Showing posts with label gantari. Show all posts
Showing posts with label gantari. Show all posts

Thursday, November 14, 2013

Hati Hangat


Happiness

Suatu hari, saya duduk di sebuah bis kota yang akan mengantarkan saya ke rumah saudara. Di tengah jalan, saya melihat seorang ayah mengobrol sambil menggandeng anak laki-lakinya untuk menonton pertandingan bola di Senayan. Kali lain, saya berjalan di sebuah trotoar yang penuh sesak dengan pedagang. Di depan saya, seorang kakek menolong istrinya untuk turun dari mobil.

Lalu, pernah juga menjelang liputan, saya belum sempat makan siang tapi masih terjebak di taksi. Supirnya lalu minta izin untuk mengangkat telepon. Curi dengar dong pasti! Percakapannya singkat saja, sepertinya orang di seberang telepon mengingatkannya untuk makan siang. Dijawab bapak itu dengan, "Iya, setelah ini makan siang, sekarang sedang ada penumpang. Kamu makan apa?" Rupanya, sang cucu yang telepon dan "memerintah" kakeknya untuk makan siang.

Hal-hal kecil tersebut tak terasa bikin senyum saya terkembang. Hati lalu merasa hangat dan bikin mikir, kalau selalu saja ada hal yang bakal membuat hari indah. Seburuk apapun hari itu. Tanpa bermaksud sok positif atau terlalu optimis tapi toh memang begitu kenyataannya. Seringkali begitu. Pun ketika kesenangan hadir bertubi-tubi, pasti ada kemurungan yang muncul di pertengahan atau akhir hari. Ya, mungkin sudah hukum alam untuk mencoba mencapai keseimbangan.

Lalu, apa yang bisa bikin hati hangat malam ini dan sejenak lupakan pikiran-pikiran nggak penting yang berseliweran? Pertukaran pesan dan semangat dengan teman lama, ucapan selamat tidur dari kawan baik, pembicaraan ngalor ngidul, pelukan yang tak terduga, kenangan yang ambigu, bayangan tentang pantai, lagu favorit, atau tulisan ini (karena sudah lama nggak nge-blog. :p)?

Jakarta, 14 Novembre 2013

Monday, October 1, 2012

Rumus Risau


Sejatinya apa yang kau sebut sebagai pencapaian? Or achievement, you may say. Nama yang muncul di majalah, sebagai penulis? Foto terpampang di majalah sebagai narasumber? Pergi keluar negeri sendirian dan berkelana ke sana kemari tanpa takut kehabisan uang? Atau menjelajahi berbagai perpustakaan di Britania Raya untuk mengumpulkan bahan untuk penelitian? Atau bisa bayar cicilan mobil dan apartemen sendiri? Atau sesederhana ini: nggak minta uang tambahan dari orangtua di akhir bulan?

Dan yang mana yang telah saya capai? Apakah benar-benar itu yang saya inginkan untuk mengisi hari-hari yang kian terasa membosankan ini? Seorang teman pernah berkata, "Gue jelas tahu apa yang gue nggak suka tapi apa yang gue suka? Itu masih jadi pertanyaan besar." Nah!

Apakah memang serumit itu memutuskan dan mengklasifikasi apa saja yang disuka, dimau, nggak disuka, dan nggak dimau oleh diri ini? Yang sesungguhnya ia punya otak dan hati untuk memilihnya. Atau keduanya tak bisa memilih karena tak terbiasa memilih? Atau memang tak ada pilihan karena ia sudah beku dan jadi robot? Oh, ataukah tak ada yang harus dipilih dan diputuskan karena ia harus mengalir saja seperti air sungai dari puncak pegunungan ke hilir yang bermuara ke laut lepas? Apakah dengan begitu kau hanya akan menjadi orang yang tak berpendirian dan tak punya masa depan?Apakah itu berarti saya tak punya ambisi?

Bagi saya, yang tak jelas betul maunya apa dan tak tahu benar apa yang disukai, merumuskan hal seperti ini adalah mustahil. Tapi jika melihat orang lain yang begitu dan begini serta dapat ini dan dapat itu, jujur saja, perasaan iri itu begitu membuncah di dada, bikin sesak, dan ingin segera seperti mereka. Tapi saya sadar saja kalau itu hanya perasaan sesaat yang hanya bikin susah hati. Lima menit kemudian sudah lupa. Namun beberapa saat kemudian, biasanya sepulang dari kantor, dengan raga dan jiwa yang terasa lelah, saya jadi terpancing untuk punya pegangan. Setidaknya saya harus tahu, apa yang akan dihasilkan oleh batin dan jasmani yang lelah itu? Saya pun seharusnya tahu, pencapaian macam apa yang bikin saya bahagia luar dalam. 

Jadi, apakah itu? Belum tahu.

Udah ngomel-ngomel, tetap saja tak ada simpulannya. Pointless. Hahaha. Mari menertawakan diri sendiri.

Tuesday, January 10, 2012

Kebetulan Betulan?


Mungkin benar ya, udara dingin bisa mengarah pada kegalauan. Oh baiklah, Twitter makes word “galau” overrated. Yang ini, bukan semata-mata tentang percintaan, tapi “galau” pada akarnya, kacau tidak karuan. Apalagi kalau udara dingin itu berpadu apik dengan buku yang sedang dibaca. Bikin kepikiran. Hehe.

Suhu Bandung belakangan ini menyentuh angka belasan. Dingin-dingin asoy. 16-18 derajat Celsius sajah, pemirsa. 

Jadi ceritanya saya sedang membaca buku Manjali dan Cakrabirawa dari Ayu Utami. Seperti biasa, ada satu dua tiga kutipan yang menyentil rasa dan pikiran saya. Dikira akan hilang dalam tempo waktu yang secepat-cepatnya, seperti apa yang terjadi biasanya. Ndilalah kok nggak ya? Sampai pagi ini ternyata masih berputar-putar di otak. Penting banget emang ya? Halah.




Apa rupanya kutipan itu?

Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kita tetap percaya bahwa itu tidak bermakna? (Jacques, hal.19)

Dang.

Dan lalu disambut dengan ini:

Jika kebetulan itu terlalu banyak, artinya masing-masing dari kita memiliki peran. (Marja, hal.247)

Lalu ada apa dengan kutipan-kutipan itu? Nggak apa-apa sih, cuma berasa sudah terpikir sejak lama tentang “kebetulan” itu. Setelah ada teman yang bilang bahwa dia tidak percaya akan kebetulan. Dan sejak saat itu, setiap ada kebetulan yang terjadi pada saya, saya langsung menganalisis apakah itu adalah sebuah kebetulan atau bukan. Agak ruwet sih. Dan seringnya emang hanya berakhir di analisis saja, tidak ada simpulannya. Haha.

***

Oh iya, mengenai buku ini, saya berikan poin 3 dari 5. Loh bukannya buku Ayu Utami itu keren ya? Emh, entah, saya seperti tidak terlalu klik dengan buku ini. Seperti terlalu banyak yang ingin diceritakan dalam 247 halaman. Alurnya seperti terlalu lambat di awal, terlalu cepat di akhir. Terlalu banyak yang terselesaikan dengan kebetulan yang terlalu cepat. Atau memang saya juga tidak percaya dengan kebetulan? Ha.

Atau mungkin harus baca Bilangan Fu dulu ya? 

Poin tiga yang saya sebut tadi itu untuk pilihan kata yang menarik, cerita tentang kerajaan yang saya suka sekali, dan pernyataan-pernyataan yang mudah dimengerti. Lumayan sih buat saya yang malas baca buku yang terlalu tebal. Haha. *menatap Nagabumi yang berdebu di kardus*

Bandung, le 10 Janvier 2012


Saturday, January 7, 2012

The Pursuit of Happyness


2012 udah berjalan beberapa hari, telat nggak sih kalau bikin tulisan tentang 2011? Hahaha. Whatever.

Kalau mau bilang 2011 berjalan biasa saja kayaknya nggak mungkin ya? Banyak hal yang terjadi di tahun itu, mostly sih menyenangkan. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Ngerjain skripsi lama banget, tapi akhirnya selesai dengan nilai yang memuaskan pula. Akhirnya lulus, setelah enam tahun ngejogrok di kampus penuh kenangan itu, konser The Cranberries yang menyenangkan jiwa raga, liburan ke Karimunjawa yang begitu syahdu, dan lain-lainnya. Ketemu orang-orang hebat. The best part is knowing that i still have a bunch of best friends, if I can mention that.

Apalagi ya? Oh, dapat beberapa kerjaan yang mendorong saya keluar sebentar dari lingkaran pertemanan sampah ini. And it feels great when I meet my inner circle again. Latihan untuk jauh-jauh dari orang-orang yang sudah lima tahun menjadi sandaran saya. Ok, I’m getting too mellow when it comes to them, but emm.. that’s exactly what I feel. Hehe. Gotta write about them in next posting, maybe.

Intinya, walaupun dua kali wawancara dan dua kali juga tidak diterima kerja di perusahaan yang diinginkan, tapi 2011 tetap juara satu. Menyenangkan, sampai-sampai saya tidak ingat pernah sedih di tahun itu. Alhamdulillah.

Semoga di 2012 ini semuanya akan lebih indah dan menyenangkan lagi. Semoga semangat saya terus ada untuk mencoba ini dan itu. Semoga rezeki terus mengalir, meskipun sedikit demi sedikit. Semoga, semoga, dan semoga.

Bismillah.
Semoga semesta Memberkati.J

Bandung, le 7 Janvier 2012

 (Harus mulai membiasakan diri menulis 2012. J)

*Judul diambil dari film yang dibintangi Will Smith dan Jaden Smith.* 

Wednesday, September 7, 2011

blut ist dicker als wasser


Perihal keluarga, memangnya keluarga siapa yang sempurna? 

Di umur yang segini, mungkin sudah saatnya mikirin tentang keluarga. Bukan tentang berkeluarga, tapi tentang keluarga. Bukan tentang memiliki keluarga, tapi tentang keluarga. Di umur yang segini, pasti sudah tahu-menahu mengenai masalah keluarga, ditanyai pendapatnya, dapat tekanan dari keluarga, pokoknya segala macam tentang keluarga. Di umur yang segini, pasti sudah menimbang-nimbang tentang berkeluarga, mau keluarga yang seperti apa kelak. 

Kadang-kadang, mau nggak mau, suka tidak suka, pasti kepikiran. Dan pengalaman-pengalaman atau cerita-cerita tentang keluarga, yang jauh maupun yang dekat, pasti memengaruhi pendapat, pandangan, atau cita-cita ideal kita. 

Tentang keluarga inti, keluarga saya sudah kurang lengkap sejak saya masih sekolah dasar. Kami hanya berdua, saya dan ibu saya. Salah satu masalah saya dalam keluarga adalah karena saya kekurangan sumber masalah (baca: saudara kandung). Dari dulu, karena hanya berdua dengan ibu saya, saya sudah biasa mendengar masalah-masalah keluarga. Dan saya harus bersyukur, bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar yang mendera keluarga kami. Alhamduuuuuuuuuuuu.. lillah. 

Hubungan kami dekat. Saya cerita pada Ibu. Ibu cerita pada saya. Hampir tentang semuanya. Tapi di suatu titik, ada saja yang menjadi masalah. Memang seperti itu layaknya. Hubungan antara ibu dan anak perempuannya memang tidak pernah mulus kan? Masalah baju saja, bila mood keduanya ada yang sedang fragile, pasti bisa menjadi masalah besar. Tapi ya ujung-ujungnya baikan lagi. Memang mau ngapain lagi. Rumah sepi dong kalau kelamaan diam-diaman. Karena cuma berdua. Not to mention ada beberapa orang yang tinggal di satu lantai, tapi tidak sedarah. 

