun 2009. Sedangkan prosanya dibuat tahun ini, bulan ini, tapi bukan hari ini. Di tanggal 11 April lalu itu, saya sedang jangar bikin skripsi dan tau kalo ada kesalahan di bab 2. Amin banget deh itu. Dan voilaaaa… :D
Saturday, January 29, 2011
L' Appartemant #004: Berpindah?
Tidak, aku tidak kesepian sepanjang aku punya teman-teman yang mengitariku. Begitulah jawabku setiap teman-temanku bertanya mengapa aku masih mau hidup sendiri padahal aku sudah lulus kuliah, ibuku bisa mengurusi hidupnya sendiri, dan aku punya pekerjaan yang cukup bisa diandalkan. Lagipula aku tidak yakin bahwa pernikahan, jika memang itu yang mereka maksud, adalah jawaban atas kesendirian.
Bagiku, apapun status yang kau emban, kau akan terus sendiri. Setidaknya sampai kau mati nanti. Tidak mungkin orang yang ada di sebelahmu akan menjadi temanmu seumur hidup tanpa menyebabkan sedikit celah yang tidak terisi di setiap hari dan hela nafasmu. Manusia akan selalu sendiri. Percayalah. Dan kalau sudah begitu, teman-temanku hanya akan berkomentar, “Dasar keras kepala, pantas kalau sendiri terus,” diiringi gelak tawa yang kuamini.
Mengenai kesendirian ini, teman baruku di apartemen ini pernah sekali mengunjungiku dan terheran-heran melihat satu pot bunga yang ada di balkonku. Ateira, yang seorang florist, bilang aku memang tidak cocok memiliki hubungan apapun dengan tanaman. Hahaha, aku tertawa terbahak-bahak ketika ia bilang begitu. “Aku memang seperti tidak cocok memiliki hubungan dengan apapun, tidak hanya tanaman!” sejurus dia mendelik, lalu ikut tertawa bersamaku.
Oh, aku merindukan pertemuan dengan penghuni apartemen ini. Tapi sepertinya mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku masih ingat ketika Julian bilang akan pergi ke luar negeri untuk melenggak-lenggok di catwalk dan Kyna begitu sibuk berlatih dengan grup tarinya demi pagelaran bulan depan. Kapan kiranya semua penghuni lantai 15 ini bisa bertemu lagi?
Oh, dan kurasa Ori masih akan sibuk dengan wedding organizer-nya hingga beberapa bulan ke depan. Dan tentunya si Ateira itu akan sibuk wara-wiri di toko bunganya, sementara Kahlua mungkin akan menyambangi politisi-politisi busuk yang baru saja masuk ke penjara karena korupsi. Sedangkan si 1502 sepertinya juga sedang bertapa entah di belahan mana mencari inspirasi untuk novelnya yang baru. Dan aku masih saja di sini, entah untuk apa, entah untuk siapa. Maka ini baru namanya kesepian. Mengingat aku juga masih menghindari pertemuan dengan Darda.
Di masa seperti ini, sudah selang beberapa lama sejak pertemuan terakhir dengan Darda, aku baru bisa merasakan kesepian yang seperti tak hilang.
***
Demi hilangnya semua pikiran-pikiran buruk dan perasaan sepi yang berkepanjangan, aku putuskan untuk mengunjungi kakak ibuku yang berada di 140 km jauhnya dari kota ini. Aku pikir, dengan jauh dari tempat-tempat yang sering kusinggahi, maka segala yang negatif padaku akan hilang barang sejenak. Tak lupa kubawa serta kue lidah kucing juara satu itu untuk Bapak, begitu aku memanggil kakak ibuku, yang sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku.
Melihat penampilanku yang begitu kusut, padahal aku tidak merasa demikian, ia bilang,”Sepertinya kamu butuh liburan, Le. Pergi ke pantai saja, seperti biasa.” Ia tidak sedang berbicara dengan lelaki, walaupun ia memanggilku Le, seperti orang Jawa memanggil anak laki-laki mereka. Ia memang suka sekali memanggilku Le, versi singkat dari Lea, karena ia pikir aku lebih maskulin daripada sepupu-sepupu perempuanku yang lain. Dan jelas ia tahu betul bahwa pantai adalah salah satu tempat berlibur favoritku.
“Tidak perlu jauh-jauhlah, yang dekat saja dulu. Yang penting kamu jadi segar lagi,” ujar Bapak sambil mengisi teka-teki silang di koran minggu.
