Showing posts with label renjana. Show all posts
Showing posts with label renjana. Show all posts

Tuesday, November 4, 2014

Narasi Negatif

Kau tahu, kebencian itu bisa membunuh. Bahkan ketika kau tak menginginkannya: menginginkan kebencian itu ataupun mengingingkannya membunuh. Senyatanya, dia kerap tumbuh malu-malu, datang tanpa tak diundang, dan menyulut ke sana kemari dengan semena-mena.

Atau memang itu yang sesungguhnya diharapkan?

Ah, tapi siapa yang ingin diliputi benci? Toh, itu tak benar, ujar norma. Tidak boleh membenci, itu yang kau dengar sejak masih kecil, bukan? Tidak ada yang benar dan sehat dari kebencian, begitu kata si bijak. 

Lalu ketika kau membenci, apa yang akan kau lakukan? Membiarkannya bersarang dan berkelindan hingga mengakar? Atau berbalik membunuhnya perlahan? Tapi bukankah membunuh juga adalah hal yang jahat?

Betapa bencinya karena belajar untuk membenci. Demi suatu alasan yang egois: kewarasan diri. 

Bandung dan Jakarta, le Octobre et Novembre 2014.

Tuesday, October 14, 2014

Suara Sunyi

Siapa masih rutin buka Facebook? Saya! Setiap hari saya masih buka jejaring sosial yang satu itu, meski jarang banget posting –kecuali berbagi tautan, hehehe. Kemarin pas buka, saya lihat ada tautan blog milik senior di kampus (dulu). Beberapa kali memang saya mampir ke catatan pribadinya dan kemarin, di sela tenggat waktu yang bikin puyeng, saya kembali berkunjung. Satu catatannya yang teringat sampai sekarang adalah tentang suara jahat dan suara baik.

Belakangan ini, rasanya sulit sekali bikin hidup jadi positif. Jelaslah, karena ada berbagai alasan yang membuat semua hal negatif tak segera lelah berputar-putar di otak. Layaknya melodi musik, suara-suara jahat itu mengawang di otak bagian belakang. Bolak-balik saja, seperti nggak ada pekerjaan. Dan ia makin bergemuruh ketika ada satu orang lagi yang mengundurkan diri dari kantor, respon negatif, atau hal semacamnya. Dia, yang bergemuruh itu, rajin memanas-manasi saya untuk mundur juga dan menyerah karena lelah tak terkira. “Sudahlah, berhenti saja, apalagi yang kau perjuangkan?” begitu kurang lebih ujarnya. Dan butuh beberapa tarikan napas panjang untuk mengusirnya dan meyakinkan diri jika saya masih sanggup dan memang ingin mencapai destinasi yang ditetapkan sebelumnya. Itupun tak serta merta hilang. Jejaknya masih saja ada dan kerap bertambah dalam di waktu-waktu tertentu.

Lalu, suara-suara baik pun tak kalah ramai ingin ikut serta. Dia datang untuk membantu menyeimbangkan –atau melawan- suara negatif yang sudah hadir duluan. Suara itu hasil sinergi dari logika, rasa nyaman, dan semangat dari dunia luar. “Coba bertahan sedikit lagi. Hingga sampai di garis akhir yang kau damba,” sahutnya ketika suara jahat mulai muncul. Seringnya, suara baik yang menang dan saya kembali bangkit dengan sikap siaga. Seperti Usain Bolt sebelum bertolak mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari di lintasan.

Hingga kini, pergulatan batin –dan suara- itu tak pernah luruh sepenuhnya.

Jakarta, le 12 Septembre 2014 et 14 Octobre 2014

Saturday, June 14, 2014

Pola Pikir






Kemarin, seorang teman mengunggah satu foto yang berisi kutipan. Jangan khawatir, begitu lebih kurang isinya. Tak perlulah habiskan berjam-jam untuk memikirkan sesuatu yang memang tak bakal ditemukan jawabannya di masa ini. 

Tapi itu adalah pilihan. And I’m not a decision maker. Pilihan-pilihan mudah pun bisa jadi sulit untuk saya yang (sudah tertular) otak ruwet. Pilih kaus biru atau hitam? Singapura atau Thailand untuk perjalanan selanjutnya? Lebih bagus sepatu maroon atau krem? Pakai kemeja atau kaus ke kantor? Lalu apa padanannya, rok atau celana? Celana kain atau jeans? Bungee jumping atau tidak? Pulang ke Bandung minggu ini atau minggu depan? Bicara dengannya atau tidak? Telepon narasumber sore ini atau besok pagi? Makan siang soto atau pecel? Beli laptop atau harddisk eksternal dulu? Dan daftarnya masih terus bertambah. Panjang. Sangat panjang. 

Hidup memang penuh dengan pilihan. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan hingga bertahun-tahun selanjutnya. Bagi sebagian orang, memilih adalah bernapas. Mudah, tak perlu dipikirkan. Sebut saja! Sedangkan bagi saya, pilihan adalah serupa soal Fisika dalam SPMB. Sulit. Nyaris tak terpecahkan. Pikiran sudah berjalan bahkan sejak pilihan itu masih samar. Plus, memikirkan akibat-akibatnya atau apa yang mungkin terjadi setelah itu. Padahal seringnya, keputusan itu hanya dibuat sedetik. Tanpa pemikiran yang sebelumnya sudah mengular dan berhimpitan di kepala. Dan tak berakibat fatal sama sekali. Ironis. Atau oksimoron. 

Memilih, atau proses menentukan pilihan, itu terlalu menggelitik untuk ditimbang baik dan buruknya, positif dan negatifnya, atau benar tidaknya. Pelik, bagi saya. 