Selain keluarga inti, tentu masih ada keluarga-keluarga lainnya di sekitar saya. Keluarga ibu saya, keluarga almarhum ayah saya, keluarga bude saya, keluarga tante saya, keluarga om saya, keluarga sepupu saya, keluarga teman saya, keluarga orang yang saya kenal, dan masih banyak keluarga yang lain-lain. Semuanya, pasti punya masalah. Dari yang kecil, sedang, besar, hingga besar sekali. Dari yang sederhana, menengah, hingga rumit setengah mampus kayak sinetron yang nggak kelar-kelar. 

Saya pernah ada di suatu titik yang membuat saya marah besar karena keluarga dan menimbang-nimbang untuk lepas ikatan dari satu bagian keluarga saya. Setelah dipikir-pikir dan banyak sharing dengan teman dan, tentu, Ibu saya, saya jadi tambah mikir. Memangnya mau pilih keluarga yang seperti apa, memang bisa minta, memang bisa diwujudkan begitu saja? Memangnya bisa lepas ikatan begitu? Bagaimana pun blut ist dicker als wasser kan? Serenggang-renggangnya hubungan keluarga, tapi tetap saja namanya keluarga. Mau semarah apapun pada mereka, tetap saja saya ada butuhnya dengan mereka, setidaknya hingga beberapa waktu nanti. Ah, mau bagaimana? Hadapi saja karena memang harus dihadapi. Sulit dan memang sulit. 

Keluarga lain, yang saya pikir seru pun, pasti tidak lepas dari masalah. Kalau dalam Bahasa Srimulat, keluarga yang terbebas dari masalah adah hil yang mustahal. Nihil. Dicari sampai ke penjuru dunia pun nggak mungkin ketemu. Mau jadi keluarga Kerajaan Inggris yang popular itu? Masalah makin banyak. Mau jadi anaknya Mimi dan Pipi yang terlihat mesra? Terbukti ternyata bermasalah hingga cerai. Mau jadi keluarga Nixau? Tetep aja bermasalah karena sebuah botol. Atau mau jadi keluarga Paris Hilton? Masalah semakin segudang. Mau jadi keluarga Pak Harto yang kaya melintir tujuh turunan? Ah, tapi katanya hasil korupsi. 

Ah sudahlah. Tak ada batas jika kau terus cari. Jangan terus-terusan dicerca. Bukan, bukan karena mereka yang paling benar, paling mengerti kita, atau paling baik sedunia raya. Kritik memang tetap perlu. Tapi, pada akhirnya, mungkin cuma mereka yang bisa saya andalkan. 

Karena tetap harus bersyukur setidaknya punya keluarga. Kalau ada yang jahat, bersyukur saja karena ada yang tidak jahat. Kalau ada yang tidak baik, bersyukur saja karena ada yang baik. Kalau ada yang tidak perhatian, bersyukur saja karena ada yang perhatian. Kalau ada yang pelit, bersyukur saja karena ada yang tidak pelit. Kalau ada yang jelek, bersyukur saja karena ada yang tidak jelek. Kalau ada yang sering marah, bersyukur saja karena ada yang jarang marah. Kalau ada yang tidak suportif, bersyukur saja karena ada yang suportif. Kalau ada yang mengesalkan, bersyukur saja karena ada yang tidak mengesalkan. 

Lalu bagaimana keluarga inti yang akan saya bangun nanti ya? Selamat datang masalah. Rumit ataupun sederhana, ya bagaimana nantilah. (belum) habis perkara.

Family can annoy you. Smother you. Suffocate you until you feel like dying. But I’ll take it anytime. Death by love can’t be that bad. (@indraherlambang, 11 September 2010)

Cepu, le 7 Septembre 2011

Tuesday, July 19, 2011

Bli Balawan dan Gamelan Maestro Project


Sabtu (16/7) dan Minggu (17/7), acara bertajuk West Java World Music Festival digelar di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Selain diisi oleh pemusik lokal dan nasional, acara itu juga diisi oleh penampilan beberapa musisi luar negeri, semisal dari Malaysia, Burkina Faso, dan Jerman. Diantara mereka bahkan berkolaborasi langsung dengan musisi Indonesia. 

Satu dari sekian banyak musisi yang sangat ingin saya tonton di ajang itu adalah Balawan. Saya sering mendengarkan petikan gitarnya dalam beberapa lagu yang menenangkan. Belum lagi beberapa acara televisi pernah menayangkan kelihaiannya memetik –dan memencet- dawai gitar. Maka sejak dulu kala, saya penasaran ingin menonton langsung aksinya di atas panggung. 

Maka malam itu, minggu (17/7), saya minta ditemani oleh ibu untuk menonton Balawan yang dijadwalkan akan mentas di World Music Festival. Sekitar pukul 20.40, Balawan naik ke atas panggung dan langsung menunjukkan talentanya. Benar-benar The Magic Fingers, JAGO BANGET! Dan saya senang, karena ibu saya juga senang dan kagum atas penampilannya. Jadi tidak sia-sia mengajak ibu. Hehe. 

Balawan sedang membawakan lagu pertama. Itu yang nyempil dan berambut agak pirang adalah istrinya.


Malam itu, ia didampingi oleh Gamelan Maestro Project, yang mana juga sangat keren sekali. Aaaa. Gamelan yang dipakai adalah gamelan khas Bali, yang memang berbeda dengan gamelan dari Pulau Jawa yang "kurang berisik". Gamelan itu memberikan sentuhan-sentuhan ciamik pada petikan gitar Balawan. Jika di beberapa lagu, ia menampilkan suasana syahdu dan tenang. Maka di lagu-lagu lain, ia dan gamelan yang mengiringinya justru menampilkan suasana dinamis, berisik, namun tetapi enak didengar. Bahkan ada satu lagu, kalau tidak salah di lagu kelima, suasana yang tenang itu berpadu dengan ramai yang menghentak-hentak. Keren sekali. 

