Showing posts with label kelana. Show all posts
Showing posts with label kelana. Show all posts

Friday, January 2, 2015

Kesan Kelana

Apa yang seru dari 2014?

Yang paling terlihat dan terasa, tentu saja tentang perjalanan. Perjalanan fisik yang mengarah pada perjalanan batin tak henti-henti. *supersigh*

Melompat dari ketinggian 233 meter. Sombong bangetlah ini, diekspos melulu, hahaha. Soalnya ini adalah bentuk keberhasilan melawan rasa takut dan ragu. Tinggi banget, coy! Apalagi buat si cupu macam saya. 

233 meter





Beberapa bulan dari Makau, sebenarnya ingin ke Lombok. Tapi apa daya, tidak ada yang mau pergi bersama. Sedangkan untuk saat itu, saya memang belum ingin tamasya sendiri. Rasanya masih ingin berbagi keindahan yang terlihat di depan mata. Lalu, diajak teman yang lagi stres banget untuk pergi ke Bromo. Langsung mengiyakan, dong!

Bromo, Batok, dan Semeru


Sabana yang kering di tengah tahun

Sebelum ke Bromo, kami mengunjungi beberapa tempat wisata di Surabaya dan Batu, seperti museum dan kebun binatang. Seru banget! Tempat-tempat itu dikelola pihak swasta dengan rasa modern. Jadi, sensasinya benar-benar beda dengan yang dikelola pemerintah. Sorry to say that, tapi memang begitu adanya.

Di pengujung tahun, keinginan untuk jalan-jalan makin tak terbendung. Lagipula sudah beberapa tahun belakangan selalu menyempatkan diri melancong ketika libur Natal. Plus, rencana ini sudah lama ditunda. Ada saja halangannya. Akhirnya, tahun ini dipaksakan dan tanpa perencanaan. Bermalam di mana? Lihat nanti saja. Lewat rute mana? Lihat nanti saja. Berapa hari? Lihat nanti saja. Hahaha. Batukaras jadi perjalanan jauh yang mengakhiri tahun ini. Misi utamanya: body rafting di Green Canyon, beberapa kilometer sebelum pantai yang tersohor sebagai lokasi surfing itu.


Brown Canyon karena arus deras

Batukaras lagi setelah empat tahun

Ada beberapa tempat lain yang disambangi tapi undangan liputan. Hehe. Tiga ini yang dilakukan bersama teman-teman baik sejak kuliah.

Semoga tahun ini diberi banyak keberkahan supaya bisa menambah wawasan dan mengunjungi tempat-tempat indah lainnya. Kalau boleh, bareng teman-teman baik pun. :)

Le Jakarta, 2 Janvier 2015




Tuesday, August 5, 2014

Mari Maafkan

Bulan lalu, saya dapat kesempatan untuk mengisi rubrik "Now Honestly" di majalah tempat saya bekerja. Pasalnya, si empunya rubrik sedang melanglang buana ke Eropa untuk menggali ilmu. Setelah dicetak dan dibaca kembali, aneh rasanya membaca tulisan yang biasanya cuma tampil di blog, malah dimuat di majalah. *malu*. Dan karena blog ini sudah tak diperbarui selama beberapa masa, jadi ya saya unggah saja tulisan yang kemarin itu. Hore! 




Usai sesi temu singkat, seorang pembaca cakra bilang pada saya, “Maafkan dan lupakan yang telah lalu.” Perkataannya sukses bikin dahi mengernyit. Apa yang harus dimaafkan? Saya merasa tak punya dendam atau pertikaian yang belum usai. Seingat saya, semua yang terjadi di masa lalu telah termaafkan dan sengaja dilupakan. Tapi rupanya, pembaca cakra dan alatnya bisa melihat ke hati saya dengan lebih jelas. Masih ada remah yang belum tuntas dan bikin kaki berat melangkah.
    Perihal maaf-memaafkan ini memang “unik”. Terlambat karena macet, bilang maaf. Lupa janji dengan teman tinggal kirim pesan singkat, “Maaf, saya sibuk luar biasa!”. Kesalahpahaman dengan si dia pun dianggap beres dengan kata sakti itu. Bahkan pengemudi taksi yang tak paham jalan pun enteng bilang maaf, padahal kita lelah dan ingin istirahat saat macet. Yang jadi perhatian adalah: apakah kata itu datang dari hati atau sekadar pamungkas untuk sudahi masalah? Ya, butuh waktu yang tak sebentar memang untuk jadi pemaaf, apalagi pemaaf yang tulus. 
    Buat masyarakat Indonesia yang memang gila teknologi, cara menyampaikan maaf pun bisa jadi perdebatan pelik. Coba saja cek ponsel pintar plus jejaring sosial Anda di waktu Idul Fitri, pasti ramai dengan ucapan maaf. Dan banyak orang yang jengah dengan hal ini. Mereka anggap hal tersebut tak pantas diobral di media sosial. Ingin benar-benar minta maaf? Hubungi satu per satu secara personal. Dengan begitu, prosesnya lebih syahdu dan tulus. Tapi apa mutlak begitu? Baiklah, saya akui kalau saya termasuk yang berpikir seperti itu. Tapi toh bukan berarti dengan pilihan tersebut, perilaku orang lain yang bermaafan secara terbuka di media sosial jadi keliru. Apa yang salah dengan linimasa Twitter, Path, dan Facebook damai dengan kata maaf? Masih jauh lebih baik ketimbang mencaci pilihan orang lain di masa kampanye! Lagipula itu salah satu keuntungan dari teknologi: bikin hidup lebih mudah. 
    Pertemuan dengan pembaca cakra itupun masih teringat hingga kini, padahal kejadiannya sudah lewat dua tahun silam. Ia ingatkan saya untuk introspeksi. Buka sebentar lembaran yang lalu, maafkan si pembuat salah atau sakit hati, maafkan diri sendiri, dan lanjutkan hidup dengan lebih tenang. Lewat media apapun, tak jadi masalah! Mendendam hanya bikin kacau diri sendiri. Lupakan atau tidak? Setelah dapat pelajaran dari kesalahan itu, sebaiknya abaikan saja meski tak mudah terjadi dalam waktu singkat.