Misalnya saja tentang masa depan. Kekhawatiran atas hal yang tak pasti menghadapkan kita pada dua pilihan: jalani saja apa adanya tanpa banyak berpikir atau pikirkan matang-matang agar jelas pijakan serta arahnya. Yang pertama menggoda untuk dilakoni. Tapi yang kedua juga jelas bukan tindakan bodoh.

Yang mana yang harus ditempuh?

Bandung, le 14 Juin 2014

Friday, January 10, 2014

Kilas 2013

Just go!

Kata apa yang pantas disematkan pada 2013 yang telah berlalu? Sayangnya, kamus bahasa saya tak menemukan kata yang pas. Tapi seperti layaknya momen, ada saja naik dan turun, bahagia dan sedih, panas dan dingin, marah dan tawa, dan rasa-rasa lainnya. Tapi, jika ditelusuri dan diingat-ingat lagi, sepertinya lebih banyak saya rasa bingung. Harus banget ditulis? Harus ah!


Banyak hal -terlalu banyak- yang terjadi di tahun itu dan itu cukup menguras emosi serta pikiran. Tahun kemarin, apalagi di akhir tahun, sepertinya jadi “ujian” untuk lebih dewasa (?). Hahaha. Atau bisa juga sebagai peringatan untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Sayangnya, hal itu tetap tak saya lakukan. Saya lebih memilih untuk tetap bingung, memikirkan dan merasakannya setengah-setengah, berkelahi dengan diri sendiri, tanpa keputusan apa-apa, tanpa tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Oke, ini adalah masalah hubungan personal. Hahaha, ternyata ada bakat curcol.

Lalu, ada apa dengan pekerjaan? Makin nggak jelas juga. Antara gitu-gitu aja atau makin parah. Yang pasti sih karena kurang konsentrasi. Kenapa? Nggak tahu juga, mungkin sih karena poin pertama itu. Jadi, kalau boleh menilai diri sendiri dan ada rapornya, nilainya pasti merah meski saya tetap berusaha untuk lakukan sebaik yang saya bisa. Padahal, satu-satunya komitmen saya hanya untuk hal ini. Hahaha. Ya sudahlah.

Tahun lalu, saya menjadi pembenci, sangat negatif. Sumpah serapah pada pekerjaan, merusak relasi antarpersonal, membelenggu pertemanan, dan bahkan, membenci dan menenggelamkan diri sendiri. Gawat-segawat-gawatnya. Tapi menjadi positif itu pilihan ‘kan? Di sela rasa yang tak karuan itu, saya berupaya keras untuk tetap “hidup”. Setidaknya ketika bersama teman-teman yang sudah selalu baik. Bersyukur sekali atas kehadiran mereka-mereka itu. :)

Ah, mungkin cuma kurang vakansi.

Selalu saja ada yang seru di setiap tahun. Selain hal-hal negatif di atas, untungnya masih ada yang menyenangkan di tahun lalu. Teman yang masih bisa diajak bercerita, kebahagiaan mereka, kejadian tak terduga, outing kantor, dan liburan (sembari kerja) menjelang ulang tahun. Setidaknya masih ada yang bikin ma vie en rose. Hamdallah!


Dan mantra di awal tahun tak bakal pernah berubah: tahun ini pasti akan lebih menyenangkan dari tahun lalu. Haqqul yakin!


Jakarta, le 10 Janvier 2014

Monday, November 18, 2013

Bias Batas


Kabut tak segera terbilas
Meski hujan turun dengan lekas
Yang ada malah dingin yang makin beringas
Ditambah langkah yang malas
Pijakan yang tak jelas
Plus wajah yang kian melas
Tapi masih saja ada yang harus dibahas.


Dan di mana batas?
Atau memang selalu tak jelas?



Bagi Curtis (Chris Evans) dalam Snowpiercer, batas itu dikikis sedikit-sedikit selama 18 tahun. Dalam kurun waktu itu, ia merencanakan pemberontakan atas ketidakadilan yang diterima oleh orang-orang bagian ekor dari kereta superkuat itu. Pada saatnya, ia nekat menerjang para tentara Wilford Industry dan akhirnya membuktikan sendiri kalau senjata-senjata yang dipergunakan untuk menakuti mereka selama ini ternyata tak berpeluru. Dan demikian kisah dimulai. Segalanya berlanjut dan berakhir dengan plot yang ia sendiri tak mengerti. Tapi jelas ada yang berubah setelah batas diterabas.

Walter White (Bryan Cranston) dalam Breaking Bad pun hampir serupa. Dengan kanker yang menggerogoti dirinya, ia tahu harus binasakan batas apapun. Demi keluarganya, demi dirinya. Ia singkirkan sekat antara legal dan ilegal. Antara baik dan buruk. Antara pahala dan dosa. Antara sehat dan sakit. Antara rasa dan logika. Ia meleburkan semuanya meski tak selalu berhasil baik. Hidupnya terguncang dalam hening yang disimpannya sendiri. Dan jelas ada yang berubah setelah batas dilibas.

Jakarta, le 18 Novembre 2013


Friday, May 10, 2013

Soal Sigur Rós di Singapura


Dalam rangka nggak jadi nonton Sigur Rós di Indonesia, maka saya putuskan untuk menyelesaikan tulisan yang nggak pernah kelar sejak enam bulan lalu ini. Sedikit banyak, inilah ceritanya.
  
Setelah segelas bir (mahal) habis, akhirnya mereka muncul juga di panggung. Layar mulai ramai dengan video dan bebunyian dari alat musik gesek bersahutan dengan denting glockenspiel. Teriakan “Cang ci men, cang ci men!” ala bis di Indonesia dan “Please sit down!” pun berganti dengan Icelandic dan Hopelandic dari Jónsi. Seketika kekecewaan nggak jadi foto bersama si vokalis (padahal udah sebelah-sebelahan) pun terobati. Perjalanan resmi dimulai!