Balawan dan Gamelan Maestro Project

Di tengah pertunjukkan, Balawan juga mengajak sang istri, Ayu Kamaratih, untuk berduet. Bagus juga. Oh, satu hal lagi yang menambah indah pertunjukkan selama 45 menit itu adalah bulan purnama yang sedang terang-benderang. Entah kenapa, jika ada suatu hal yang indah terjadi dan ditambah dengan sinar bulan purnama, maka saya anggap hal itu berkali lipat indahnya. Hehe. EPIC!  

Menonton yang begini saja sudah bikin senang luar biasa. :)

Bandung, le 18 Juillet 2011

Saturday, July 16, 2011

Berbohong/Kuat?

Dia telah berulang kali jatuh. Dari dekat kau akan bisa lihat lengannya lebam. Pun dengan kaki jenjangnya yang kecokelatan. Ia juga punya codet yang tak hilang. Kali lain, Ia meringis, jemarinya pedih bukan buatan. Kemarin, aku bertemu dengannya. Ia mengaduh, otot perutnya seperti kram. Bahkan untuk menarik nafas pun, ia perlu bersabar.

Lelukanya tak segera sembuh walaupun diobati dengan berbagai obat. Ia sudah coba oleskan krim-krim supaya hilang bekas-bekas luka itu. Ia, dengan telaten, mengompres lukanya dengan air dingin. Tapi, ia berjodoh dengan luka itu. Karena, luka itu rupanya terus ada. Terus menganga. Bertambah perih pada waktu-waktu tertentu.

Aku tau, ia punya luka lain, yang lebih tidak bisa sembuh. Tapi ia sembunyikan luka itu dengan baik, dengan senyum, dengan tawa, dan ia bohongi semua orang. Tapi aku bisa lihat itu, dia luka.

***

Thursday, July 14, 2011

Ekonomi Kerbau Bingung Pancen Mbingungi

via (khatulistiwa.net)

“Mau apa lagi? Ini WC social. Terpaksa mendengarkan mulut usil itu biasa. Gara-gara buang air, suami bisa cemburu, kan sial ini namanya,” kata seorang wanita. ("Rasa Risi Risau Hilang Sama Sekali", halaman 48)

Ini adalah buku kelima dari Sindhunata yang saya baca, kalau tidak salah ingat. Setelah Anak Bajang Menggiring Angin, Air Kata-Kata, Burung-Burung di Bundaran HI, dan Waton Urip. Dari kelima buku dari Romo Sindhunata, yang paling saya suka tentu Waton Urip. Peringkat kedua ditempati oleh Anak Bajang Menggiring Angin dan buku ini, Ekonomi Kerbau Bingung. 

Seperti buku juga Burung-Burung di Bundaran HI, buku ini berisi kumpulan berita khas (feature) yang dibuat oleh Romo Sindhunata ketika ia masih menjadi wartawan Kompas. Beberapa ditulis berkolaborasi dengan wartawan lain. Buku ini diterbitkan pada 2006 silam, merupakan tipe buku yang sudah tidak ada di pasaran dan hanya bisa dijumpai di pameran-pameran yang diadakan oleh penerbitnya (baca: Penerbit Buku Kompas). Sampulnya yang tidak terlalu menarik, mungkin menjadikan buku ini dulu alpa dari penglihatan saya.

Meskipun diterbitkan lima tahun yang lalu, tapi kita tidak bisa menemukan cerita terkini di buku ini. Feature-feature yang terpilih untuk buku ini adalah feature berlatar 1980-an. Ketika Indonesia sedang merangkak membangun ekonominya. Ditulis dengan sudut pandang rakyat kecil yang sangat kecil. Beberapa kisah terasa terlalu pilu untuk terus dibaca. Namun di beberapa bagian, ada senyum tipis tersungging ketika membacanya. 

Di tengah suasana ekonomi yang berupaya moncer, Sindhunata memotret bagian-bagian yang tidak gemerlap, tapi gelap. Melalui 29 tulisan, kita diantarkan merasakan getir yang dirasakan oleh rakyat kecil yang berjuang menghadapi moderenisme, pembangunan, dan kapitalisme. Melalui buku ini pula kita bisa melihat betapa Indonesia yang sekarang adalah benar-benar warisan dari Indonesia yang dulu. Bahkan ketika reformasi belum bergaung. 

Meskipun berlangsung tiga puluh tahun yang lalu, rupanya cerita-cerita Sindhunata ini masih sangat relevan di saat sekarang. Melalui buku ini, kita tahu bahwa ketidakadilan pada Nenek Minah, yang dituding mencuri cocoa, adalah hanya satu dari beratus juta kasus serupa yang pernah terjadi. Bahwa jerat kemiskinan di Indonesia sudah begitu mengakar dan njelimet, sehingga seperti tidak mungkin untuk diurai dan diselesaikan.
Tidak ada yang berubah. Sama sekali. 

Ah, saya memang mudah larut dalam tulisan-tulisan yang getir, apalagi milik Sindhunata. Kata-katanya mengalir apik ketika menulis mengenai keadaan sosial. Mungkin latar belakang pendidikan filsafat dan teologi membuatnya mampu meramu fakta-fakta menjadi bahan pemikiran yang sederhana, namun lekat dan (mungkin) menyayat. 