Dan ia mengingatkanku betapa aku mencintai pantai, walaupun sesungguhnya aku lebih mencintai momen liburan di pantai-pantai itu. Lalu otakku mulai berpikir dan menyusun rencana tentang pantai-pantai yang akan kudatangi. Mungkin juga bisa menambah bahan tulisan untuk bulan depan.
***
Keesokan harinya, di kota yang sama, aku mengunjungi kantor majalah dimana aku bernaung. Sang pemimpin redaksi yang kukenal baik sejak beberapa tahun lalu mengajakku masuk ke ruangannya. Dibalut dress tanpa lengan dengan siluet yang tegas ia tampak berwibawa dan serius, padahal biasanya ia yang mengajak kami untuk berlaku gila.
“Kalea, sudah lama sekali kamu jadi kontributor majalah ini. Gue tahu kalau lo senang-senang aja jadi kontributor, tinggal di Bandung, dan bebas menulis apa saja yang lo mau. Kualitas tulisan lo memang tidak diragukan lagi, walaupun lo malas ikut pelatihan-pelatihan kami,” ujarnya sambil merapikan kertas-kertas di mejanya. Sementara aku hanya tersenyum mendengar sindirannya.
Tepat ketika aku bermain dengan pikiranku untuk berhenti menjadi kontributor dan membangun rumah singgah seperti impianku semasa dulu, ia menyampaikan kata-kata yang agak sulit kucerna.
“Tenang aja, lo nggak bakal pernah gue anak tirikan. Saya, sekali lagi, mau tawarkan posisi yang reporter senior di majalah ini. Kamu hanya perlu meliput hal yang penting saja dan mengawasi beberapa reporter bawahanmu,” dari penggunaan kata ganti itu, aku tahu dia memaksa. Ini semacam perintah.
Ia memberiku waktu untuk berlibur dan menyelesaikan tulisan untuk edisi bulan depan sebagai masa untuk berpikir atas “tawarannya”. Dan aku menyelesaikan pertemuan itu dengan muka tolol.
Jadi reporter senior berarti upah tetap, bisa pergi kesana-kemari tanpa keluar biaya sendiri, dapat fasilitas ini dan itu, akses ke baju-baju bagus, dan ini dan itu. Tapi harus tinggal di ibukota, keluar dari apartemen, meninggalkan Bandung, meninggalkan es cokelat dan lidah kucing juara satu, dan tentu saja jauh dari … Darda. Kepalaku mendadak pusing seperti jika aku terlambat makan. Agak sempoyongan seperti jika aku menambahkan sedikit rhum pada es cokelatku. Ambil, tidak, ambil, tidak, ambil, tidak?
Ah, tapi memangnya apalagi yang mengikatku di kota sejuk itu?
Le 29 Janvier 2011
L' Appartemant #003: Pesan
L' Appartemant #002: Yang Tidak Seperti Biasa
Masih ada jeda waktu beberapa saat menjelang undangan makan malam yang diberikan oleh sang 1502. Dan sejak kutemukan setoples kue kering darinya di depan kamarku, aku masih saja bertanya-tanya, bagaimana ia? Adakah ia orang yang baik dan ramah? Atau ia akan mengundangku makan dan kemudian membunuhku, seperti psikopat di film-film yang kutonton? Ah, mana mungkin di apartemen seperti ini ada psikopat.
Setelah membersihkan diriku dengan air hangat yang disediakan apartemen ini, aku segera bersiap. Aku akan mencari apa yang layak dibawa untuk pertemuan nanti. Aku, sesungguhnya, tidak sabar untuk bertemunya, sang pemilik kamar 1502. Bagaimana ya suasana makan malam nanti? Apakah hanya aku yang diundang dan kita akan beradu gelas champagne dengan menyesap keasaman dari anggur yang telah difermentasikan ditemani lilin-lilin yang menyala romantis? Atau akan ada kegaduhan karena seisi apartemen ini diundang? Apapun, tak masalah. Aku inginkan teman baru di lingkungan yang baru ini.
“Yang penting, kamu bisa keluar dari comfort zone, membuat comfort zone baru, atau sekedar meluaskan comfort zone dari yang selama ini ada,” begitu ujar seorang pemateri di kampusku dahulu.