Seperti biasanya ketika saya mendengarkan musik-musik Sigur Rós, kali ini mereka juga bawa efek yang sama. Bulu kuduk meremang dan bukannya hilang dan tenang, pikiran makin melantur tak karuan dan berdatangan minta penyelesaian. Di beberapa lagu, efeknya berkali lipat. Bikin pengen nangis dan peluk semua orang yang datang di situ. Hahaha. Duh, lebay ya? Nggak sih. Karena memang itu yang benar-benar saya rasakan ketika menonton mereka dari jarak dekat. Coba kalau punya sayap, kayaknya saya sudah melayang-layang di langit sambil nonton konser ini. Luar biasa. Satu hal dalam bucket list akhirnya bisa saya coret.

Setelah dibuka dengan “Í Gær”, konser malam itu dilanjutkan dengan “Vaka” yang bikin gelisah. Lagu ketiga, “Glósóli”, pun makin megah berkat gesekan (iya, digesek) gitar Jónsi dan hentakan drum Orri yang penuh energi. Keren bangettttt! Dan selanjutnya, hampir tanpa jeda, mereka membawakan “Svefn-g-englar” dari album Ágætis byrjun, “Sæglópur” yang intronya enak banget, dan “Fljótavik”, salah satu lagu kesayangan saya. Uyeah! Selama konser, kami sudah nggak bisa komentar apa-apa lagi, cuma bisa bengong, takjub, dan sesekali teriak-teriak “Oh My God” atau “Oh, Tuhan!”. Benar-benar membius! Apalagi Jónsi benar-benar nggak ngomong sepatah kata pun di pergantian lagu. Mereka nggak ngasih kesempatan untuk sebentar saja ke menapak ke tanah, sebaliknya malah terus-terusan menghujani kami dengan lagu-lagu indah itu. Semacamnya mereka pengen bilang, “Nih, rasain! Let your vein and spine absorb it all.”


Lumayan enak posisi nontonnya. :D

KLB: Konser Luar Biasa!

Akhirnya, di tengah-tengah intro yang sangat lekat di telinga, si mas vokalis baru deh bilang terima kasih pada penonton yang sudah datang. Lalu mengalunlah “Hoppippolla” yang diiringi teriakan penonton pas Hoppippolla-nya doang dan seperti biasa, disambung dengan “Með “Blóðnasir. Pas dua lagu ini, grafis yang ditayangkan di backdrop-nya bagus banget! Apalagi pas bagian Jónsi ngajak penonton nyanyi. Super! Lanjut lagi, mereka bawakan “Olsen Olsen” yang diiringi suara oboe yang menenangkan. Makinlah kami membayangkan nonton mereka di Islandia sana, macamnya di Heima itu. Ketenangan pecah ketika “Festival” memasuki bagian refrain. Bising banget, tapi bising yang merdu! Halah. Setelah berasyik-masyuk di masa lalu, inilah saatnya mereka bawakan lagu-lagu dari album Valtari. Yang dibawakan pertama adalah “Varúð” yang diiringi gerimis manis. Setelah penutup yang heboh, Jonsi bilang terima kasih lagi sambil memperkenalkan lagu terakhir. Lagu ini adalah lagu terbaru mereka dari album yang akan datang, “Brennisteinn” dari Kveikur.

Meski Sigur Rós telah mencukupkan konser itu tapi penonton bilang belum cukup dong pastinya. Masih pengen pada orgasm dan eargasm kayaknya. Maka diberilah kami dua lagu lagi: “Ekki Múkk” yang disajikan lengkap dengan video klipnya dan Untitled 8 atau “Popplagið”. Dan di dua lagu terakhir itulah hujan turun. Bukan gerimis manis, tapi hujan lumayan deras  dan makin deras yang bikin semua penonton malah teriak dan tepuk tangan kegirangan. MAGICAL!

Meski kuyup tapi semua pulang dengan keadaan berbahagia. Ada beberapa lagu kesukaan yang nggak dibawakan sih, macamnya “All Alright”. Tapi udahlah, memang nggak bisa protes apapun karena konsernya menyenangkan sekali. Brass dan string section-nya juga bagus! Bikin pertunjukan makin megah, nyesss, dan ramai.

Jarang inget maksud atau arti lagunya sih, tapi tetap saja mampu bikin suara tercekat, pikiran ngalor-ngidul-sekaligus-kosong, mata merem melek biar air mata yang jatuh nggak terlalu banyak, deg-degan, menggigil karena keujanan, semuanya campur aduk. Sampai sekarang, masih suka girang dan merinding sendiri kalau ingat konser itu. Soalnya belum nonton Coldplay. Hahaha.

Konser November 2012 di Fort Canning Park itu pun berasa seperti di Indonesia, dengan cuaca yang adem dan yang datang pun mungkin tujuh puluh persennya adalah orang Indonesia. Hahaha. Jadi, kalau ada yang mau nonton hari ini di Tennis Indoor Senayan, silakan menikmati sepenuh hati!


Fotonya diambil dari sini. (1) Sebelum konser mulai. (2) Hujan di pengujung. (3) Takk!


Takk, Sigur Rós!

*Fotonya hanya pakai kamera ponsel yang seadanya karena kami nggak ada yang bawa kamera beneran. :p




Jakarta, le 10 Mai 2013

Friday, April 26, 2013

Ingat Interior


(Nggak terasa) Sudah setahun ini, saya menyambangi beberapa toko furnitur untuk foto barang-barangnya dan kemudian dipajang di majalah tempat saya bekerja. Instruksinya mudah saja: cari tema, pilih-pilih barang yang akan difoto, bikin surat, dan jreng.. lalu foto di tempat yang bersangkutan. Iya, memang sesederhana itu kedengarannya tapi kenyataannya, lumayan. Hehehe.