“Makanya semuanya itu rezeki. Buka usaha yang gampang sekali pun tanpa rezeki ya bakal gagal. Maka kita harus mensyukuri rezeki kita, betapa pun rezeki  itu sedikit saja,“ kata Pak Jaelani. ("Pencak Silat, Politik, dan Kejujuran", halaman 123)

Bandung, le 14 Juillet 2011

Tuesday, April 12, 2011

Rasanya Seperti Lelah

Rentang asa masih tersaput jelas di pelupuk

Jejak rasa tidak mau hilang, masih ingin dipupuk

Ketika renjana alam tidak tertahan untuk merestui

Maka asa itu pupus, seringkali begitu

Walaupun doa menemani pun terucap lirih

Senandung rasa pernah jelas terungkap walau sesekali

Selanjutnya meragu karena awan kelabu kembali menyapa

Resah hati adalah kawan mesra

Detik masih berbunyi, sehingga yakin mungkin asa itu masih berkeliar

Kembali resah dan mencari celah asa

Lagi,lagi, dan terus bergitu

Hingga lelah dan tertidur bersama senyap

Sampai pada titik mana kau menyetujui dirimu sudah berusaha keras dan menyadari ternyata tidak ada yang kau ubah? Ketika kau merasa semuanya telah kau lakukan tapi tidak ada hasil yang sesuai keinginanmu? Bagaimana kau akan berdamai dengan dirimu dan sadar jika semua usahamu telah sia-sia? Kapan kau akan putuskan bahwa perjuangan sudah usai dan kau hanya akan duduk diam menekuri malam yang duduk diam? Mereguk teh dengan aroma mint yang menenangkan dan menahan napas untuk menahan bulir-bulir air tidak jatuh ke pipimu. Menghilangkan prasangka dari pikirmu dan menafikkan penyesalan dari segala hatimu. Menikmati detak jantung yang jadi menderu dan perasaan hati tak menentu. Ketika kau tidak bisa mengatur suhu tubuh dan nada bicaramu, hingga kau putuskan diam saja bergelung pucat pasi. Sampai kau sadar kau tidak kedinginan tapi sekujur tubuhmu bergetar.

Sampai mana batas lelahmu?


***

Jadi ceritanya ini adalah basian skripsi. Kayak orang minum alcohol kebanyakan, pasti harus ada yang dimuntahin toh? Haha. Kayaknya kalo ngerjain skripsi itu memang harus banget ada acara galau-galaunya gitu ya. Dan buat saya, inilah hasilnya. Hehe. Puisinya sudah dibuat bertahun-tahun yang lalu, tahun 2009. Sedangkan prosanya dibuat tahun ini, bulan ini, tapi bukan hari ini. Di tanggal 11 April lalu itu, saya sedang jangar bikin skripsi dan tau kalo ada kesalahan di bab 2. Amin banget deh itu. Dan voilaaaa… :D

Wednesday, July 28, 2010

Jadi Gimana?


Perbincangan bersama beberapa teman, yang mengeluhkan teman yang lain, adalah hal yang rutin dilakukan. Sudah menjadi kebiasaan, seperti itu rupanya. Bergunjing? Bisa dibilang begitu. Daripada disimpan saja dalam hati dan mengerak tak selesai. Lebih baik membaginya dengan teman-teman yang bisa mengerti. Tapi, ya pilih-pilih teman juga untuk bercerita. *anggapan yang keliru, tentunya. :p

Perbincangan mengenai beberapa orang tidak akan ada habisnya. Kadang pembicaraan itu mengenai kebaikan hati, tapi yang sering malah mengenai kekesalan tentang seseorang, yang seperti tak habis-habis. Beragam sifat dan cara pikir masing-masing orang, menjadikan acapkali ada perbenturan. Hingga terkadang bingung sendiri bagaimana sifat dan cara pikir si orang tersebut. Yang kadang, tak masuk di akal saya. Entah kapasitas otak saya yang terlalu kecil atau saya terlalu bebal untuk menerima perbedaan. Atau bisa jadi malah karena alasan yang terakhir, memang orang-orang itulah yang “aneh” dengan cara pandang yang “aneh”. Bolehkah membeli label demikian? Bung Johnny Depp yang aktingnya ciamik itu pernah bilang, “I am doing things that are true to me, the only thing u have a problem is being labeled.”

Ah, interpretasikan saja sendiri ya..

Jika mulut telah sampai berbusa membicarakan kelakuan yang aneh-aneh, tidak jarang malah menjadi beban pikiran. Mengapa demikian? Yang pertama karena memikirkan kenapa ada orang yang berpikir demikian dan memiliki polah demikian. Yang kedua, bagaimana jika polah tersebut merugikan orang lain dan merugikan orang lain? Yang ketiga, yang paling penting, adalah am I one of them? Ketiga hal tersebut memang tidak penting, bisa dibilang begitu. Fungsinya hanya satu, memacu otak supaya berpikir: berpikir tidak penting dan lama-lama malah menjadi beban pikiran. Hahaha. Aneh.

Selama ini, saya berusaha menjadi orang yang apa adanya. Walaupun pada suatu ketika saya dipaksa menjadi orang baik. Tapi toh paksaan itu, seringnya, berasal dari dalam diri saya. Jadi tidak masalah, saya kira. Jadi, saya tetap berupaya menjadi saya.

Nah, masalahnya adalah apakah perilaku-perilaku saya selama ini, ketika saya sedang menjadi saya, merugikan orang lain? Adakah mereka yang di belakang sana, yang tidak terlihar dan tidak tertangkap di radar mata saya, memperbincangkan laku saya, yang mungkin juga menurut mereka adalah hal yang aneh dan di luar batas kewajaran? Apakah mereka menjadikan saya objek yang demikian hingga mengisi pertemuan dan perbincangan mereka, misalnya in negative way. Oh God, memikirkan satu orang yang demikian saja terasa cukup membingungkan.

Tapi ya apa mau dikata, agak tidak mungkin kalau tidak ada satu orang pun yang membenci saya. Bencinya tidak sampai ke ubun-ubun memang, tapi cukup saja dia tidak menyukai polah saya, setitik pun. Tidak bisa juga kita memaksakan semua orang untuk menyukai semua tingkah polah saya. If you’re too blind to see what is wrong with me, maybe you’re deeply in love with me. Hahaha.

Oh, saya jadi ingat ketika masih SMA (baca: masih muda). Setiap hari ada giliran muhasabah. Jadi setiap hari kami diberi kertas kosong berukuran kecil. Setiap hari pula, diundi siapa yang akan kena giliran muhasabah. Kemudian di kertas kosong itu boleh ditulis apa yang disuka dan tidak disuka dari teman yang sedang kena giliran muhasabah. Memang sih, tidak disebutkan siapa yang sebal dengan siapa atau siapa suka dengan senyum manis siapa. Tapi, itu kan teman sekelas, mudah sekali dilacaknya. *tapi nggak penting juga dilacak. Yang penting, tahu apa yang negatif dan positif dari diri saya.* Itu menyenangkan, mengetahui respon orang-orang. Kadang senang karena dipuji, kadang gondok setengah mati karena banyak juga yang jawabannya asal. Atau merasa sedih dan berpikir tak henti jika ada yang bilang sebal. Saya pernah dapat, beberapa masih saya simpan.