Kata-kata itu masih sering terngiang di telingaku hingga kini. Hingga lima tahun terlewat setelah aku mendengar kalimat itu pertama kalinya. Itulah yang kujadikan patokan selama ini. Aku selalu melangkah dan terus melangkah pergi kesana-kemari. Entah pula itu suatu bentuk eskapisme dari kenangan-kenangan yang tak ingin kukenang. Atau memang aku pembosan yang mudah kehilangan hati pada segala sesuatu. Tapi sudah bertahun-tahun ini aku belum kehilangan hati padanya.
Maka, makan malam di penghujung minggu ini, semoga akan menjadi hal pertama yang menyenangkan selepas aku memutuskan pindah ke apartemen ini dua minggu yang lalu. Dan pikiran-pikiran tidak penting atas apa yang terjadi malam lalu di kafe itu bisa terhempaskan secepat-cepatnya.
Setelah berkaca selama setengah jam dan berganti beberapa baju, aku putuskan untuk segera mencari buah tangan untuk prosesi makan malam itu. Sehelai syal melingkari leherku, cuaca Bandung sekarang sedang tidak mudah ditebak. Siang hari panas menggigit kulit hingga pedih, sedangkan malam hari dingin hingga ke tulang.
***
Secara refleks, aku melangkahkan kakiku ke café langgananku. Dan secara refleks pula, seperti dihipnotis, aku memesan es cokelat. Seperti biasa, seperti biasa ketika aku bertemu ia di sini. Seperti biasa, seperti biasa ketika aku bertukar pengalaman dengannya hingga lupa waktu. Seperti biasa. Yang kuyakin menjadi tidak lagi biasa setelah peristiwa lusa kemarin. Memikirkan hal itu, es cokelat yang biasanya manis, pahit, dan creamy, menjadi tidak berasa apapun. Es cokelat ini pun tidak seperti biasa.
Kutinggalkan es cokelat yang masih setengahnya itu begitu saja. Baru kali ini aku menyesal mengangsurkan uang dua puluh ribuan pada penjaga kasir karena es cokelat yang kupesan tadi. Pikiranku langsung sibuk mencari café mana yang juga menyediakan es cokelat ciamik selain café ini. Selain café yang biasa kudatangi dengan dia. Ah, mungkin penghuni 1502 tahu, mengingat ia bisa menemukan caastangel yang rasanya luar biasa.
***
Toko kue yang kudatangi ini adalah toko kue juara satu, versi ibuku. Sebelum ia berpindah ke kampung halamannya, ia sering mengajakku ke toko ini. Ketika aku sedang tidak ada di rumah, ibu akan pergi sendirian dan membeli beberapa kue untuk kukudap ketika aku datang nanti. Sekarang sudah tidak ada ibu, ia memutuskan menjual rumahnya di sini dan pindah ke kampung halamannya yang seperti musim kemarau sepanjang tahun.
Kupilih kue kesukaanku, kue lidah kucing. Ada-ada saja makanan yang dibuat orang Belanda ini, pikirku, tapi rasanya memang enak. Semoga aku tidak tergoda untuk menghabiskannya sendirian di kamar. Ini untuk perjamuan makan malam nanti. Ini untuk bakal calon teman-temanku, siapa tahu dengan mereka akan ada yang berubah. Yang tidak seperti biasa.
Beruntung sore ini belum hujan, aku menikmati berjalan di trotoar jalan ini. Salah satu trotoar yang berukuran lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini. Salah satu dari sedikit trotoar yang berukuran lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini, kukoreksi kalimatku.
Daaaaaarrrrr.. kue kesukaanku terhempas ke lantai trotoar. Remuk.
Dan juga aku. Ada yang menabrak kakiku hingga aku kehilangan keseimbangan. Tumbukkan yang cukup keras hingga sakitnya membuatku mengerang. Ini dia yang tidak seperti biasa. Baru kali ini aku ditabrak motor di trotoar yang lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini. Harus kukoreksi pula rupanya kalimatku tadi.
Masih beruntung orang yang menabrakku mau bertanggung jawab, mengantarkanku ke rumah sakit terdekat. Itupun setelah didesak oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Biarlah.
Harus kubeli lagi kue lidah kucing juara satu itu. Harus. Untuk menjadikan segalanya tidak seperti biasa. Aku pun harus segera sembuh agar bisa bertemu dengan penghuni 1502. Agar aku selanjutnya bisa mendapati yang tidak biasa itu. Atau pertemuan itu tidak akan terjadi untukku? Dokter, aku bergantung padamu sekarang.
Kalea Tyaga Bestari
Bandung, le 11 Juillet 2010.