Permasalahan yang paling sering ditemui adalah tentang ketersediaan dan variasi, apalagi saya butuh lebih dari 15 barang dengan tema yang sama. Berapa banyak sih toko furnitur di Jakarta Raya ini? Banyak, of course. Tapi jenis barangnya hampir mirip, kurang bervariasi. Misalnya, sekarang sedang musim barang-barang dari kayu, semua toko yang saya datangi pasti memajang benda yang sama atau hampir serupa dengan tema kayu. Kalau lihat contoh artikel dari Jerman, kok kayaknya enak ya di sana, banyak benda unik dengan warna-warna segar. Tapi untungnya, walaupun mepet atau lewat tenggat (ups!), furnitur atau dekorasi itu selalu terkumpul. Ayo, semua bilang "Amin" dan "Alhamdulillah"!

Tentang itu, saya pernah ngobrol dengan seorang creative director dari toko interior ternama di Senayan City, Jakarta. Dia bilang, memang orang Indonesia kurang suka bermain warna di hunian mereka. Yang lebih dipilih adalah warna-warna netral, seperti putih, perak, krem, bernuansa kayu, dan sejenisnya. Warna-warna gonjreng, seperti merah, hijau, kuning, dan lainnya kurang diminati. Mungkin takut salah padu padan warna atau memang simply nggak suka warna-warna terang yang kadang cuma jadi tren musiman. Jadi, main aman saja. Kalaupun ada yang suka, pilihan jatuh ke printilan atau aksesori, seperti pajangan, jam dinding, atau bantal.

Jadi, untuk memenuhi kebutuhan artikel tentang home & living itu, saya sering jalan-jalan ke Kemang atau ke beberapa wilayah lainnya, jalan kaki menyusuri jalanan sempit yang jarang ada trotoarnya, dan masuk ke beberapa toko penjualan furnitur dan teman-temannya. Dan ajaibnya, meski terkadang agak susah nyarinya dan agak ribet angkutan umumnya, tapi selalu nemu tempat yang bikin ingin nangis terharu karena berjasa dalam penyelesaian artikel saya. Beberapa mungkin akan di-posting di sini. Yeay! *bohong pasti. :p*


Salah satu tempat favorit


Berkunjung ke tempat-tempat seperti itu, awalnya memang terasa seperti kewajiban dan hanya demi kebutuhan artikel. Tapi lama-kelamaan, dhuaaar, saya seperti diingatkan lagi keinginan di masa lalu: jadi desainer interior atau arsitek. Hahahahiks. Jadi punya kebutuhan untuk berkunjung ke toko interior atau furnitur dan betah banget sampai malas pulang. Haha. Inginnya kayak Summer dan Tom yang keliling IKEA dan tidur-tiduran di kasurnya. :p

Untungnya di sini belum ada IKEA dan tugas saya nggak seribet tugas desainer interior. Horray!

Jakarta, le 26 Avril 2013


Friday, April 12, 2013

Kering Kerontang

Tadi sedang browsing dan menemukan penginapan lucu dan nyaman, sepertinya. Lokasinya di Bayah dan dinamakan Roemah Pulomanuk. Lalu bersama teman sebelah, saya berandai-andai untuk punya rumah atau penginapan yang sejenis itu. Membayangkan punya properti di sisi pantai dengan sentuhan shabby tapi tetap chic (ya, bilang shabby chic aja kali, Di.). Bahas sedikit tentang cara pembuatan furnitur macam itu dan pilah-pilih lahan yang pas serasa punya uang Rp5 miliar di rekening bank. Haha. Ah, tapi memang bermimpi itu mudah dan gratis, 'kan? Sah, dong!

Tak lama, pembicaraan mengalir ke Pangumbahan dan sekitarnya, saya lalu bertanya perihal nama penginapan di "pintu masuk" Pangumbahan. Sudah lama ingin ingat namanya, tak ada yang beri jawaban memuaskan, tapi juga tak punya waktu (dan uang) untuk pergi sesegera mungkin ke sana. Haha. Kalau ada yang tahu, boleh beri tahu, ya. Dan lalu, ingat tentang kuliah kerja nyata (KKN) pada pertengahan 2008 silam karena kebetulan saya dapat lokasi di Sukabumi Selatan, tak jauh dari Pangumbahan itu. Tiba-tiba teringat tentang sawah brownies karena masa itu sedang kemarau. Kering. Kayak kulit yang tak pakai lotion setelah dua bulan berjemur di bawah sinar matahari .

Nah macam itulah sawah brownies-nya


Dua bulan yang cukup menyenangkan jika yang diingat hanya pantai-pantai di sekitarnya saja. Selebihnya, tak usah diingat. Haha. Anyway, i know that you don't wanna see my face. So, i edited the photo. :p

What's the point of this post? Nggak ada sih. Cuma tiba-tiba teringat yang tak mau diingat saja. Heu.

Jakarta, le 12 Avril 2013


Tuesday, February 5, 2013

Tentang Takut


taken from here



"I'm afraid," she admitted, baring what he had known but waiting for her to say.
"How strong you are to reveal that," he praised, "and how lucky i am to be the man you share your fears with."