Dengan segala kerendahan hati, saya minta maaf jika ada yang tidak suka pada tingkah polah saya selama ini. Dan berikanlah pencerahan, apa yang kamu tidak suka pada saya dan bagaimana saya harus mengurangi atau menghilangkannya? :D

Tulus loh saya bilang begitu. Tapi kalau boleh tetap munafik, supaya tetap terasa Indonesianya, saya mungkin juga punya standar ganda. Untuk beberapa orang, I know that you hate me and I let you to do that. Because, vice versa. I hate you too, darling. Hahaha. Maksudnya, bisa jadi saya benci apa yang kamu lakukan dan saya diam saja, kadang saya hanya harus berjarak dengan kamu. Seperti begitu.

Yang pasti dalam doa, saya selalu berucap bahwa saya tidak ingin menjadi The Hater. I want a be a lover, tapi masalahnya tidak selalu berhasil. Saya akui itu. Boleh juga saya sadari bahwa selama ini, selama saya apa adanya, selama saya baik, berusaha menjadi baik, ataupun buruk, I am not everybody’s sweetheart. If you get what I’m trying to say.

Yang penting sih, kalau saya suka dengan yang pasti-pasti. Kalau kata Coldplay, if you love me, won’t you let me know? So does with the hate. If you hate me, won’t you let me know? Fair enough kan?

So, what’s your decision about me? :D


image from: www.dreamstime.com

Wednesday, June 23, 2010

Minggu Pagi di Victoria Park


Banyak orang bertanya pada saya, apakah film “Minggu Pagi di Victoria Park” rame? Well, saya tidak bisa jawab film ini rame atau tidak. Rame sih karena para TKW itu berkumpul , berkerumun di Victoria Park. Oke, maaf kalo jayus. Begini maksudnya, film ini tidak rame, menurut saya. Tapi film ini bagus.

Tidak rame karena memang kita tidak akan menemukan adegan tembak-tembakan di film ini. Tidak ada pula alur yang begitu menegangkan dan membuat jantung berdegup kencang. Tapi film ini bagus. Jadi ya tipikal film Perancis mungkin, tidak rame tapi bagus. Tapi tentu saja masih mending film ini sih daripada film Perancis yang alurnya lambat macam siput itu.

***

Sekar sampai di Hongkong itu karena himpitan ekonomi keluarga. Ia ingin bahagiakan orang tuanya dengan materi berlimpah. Maka ia putuskan untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW). Setahun di Hongkong, ia bisa kirim uang pada keluarganya di Jawa Timur. Dari uang kiriman Sekar, bapaknya bisa memperbaiki rumah. Kini, rumahnya berdinding bata.

Setelah setahun itu, kontraknya habis dan putus. Sedangkan keluarga di rumah tetap butuh sokongan dana darinya. Maka, berbulan sudah ia bekerja serabutan di Hongkong. Menghutang ke kantor kredit dengan bunga tinggi. Tak ada lagi kabar sampai ke rumah orangtuanya di Jawa Timur.

Maka sang ayah, yang menganakemaskan sekar, mengutus sang kakak, Mayang, ke Hongkong. Mayang yang bekerja di perkebunan tebu tidak pernah mengangankan kerja di negeri orang hingga sang ayah memaksanya berlaku demikian. Sejak itu, kepedihan dan amarahnya tersimpan dalam hati.

Dari situlah konflik dimulai. Perjalanan Sekar mencari penghasilan demi hidup dan membayar utang. Dan perjalanan Mayang mencari adiknya, yang seakan lenyap dari pergaulan TKW di negeri tersebut. Perjalanan kedua orang ini berkelindan dengan kehidupan tenaga kerja-tenaga kerja Indonesia yang merantau di tempat yang sama. Dari sini, mata dan hati kita lalu melihat apa yang terjadi di pada mereka yang jauh dari keluarga.

***

Jika kamu pernah menonton "Pertaruhan (At Stake)" produksi Kalyana Shira Foundation yang diputar di bioskop pada 2008 silam, mungkin kamu sudah tidak terlalu kaget dengan apa yang ada di film arahan Lola Amaria ini. Di film ini, adegan percintaan dibiarkan bebas. Percintaan sesama jenis seperti bukan sesuatu yang tabu. Dari beberapa dialog, kita menjadi tahu bahwa standar berpacaran mereka bisa jadi berbeda dengan yang terjadi di Indonesia.

Atau, secara sederhana, penuturan-penuturan tokoh di film ini mengantarkan pada pengetahuan tertentu tentang apa yang terjadi sebenarnya pada TKW-TKW kita. Bagaimana rasanya menjadi miskin dan secara terpaksa untuk mengejar materi di negeri orang, yang sama sekali berbeda bahasa dan budaya. Bagaimana rasanya menjadi tulang punggung keluarga, ketika mereka yang ditulangi itu bisa jadi hanya ongkang-ongkang kaki di rumah dan menunggu kiriman dari negeri timur jauh itu.

Persoalan TKI, atau lebih spesifik lagi TKW, adalah persoalan yang entah kapan bisa selesai. Konflik sosial yang berantai ini tentu lebih penting dari kasus video persetubuhan artis-artis ternama itu. Lebih kurang sama pentingnya dengan kasus Anggodo dan Gayus Tambunan. Ataukah persoalan kemiskinan semacam ini bisa dipecahkan oleh dana aspirasi atau dana desa yang diusung Golkar?