(Isabel and Gerard in The Stranger I Married by Sylvia Day p.276) 


Lagi lihat-lihat buku di Kinokuniya, menemukan buku ini di bagian "Fiction Highlights", cari resensinya di Goodreads, dan unduh versi gratisnya. Buku apa sih? Ini buku macam 50 Shades of Grey tapi tanpa BSDM dan versi lebih tua. Dirilis pertama kali tahun 2007 dan diterbitkan ulang tahun 2012 dengan sampul baru yang lebih beradab. Haha. Mungkin E. L. James terinspirasi dari buku Sylvia Day ini dan sebaliknya, mungkin peluncuran kembali novel ini terinspirasi dari lakunya 50 Shades. Tapi saya memang tak bakal menilai isinya tapi hanya ingin berbagi nukilan di atas (dan masih ada beberapa nukilan yang bagus sebenarnya). 

Membuka diri pada orang lain itu begitu sulitnya, 'kan? Mengingat pasti ada benteng yang dibangun sendiri agar tak mudah dimasuki orang lain yang tak diperkenankan atau tak dipercaya. Maka mengakui bahwa ada rasa takut bersemayam di dalam diri adalah suatu prestasi besar. Membiarkan orang lain tahu jika ada saatnya kita berada di palung terdalam, hampir putus asa, dan butuh bantuan orang lain. Membuka diri supaya orang lain bisa melihat kita di titik terendah, dipenuhi rasa takut, dan bukan di kala kita sedang berada di posisi yang cukup sehat seperti biasanya mereka saksikan. Butuh kerendahan hati untuk mengakui itu semua pada orang-orang tertentu, orang-orang yang terpilih, dan yang terseleksi secara sadar. Butuh ke-legowo-an, semacam itulah. Butuh persiapan matang dan meluruhkan gengsi, bisa dibilang. Ada upaya lebih yang harus dilakukan, maka benarlah perkataan Gerard pada Isabel, "Betapa kuatnya kamu dapat mengakui jika kamu lemah."

Jakarta, 5 Februari 2013


Sunday, January 6, 2013

Kolase Fase


Where do we go nobody knows?
Don't ever say you're on your way down... 
When God gave you style and gave you grace
And put a smile upon your face

So, here we are. Belum jadi kiamat di akhir 2012 lalu, jadi sekarang masih bisa menjalani 2013. Apa kabar 2012 lalu? Bukan karena belum bisa move on sih, tapi merasa harus menulis saja apa yang saya ingat terjadi di tahun itu. Mengapa baru sekarang? Karena harus diendapkan dulu dan habis baca buku yang bikin… yagitudeh.

Mungkin nggak terlalu banyak yang bisa disarikan dari tahun ini, apalagi karena sudah bukan pengangguran dan sebagian besar waktu tentu buat pekerjaan (Sigh. Itu harus diperbaiki!). Jadi “kuli” yang menghamba pada akhir pekan. Hehe. Tapi justru pekerjaan itu jadi hal yang harus diingat dari tahun ini. Bekerja di balik layar penerbitan majalah gaya hidup perempuan, bertemu dengan berbagai orang baru, wawancara ini itu, foto ina inu, dan sebagai-sebagainya. Di tengah penat, untungnya masih ada gerombolan orang yang bisa diajak cerita-cerita ngalor-ngidul ngetan-ngulon. Meminjam bahasa teman saya, they are here to keep us sane. Amin. Semoga memang tak putus supaya tetap waras di Jakarta Raya yang katanya nggak sehat ini. Kedatangan mereka di suatu tempat makan sambil bawa tiramisu dengan lilin angka 25 itu juga bikin terharu. Berhasil menonton tiga dari sekian banyak konser yang diidam-idamkan. YEAH! Feist dan BigBang di Indonesia, serta Sigur Ros di Singapura. Perjalanan ke berbagai kota dalam dua bulan untuk kesenangan dan untuk pekerjaan serta, tentu saja, perjalanan singkat bolak-balik Jakarta-Bandung yang selalu berhasil bikin risau. Haha.

Kemarin itu, beberapa teman saya bilang, mereka tak suka tahun lalu, terlalu menyesakkan dan tak menyenangkan. Bagi saya? Lumayan (tetep labil. Haha). Segala ego yang naik turun selama dua belas bulan, ketidakpastian, kepastian, kesendirian, keramaian, adu pendapat, dendam, tawa, senyum, sedih, jengah, ndredeg, mbrebes mili, dan yang lain-lainnya. Semuanya lengkap. Lengkap. Lengkap. Kalau disimpulkan, sepertinya tahun ini, bagi saya, lebih emosional dari tahun 2011 silam. Banyak hal yang bikin gila dan stres tapi juga banyak hal yang membuat tertawa dan bahagia tak habis-habis. Segala puji bagi Tuhan dan semua orang di sekitar saya yang datangkan bahagia. Yang nggak datangkan bahagia, ya, semoga bahagia tetap mau bersama kalian.

2013 menjelang dan saya menghabiskan malam pergantian tahun tanpa rencana matang, tapi untungnya masih bersama teman-teman baik. Ditemani ibu-ibu dan bapak-bapak di kafe sebelah yang menyanyi dengan nada yang tak pas dan menyaksikan kembang api dari dataran tinggi itu sudah bisa bikin senang. Di satu shoot tequila itu kami mengucap harap tentang 2013, mungkin hanya diri masing-masing dan Tuhan yang tahu detilnya. Tapi semoga berjalan baik dan semua rencana terpenuhi. Termasuk semua rencana jalan-jalan dan nonton konser yang selalu mengusik pikiran dan… kantong. 

Kalau saya kurang kuat dan seperti akan menyerah menjalani tahun ini, tolong dibantu. Hehe. J

Jakarta, le 7 Janvier 2013

Monday, November 5, 2012

Selamat Semangat!


Ingin tidak ingin, ternyata deret umur ini mesti bertambah. Sempat deg-degan karena kini sudah seperempat abad tapi belum punya pencapaian apa-apa yang bisa dibanggakan (curhatnya sudah dan akan dilakukan di posting lain. Hehe.). Untungnya, masih pula punya mimpi ini itu yang bisa bikin hari tak terlalu sia-sia untuk dijalani (boong tapi. :p)

Sudah hampir dua minggu setelah pergantian hari itu. Dan masih tidak menyangka jika para kawan baik akan menyempatkan waktu untuk hadir, membawakan kudapan manis, dan mengamini semua keinginan yang belum tercapai. Terima kasih telah mengingatkan bahwa masih ada hari bahagia di sela lelah yang menumpuk, penat yang mendera, dan ragu yang menyerang. Semoga semuanya akan selalu baik-baik saja. Semoga semuanya akan bertambah baik. Semoga semua kekhawatiran yang mendera akan terkikis lalu sirna dengan hadirnya kebijaksanaan. Semoga semesta berkati hidup saya, harapan saya, dan harapan kalian pada saya. Semoga.

Hoorraaah!


I won’t forget the night. I love you till death, fellas. Thank you for being there when I need you the most. Thank you for the candle light even if I’ve tried to remain the day as the usual day. Thank you for everything. Thank you. *bowing*.

*TEEET, mengulang kata "thank you".*


Jakarta, le 5 Novembre 2012

Monday, October 1, 2012

Rumus Risau


Sejatinya apa yang kau sebut sebagai pencapaian? Or achievement, you may say. Nama yang muncul di majalah, sebagai penulis? Foto terpampang di majalah sebagai narasumber? Pergi keluar negeri sendirian dan berkelana ke sana kemari tanpa takut kehabisan uang? Atau menjelajahi berbagai perpustakaan di Britania Raya untuk mengumpulkan bahan untuk penelitian? Atau bisa bayar cicilan mobil dan apartemen sendiri? Atau sesederhana ini: nggak minta uang tambahan dari orangtua di akhir bulan?

Dan yang mana yang telah saya capai? Apakah benar-benar itu yang saya inginkan untuk mengisi hari-hari yang kian terasa membosankan ini? Seorang teman pernah berkata, "Gue jelas tahu apa yang gue nggak suka tapi apa yang gue suka? Itu masih jadi pertanyaan besar." Nah!

Apakah memang serumit itu memutuskan dan mengklasifikasi apa saja yang disuka, dimau, nggak disuka, dan nggak dimau oleh diri ini? Yang sesungguhnya ia punya otak dan hati untuk memilihnya. Atau keduanya tak bisa memilih karena tak terbiasa memilih? Atau memang tak ada pilihan karena ia sudah beku dan jadi robot? Oh, ataukah tak ada yang harus dipilih dan diputuskan karena ia harus mengalir saja seperti air sungai dari puncak pegunungan ke hilir yang bermuara ke laut lepas? Apakah dengan begitu kau hanya akan menjadi orang yang tak berpendirian dan tak punya masa depan?Apakah itu berarti saya tak punya ambisi?

Bagi saya, yang tak jelas betul maunya apa dan tak tahu benar apa yang disukai, merumuskan hal seperti ini adalah mustahil. Tapi jika melihat orang lain yang begitu dan begini serta dapat ini dan dapat itu, jujur saja, perasaan iri itu begitu membuncah di dada, bikin sesak, dan ingin segera seperti mereka. Tapi saya sadar saja kalau itu hanya perasaan sesaat yang hanya bikin susah hati. Lima menit kemudian sudah lupa. Namun beberapa saat kemudian, biasanya sepulang dari kantor, dengan raga dan jiwa yang terasa lelah, saya jadi terpancing untuk punya pegangan. Setidaknya saya harus tahu, apa yang akan dihasilkan oleh batin dan jasmani yang lelah itu? Saya pun seharusnya tahu, pencapaian macam apa yang bikin saya bahagia luar dalam. 

Jadi, apakah itu? Belum tahu.

Udah ngomel-ngomel, tetap saja tak ada simpulannya. Pointless. Hahaha. Mari menertawakan diri sendiri.

Saturday, January 14, 2012

Selamat Pagi!

Baiklah akan saya beri satu rahasia: mengisi blog dengan lirik lagu adalah salah satu cara termudah untuk tetap menulis. Hehe. Call me shallow, but yes, it's easier than to write about my feeling or what's happening around me. Lagipula, kedua hal itu pasti bisa diwakili oleh lagu-lagu yang didengarkan. Itu kata penelitian, lho. :) #pembenaran

Maka, saya akan berbagi lirik lagu lagi hari ini. Lagu lama juga sih, kayaknya. Tapi mohon maaf, saya baru dengar dan langsung suka. Baru tahu tentang grup musik ini ketika disebut di MBM Tempo, sebagai salah satu nomine Album Terbaik 2011. Pas dengar beberapa lagunya, emang bagus sih. Yah, jauhlah kalau dibandingkan dengan lagu-lagu dari boyband atau girlband Indonesia yang dibuat asal-asalan.

Lagu yang saya pos liriknya ini adalah lagu dari album pertama Dialog Dini Hari, satu kelompok musik asal Bali yang memilih rasa folk, ballad, dan blues untuk lagu-lagunya. Petikan gitar,  hentakan drum yang halus, dan suara agak berat yang menenangkan jiwa raga, kalau kata saya sih. Dan tentu, banyak pesan lain pada lagu-lagu mereka yang lain, selain yang liriknya saya tuliskan di sini. Marilah.