Sebutan pahlawan devisa yang jamak dialamatkan pada mereka tentu saja indah didengar. Tapi nyatanya, mereka juga tidak terbantu apapun dengan julukan itu. Tetap saja mereka “dipalak” di teminal kepulangan mereka di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Ternyata masih saja ada mereka yang diperlakukan tidak wajar oleh majikannya. Atau bahkan dilecehkan oleh orang dari negara lain. Maka menjadi penting hal-hal yang dilakukan oleh Gandhi, seorang lelaki dari KBRI yang kerjaannya mengurusi TKI. Di film ini diperankan oleh Doni Damara. Maka menjadi penting bagi mereka untuk berkumpul di Victoria Park pada hari Minggu. Untuk sekedar tahu bahwa banyak orang yang merasa bernasib sama dan bisa bertahan untuk mencari dollar yang bisa sepuluh kali lipat dari penghasilan “pembantu” di Indonesia.

Satu lagi yang terpenting dari film ini, bagi saya, adalah kemampuannya mengingatkan kita bahwa orang yang hidupnya lebih tidak beruntung dibanding kita. You are less miserable than them. Tidak ada waktu untuk mengumpat keluargamu jika mereka masih mau menanggung apa yang kau minta. Bahkan mereka yang harus menanggung beban keluarga mereka. Ketika kita lupa bersyukur dan merasa hidup kita paling menderita sedunia raya, maka jangan lupa bahwa cerita-cerita tentang TKW yang menjadi PSK adalah benar adanya. Tidak dibuat-buat. Tekanan-tekanan yang dirasakan mereka yang merantau jauh itu nyata adanya, walaupun mungkin hanya bisu.

Jadi ayo skripsi. *tetep ujung-ujungnya skripsi.

***

Boleh applause buat Titi Sjuman untuk aktingnya menjadi Sekar. Untuk Lola Amaria yang menjadi Mayang. Boleh juga applause untuk kegantengan Vincent alias Donny Alamsjah. Dan doa selalu menyertai Yati, yang harus memilih bunuh diri karena tekanan-tekanan yang dirasanya. Untuk Sabrang Mowo Damar Panuluh yang bersedia memproduseri film macam ini.

Oh, iya.. bagi yang belum menonton, jangan harap mendapat visualisasi yang terlalu bagus ya. Pengambilan gambarnya sangat identik dengan film dokumenter. Nggak indah seperti film-film fiksi.

Oh iya, kenapa kalo film beginian nggak ditonton menteri ya? Kenapa Laskar Pelangi dan Tanah Air Beta yang ditonton menteri ya?

Sunday, May 30, 2010

Pleminary Concert

Just watched the Preliminary Concert “The Golden Sound of Musical Heritage: Bridging the Treasure of Legacy held by KPA 3 last night. They’re lucky, the concert can be held in Gedung Merdeka. Diadakannya konser Preliminary ini adalah tanda akan diselenggarakannya Expand the Sound of Angklung (ESA). ESA di tahun 2010 ini merupakan yang keempat kalinya setelah diadakannya program serupa pada 2002, 2004, dan 2008.

How was the concert?

Sebagai alumnus, saya sih bilang konsernya bagus. Hehehe. Agak narsis ya? Tapi memang bagus. Saya dibuat kagum oleh kemampuan mereka membawakan repertoire-repertoire klasik yang durasinya panjang banget. Dua lagu klasik yang saya suka di konser kali ini adalah Symphony no. 5 Op.67, 1st movement dan Radetzky March, Op.228.

Kami, alumni 24 yang menonton, agak tercengang dengan semakin banyaknya arransemen lagu-lagu klasik yang dibuat arranger-arranger KPA3. But that ‘s smart movement sih. Mengingat, kita memang mesti bereksperimen supaya nggak gitu-gitu aja. And, Ruhe or Heru, big applause for him. He’s 22 years old and can do that kind of magical works. Dan tentu saja, Djiwa Margono, si Djidjiew sang konduktor, yang selalu melakukan tugasnya dengan amat-sangat-keren-sekali. We’re your big fans. Hahaha.


DT ESA 2010 on stage

Kami, si alumni 24 yang sukanya senang-senang, agak bersyukur karena dulu masih banyak lagu-lagu hiburan. Kalau kami masuk di KPA yang sekarang pasti nampak bodohnya. Susah coy, lagu-lagunya. Hehehe.

Yep, balik lagi ke konser semalam. Seperti yang sudah saya bilang, konser semalam itu keren dan bagus. Kekurangannya hanya ada di durasi. Tidak seperti biasanya, konser kali ini memakan waktu hampir empat jam, dimulai pukul 19.40 dan berakhir sekitar 23.15. Biasanya konser hanya berlangsung 2,5 sampai tiga jam saja. Karena durasi yang terlalu lama itu, banyak penonton yang tidak menonton sampai akhir. Sayang banget melhat bangku-bangku kosong yang asalnya berisi. Padahal, di sesi akhir mereka juga menyajikan tontonan yang keren, dipadu dengan tarian-tarian dari berbagai daerah di Indonesia.

Satu hal lagi yang saya suka dari konser tadi malam adalah penampilan dari penyanyi tenor Indonesia, Christopher Abimanyu. Beliau nanyi dua lagu, The Prayer dan Li Biamo Ne Lieti Calici. Lagu yang pertama memang menjadi lagu kesukaan kami. Dibawakan beliau, lagu itu menjadi keren sekali. Di lagu pertama beliau duet dengan alumnus KPA3, Teh Evi. Macam Celine Dion saja suara dia itu. Dan di lagu kedua Christian berduet dengan Binu D. Sukaman, penyanyi soprano dari Batavia Madrigal Singer. Tidak usah diragukan lagi, keduanya menyanyikan Li Biamo dengan sangat ciamik. Berasa lagi nonton opera beneran. Hehehe. Cuma kurang choirnya sih.

Perjalanan sebulan di Eropa nggak akan pernah murah. Apalagi ini untuk 37 orang. We need extra money. Temen saya yang ikut dalam muhibah kebudayaan kali ini bilang, mereka butuh uang sekitar Rp 900 juta. Jadi, selain penampilan yang memukau, semalam juga diadakan pengumpulan dana. Rupanya beberapa sponsor besar belum cukup memenuhi kebutuhan dana yang menggila itu. Namun, sepertinya sih, pemerintah sudah mulai berbaik hati mau mengucurkan sedikit bantuan. Hehehe. (walaupun pasti agak susah. ;p)

Pengumpulan dana, selain dilakukan melalui amplop-amplop yang disediakan panitia, juga dilakukan dengan melelang lagu. Alhamdulillah, satu lagu terjual Rp 3 juta. Hanya dua lagu sih yang dilelang, tapi menurut saya, itu apresiasi dan kepedulian yang sangat besar. And, I desperately realize that I must earn much money to support their event. Jumlah dana yang terkumpul sekitar Rp 15 juta.

Jadi, buat yang baca blog ini dan ingin membantu ESA 2010, boleh loh, hubungi saja kpa3@angklung3.info Maaf ya jadi promosi di sini, karena saya tahu dan sangat sadar kalau mereka butuh publikasi untuk mendapatkan dana yang sangat besar. Jangan sampai mereka kelaparan di Eropa sana. Hehe.

Tahun ini, ESA 2010 akan mendatangi tiga negara untuk turut serta dalam festival berskala internasional. Yang pertama, International Festival Folkart Maribor di Slovenia. Selanjutnya, Summa Cum Laude International Youth Festival Vienna di Austria. Yang ketiga, International Folk Festival of Ciudad Real di Spanyol. Festival keempat juga diadakan di Spanyol, yaitu International Folk Festival of Extramadura di Badajoz. Selain turut serta di festival-festival berskala internasional tersebut, biasanya sih ESA 2010 juga melakukan konser-konser kecil di negara-negara yang mereka singgahi.

Semoga berhasil ya teman-teman ESA 2010 KPA ! Our pray always be with you. You do such a great, great, great job. :D

Let this br our pray, just like every child. Need to find a place, guide us with your grace. Give us faith so we’ll be safe. ( The Prayer – Celine Dion and Andrea Bocelli)


Bandung, Le 30 Mai 2010

Friday, May 28, 2010

Souvenir - Pengingat

Seorang teman, yang saya kenal di CCF, menikah sebulan lalu. Tepatnya 11 April 2010. Setelah petualangan yang kesana-kemari dan putus-sambung, akhirnya ia menikah dengan sahabatnya sejak SMP. Gembiranya terpancar, tersenyum sumringah yang sepertinya tidak dibuat-buat. Dengan kebahagiaannya, ia tidak tampak lelah. Padahal seperti tidak habis-habis undangan yang datang dan bersalaman dengannya. Kedua sahabat itu benar-benar menikmati pernikahan-persahabatan mereka.

Teman saya, sang mempelai wanita, wujudkan mimpinya, berada di pelaminan dengan gaun yang layaknya digunakan putri-putri di negeri dongeng. Berwarna lembut dan mengembang di bagian bawahnya. Seperti ada kurungan ayam sebagai rangkanya. Ia pernah bercerita, di kamarnya ada koleksi Barbie yang cukup lengkap. Tentu saja, dilengkapi rumah-rumahan dan printil-printil lainnya yang bernuansa Barbie.

Dan yang paling saya kagum dari pernikahan tadi adalah cenderamata pernikahan mereka. Mereka siapkan beribu benih pohon buah-buahan. Undangan bisa memilih buah apa yang mereka ingin. Pilihannya ada jeruk, mangga, rambutan, jambu, dan beberapa macam lagi. Saya pilih jambu untuk me-recall memori tentang pohon jambu yang ada di depan rumah masa kecil saya. Walaupun saya belum tahu pasti akan ditanam dimana bibit pohon itu. Tapi mereka sudah mengingatkan kami, para undangan, untuk berterima kasih pada bumi, dengan menanam pohon.

Berbagai hal bersimpangan di pikir saya. Jangan-jangan karena sang mempelai pria, kakak kelas saya semasa SMA, bekerja di Kalimantan. Jangan-jangan karena sang ayah mempelai wanita adalah wakil kepala Polda di Kalimantan? Hahahaha. Apa juga bisa jadi alasannya. Yang terpenting mereka ingatkan saya untuk berbuat baik di hari pernikahan saya nanti. Salah satunya dengan pemilihan souvenir yang diberikan pada para undangan.

Ada dua hal yang terlintas di kepala saya ketika memikirkan hal cenderamata ini. Yang pertama, tentu saja, bibit pohon. Seperti yang teman saya telah lakukan. Tapi mungkin saya harus menabung sangat banyak sejak sekarang. Mengingat kau tidak bisa beli bibit pohon hanya dengan Rp 5.000,00. Jikapun tidak pohon, Sansievera sepertinya masuk akal. Tapi sepertinya lebih mahal. Mari saja berdoa saya punya penghasilan yang cukup baik sehingga bisa beri souvenir idaman saya itu.

Selain tetumbuhan, pilihan lainnya adalah tas kain. Bisa dari kanvas atau kain apapun. Apa pula guna tas ini? Simple saja. Reducing plastic bag. Jadi pasti sudah bisa ditebak, saya inginkan banyak orang, terutama teman-teman saya, bawa tas itu kemana mereka pergi. Jika akan beli sesuatu, misalnya dalam jumlah yang melebihi kapasitas tangan, maka gunakan tas kain itu untuk bawa hasil belanja.

Tren Go Green? Sebenarnya tidak. Sudah sejak dulu, Eyang saya ajarkan untuk membawa keranjang belanjaan jika pergi ke pasar. Keranjang merah, biru, atau hijau yang seperti di Supermarket itu. Tapi jikapun itu tren, tentu tidak masalah. Sepanjang itu baik. Begitu bukan? Bukan begitu?

*Selamat menikah Rahma Charliyan dan Dery Partoni. Semoga berbahagia dan bijaksana menjalani hidup. Terima kasih atas pepohonnya. J


edited: Le 28 Mai 2010