Pagi - Dialog Dini Hari


Berhari-hari menanti
Tak henti henti mencari
Hingga hari ini dambaan hati
Berlalu dan pergi

Memilah memilih
Tak habis-habis berpikir
Sampai pagi ini
Matahari pagi, sendiri dan sendiri

Tetes embun pagi
Iringi mekar melati
Masihkah indah.. indah..

Reff:
Pagi, jangan pergi
Kutakut malam nanti ku masih sendiri
Dan pagimu tak lagi indah

Sekuntum bungan mekar
Di antara rumput-rumput liar
Gelisah menanti si jantan kumbang
Tak kunjung datang

Ranting kering terinjak-injak
Luluh lantak tak berontak
Kicau burung harmoni berdendang
Sebentar lagi siang

Rimbun pohon menari
Suaranya lembut berbisik
Masihkan indah.. indah..

***


Oke, saya baru benar-benar menyadari liriknya ketika copy paste liriknya dari website mereka. Sedih ya ternyata? Hahaha. Lagu-lagu mereka yang lain bisa didengar via Facebook. Seru sekali ketika dengar lagu-lagu Indonesia yang tidak seputar percintaan menye-menye. Sila dengar Beranda Taman Hati, Oksigen, dan Pelangi. Nice, gan! :D


Bandung, le 14 Janvier 2012

Tuesday, January 10, 2012

Kebetulan Betulan?


Mungkin benar ya, udara dingin bisa mengarah pada kegalauan. Oh baiklah, Twitter makes word “galau” overrated. Yang ini, bukan semata-mata tentang percintaan, tapi “galau” pada akarnya, kacau tidak karuan. Apalagi kalau udara dingin itu berpadu apik dengan buku yang sedang dibaca. Bikin kepikiran. Hehe.

Suhu Bandung belakangan ini menyentuh angka belasan. Dingin-dingin asoy. 16-18 derajat Celsius sajah, pemirsa. 

Jadi ceritanya saya sedang membaca buku Manjali dan Cakrabirawa dari Ayu Utami. Seperti biasa, ada satu dua tiga kutipan yang menyentil rasa dan pikiran saya. Dikira akan hilang dalam tempo waktu yang secepat-cepatnya, seperti apa yang terjadi biasanya. Ndilalah kok nggak ya? Sampai pagi ini ternyata masih berputar-putar di otak. Penting banget emang ya? Halah.




Apa rupanya kutipan itu?

Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kita tetap percaya bahwa itu tidak bermakna? (Jacques, hal.19)

Dang.

Dan lalu disambut dengan ini:

Jika kebetulan itu terlalu banyak, artinya masing-masing dari kita memiliki peran. (Marja, hal.247)

Lalu ada apa dengan kutipan-kutipan itu? Nggak apa-apa sih, cuma berasa sudah terpikir sejak lama tentang “kebetulan” itu. Setelah ada teman yang bilang bahwa dia tidak percaya akan kebetulan. Dan sejak saat itu, setiap ada kebetulan yang terjadi pada saya, saya langsung menganalisis apakah itu adalah sebuah kebetulan atau bukan. Agak ruwet sih. Dan seringnya emang hanya berakhir di analisis saja, tidak ada simpulannya. Haha.

***

Oh iya, mengenai buku ini, saya berikan poin 3 dari 5. Loh bukannya buku Ayu Utami itu keren ya? Emh, entah, saya seperti tidak terlalu klik dengan buku ini. Seperti terlalu banyak yang ingin diceritakan dalam 247 halaman. Alurnya seperti terlalu lambat di awal, terlalu cepat di akhir. Terlalu banyak yang terselesaikan dengan kebetulan yang terlalu cepat. Atau memang saya juga tidak percaya dengan kebetulan? Ha.

Atau mungkin harus baca Bilangan Fu dulu ya? 

Poin tiga yang saya sebut tadi itu untuk pilihan kata yang menarik, cerita tentang kerajaan yang saya suka sekali, dan pernyataan-pernyataan yang mudah dimengerti. Lumayan sih buat saya yang malas baca buku yang terlalu tebal. Haha. *menatap Nagabumi yang berdebu di kardus*

Bandung, le 10 Janvier 2012


Saturday, January 7, 2012

The Pursuit of Happyness


2012 udah berjalan beberapa hari, telat nggak sih kalau bikin tulisan tentang 2011? Hahaha. Whatever.

Kalau mau bilang 2011 berjalan biasa saja kayaknya nggak mungkin ya? Banyak hal yang terjadi di tahun itu, mostly sih menyenangkan. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Ngerjain skripsi lama banget, tapi akhirnya selesai dengan nilai yang memuaskan pula. Akhirnya lulus, setelah enam tahun ngejogrok di kampus penuh kenangan itu, konser The Cranberries yang menyenangkan jiwa raga, liburan ke Karimunjawa yang begitu syahdu, dan lain-lainnya. Ketemu orang-orang hebat. The best part is knowing that i still have a bunch of best friends, if I can mention that.

Apalagi ya? Oh, dapat beberapa kerjaan yang mendorong saya keluar sebentar dari lingkaran pertemanan sampah ini. And it feels great when I meet my inner circle again. Latihan untuk jauh-jauh dari orang-orang yang sudah lima tahun menjadi sandaran saya. Ok, I’m getting too mellow when it comes to them, but emm.. that’s exactly what I feel. Hehe. Gotta write about them in next posting, maybe.

Intinya, walaupun dua kali wawancara dan dua kali juga tidak diterima kerja di perusahaan yang diinginkan, tapi 2011 tetap juara satu. Menyenangkan, sampai-sampai saya tidak ingat pernah sedih di tahun itu. Alhamdulillah.

Semoga di 2012 ini semuanya akan lebih indah dan menyenangkan lagi. Semoga semangat saya terus ada untuk mencoba ini dan itu. Semoga rezeki terus mengalir, meskipun sedikit demi sedikit. Semoga, semoga, dan semoga.

Bismillah.
Semoga semesta Memberkati.J

Bandung, le 7 Janvier 2012

 (Harus mulai membiasakan diri menulis 2012. J)

*Judul diambil dari film yang dibintangi Will Smith dan Jaden Smith.* 

Friday, December 30, 2011

Sadly, Yes!

Ini lagu lumayan sudah lama sih. Another ciamik song, kalau menurut saya. Bisa banget Mas Jonas Bjerre memproduksi suara yang pas dan sesuai untuk suasana lagu ini. Musiknya lumayan segar bugar, tapi isinya.. yagitudeh. Nggak harus mendayu-dayu untuk bikin lagu yang "mengena" toh? Inilah lagu yang sering menemani ketika suasana hati sedang kacau-balau-galau.Lagu jaman skripsi banget. Hehe.


MEW - Sometimes Life isn't Easy


You're everything to me.
Celebrate the one you love,
The way it operates.


You're everything to me.
Celebrate the one you love,
The way it ought to be.


Thinking about everything.
Why did you stop?
You don't know what it's like.


Isn't that how it goes,
When you're lovesick?
Thinking about everything.


Don't you know sometimes,
When it feels like someone put a hex on you?
Well, I felt like that.
I was blaming myself.
I was cushioning my fall.


Hold my arms back when they beat me,
Leave me in the ditch where they kick me,
Sever my limbs and deceive me.


Sometimes life isn't easy.


Here we go.
Here we go.
I'm surprised in you,
Here we go.


Beside you,
And like you.
I'm lost in your doubt,
Scrolling, scrolling, scrolling.


Hold my arms back down when they beat me.
(Hold my arms back, try)
(I promise you...)
Water rise.


Don't you know sometimes,
When you can't see no end
To the tricks we play?


Sometimes life isn't easy.


Here we go.
Here we go.
I'm surprised in you,
Here we go.


Beside you,
And like you.
I'm lost in your doubt.


Here we go,
Here we go.
I'm surprised in you,
Here we go.


Beside you,
And like you.
I'm lost in your doubt.
Scrolling, scrolling, scrolling.


Safety net,
I regret
I am shaking.
(We know you are)
I am shaking


***


Pas banget kayaknya didengarkan sekarang, ditunjang dengan suasana Bandung yang sedang adem ini. Anggap saja kita sedang berada di Denmark bareng MEW. Cuss.

Bandung, le 30 Decembre 2011



Tuesday, November 8, 2011

Passion?


Passion, what is it? And what about it?

Setelah melakukan wawancara kerja dua minggu lalu, pertanyaan ini tidak kunjung mereda dari pikiran saya yang sejumput ini. Sejak itu, saya mulai berpikir dan mencari-cari apa sebenarnya yang ingin saya lakukan, apa yang ingin saya capai. Ya, seperti yang mudah diduga, belum ada keputusan yang pasti dan berani atas perundingan batin ini. Tapi percayalah, yang saya lakukan tidak seserius kedengarannya. Haha. 

***

Jadi, dua minggu lalu saya dipanggil untuk wawancara kerja di perusahaan asing yang sedang mencoba peruntungannya di Indonesia. Perusahaan besar sekali, jika di Amerika sana. Sangat familiar pula di kuping orang Indonesia. Wawancara berlangsung lancar, saya kira. Walaupun saya sempat agak deg-degan dan, di beberapa bagian, saya menjawab dengan terbata-bata, but it was an exciting experience for me. Pertama kali wawancara kerja, langsung wawancara dengan Bahasa Inggris, yang mana bukan bahasa utama saya. Daaaang. Tapi ya sudahlah, lumayan, kalau menurut saya. Dan yang mewawancara pun mengerti dengan apa yang saya bicarakan kok. Hehehe. 

Lalu sampailah saya pada pertanyaan mengenai passion saya. Dia dan saya mengandaikan bahwa passion saya adalah menulis. Padahal mungkin nggak juga ya. Saya belum punya karya yang begitu berarti di dunia penulisan. Jadi wartawan pun masih coba-coba. Tapi mungkin karena mengetahui bahwa saya lulusan Jurnalistik dan punya blog-yang-lumayan-sering-diisi, Mas Bos itu meyakini kalau passion saya adalah menulis. Yang mana saya belum yakin juga, padahal. #kusut

Saya sih yakin dan siap aja di posisi yang ditawarkan itu, yang mana tidak banyak menulis konten. Dia lalu memastikan,”You sure you won’t be frustrated if you don’t do the writing, but the people surround you doing it?” Saya jawab sih saya siap, nggak apa-apa. Lagian apa salahnya mencoba hal yang baru, yang mungkin tidak berkaitan dengan menulis, tapi masih berkaitan dengan dunia jurnalistik? Sesimpel itu, ketika masih berada di ruang wawancara. 

Dua minggu kemudian, pertanyaan itu membuat saya berpikir keras dan bikin bingung. Benarkah saya akan bisa jika nyatanya demikian, saya harus bekerja dan tidak menulis-membuat berita? Lalu saya ingat percakapan saya dengan teman saya, saya bilang, “Ya mau gimana juga kayaknya cuma nulis yang kita bisa, setidaknya itu yang paling dekat dengan latar belakang pendidikan kita.” Dan dia mengiyakan. 

Saya juga sempat berbincang melalui layanan messenger dengan teman yang lain. Dia bilang, “Bisa pasti. Lagian nulis mah bisa dimana aja kapan aja, Di.” Shoot. Dan saya mengiyakan. 

Terus apa? Bingung. 

Bandung, le 8 Novembre 2011