Demikianlah. 


Jakarta, le 5 Aout 2014

Friday, January 10, 2014

Kilas 2013

Just go!

Kata apa yang pantas disematkan pada 2013 yang telah berlalu? Sayangnya, kamus bahasa saya tak menemukan kata yang pas. Tapi seperti layaknya momen, ada saja naik dan turun, bahagia dan sedih, panas dan dingin, marah dan tawa, dan rasa-rasa lainnya. Tapi, jika ditelusuri dan diingat-ingat lagi, sepertinya lebih banyak saya rasa bingung. Harus banget ditulis? Harus ah!


Banyak hal -terlalu banyak- yang terjadi di tahun itu dan itu cukup menguras emosi serta pikiran. Tahun kemarin, apalagi di akhir tahun, sepertinya jadi “ujian” untuk lebih dewasa (?). Hahaha. Atau bisa juga sebagai peringatan untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Sayangnya, hal itu tetap tak saya lakukan. Saya lebih memilih untuk tetap bingung, memikirkan dan merasakannya setengah-setengah, berkelahi dengan diri sendiri, tanpa keputusan apa-apa, tanpa tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Oke, ini adalah masalah hubungan personal. Hahaha, ternyata ada bakat curcol.

Lalu, ada apa dengan pekerjaan? Makin nggak jelas juga. Antara gitu-gitu aja atau makin parah. Yang pasti sih karena kurang konsentrasi. Kenapa? Nggak tahu juga, mungkin sih karena poin pertama itu. Jadi, kalau boleh menilai diri sendiri dan ada rapornya, nilainya pasti merah meski saya tetap berusaha untuk lakukan sebaik yang saya bisa. Padahal, satu-satunya komitmen saya hanya untuk hal ini. Hahaha. Ya sudahlah.

Tahun lalu, saya menjadi pembenci, sangat negatif. Sumpah serapah pada pekerjaan, merusak relasi antarpersonal, membelenggu pertemanan, dan bahkan, membenci dan menenggelamkan diri sendiri. Gawat-segawat-gawatnya. Tapi menjadi positif itu pilihan ‘kan? Di sela rasa yang tak karuan itu, saya berupaya keras untuk tetap “hidup”. Setidaknya ketika bersama teman-teman yang sudah selalu baik. Bersyukur sekali atas kehadiran mereka-mereka itu. :)

Ah, mungkin cuma kurang vakansi.

Selalu saja ada yang seru di setiap tahun. Selain hal-hal negatif di atas, untungnya masih ada yang menyenangkan di tahun lalu. Teman yang masih bisa diajak bercerita, kebahagiaan mereka, kejadian tak terduga, outing kantor, dan liburan (sembari kerja) menjelang ulang tahun. Setidaknya masih ada yang bikin ma vie en rose. Hamdallah!


Dan mantra di awal tahun tak bakal pernah berubah: tahun ini pasti akan lebih menyenangkan dari tahun lalu. Haqqul yakin!


Jakarta, le 10 Janvier 2014

Monday, September 2, 2013

Ocehan Pejalan

Serenity.

Kalau ada yang bilang life is a journey, maka saya akan mengiyakan. Lalu jika ada yang bilang life is an absurd journey, maka saya akan angguk-angguk menyetujuinya. Tambah lagi, misalnya ada yang bilang life is a long absurd journey, saya akan mengamininya dengan lantang.

Di tengah lelah menjalani hidup yang tak bisa terduga, hebat juga manusia-manusia yang bisa terus bertahan hingga di akhir hayatnya. Ketika banyak juga yang memutuskan untuk segera mati dan mengakhiri perjalanan, maka adalah sebuah keberanian untuk melanjutkan hidup yang tak selalu mudah dan kadang terlalu berliku.

Maka tak salahlah –bagi yang memilih hidup–  jika mengambil jeda sejenak. Duduk bersandar pada pohon yang teduh. Menenggak air dingin atau teh rasa peppermint yang melegakan kerongkongan. Menghela napas sedalam mungkin hingga oksigen memenuhi rongga paru-paru. Dan mengudap sekerat roti untuk menambah tenaga. Atau berbelok sedikit dari tujuan untuk mendapatkan penghiburan.Atau juga pejamkan mata berdetik-detik agar tercapai lagi keseimbangan yang seharusnya.

Maka berterimakasihlah pada semesta jika masih ada orang yang mau menemani berjalan menyusuri ketidakpastian. Sebagai tempat berbagi lelah yang dirasa dan menyandarkan tubuh di kala goyah. Dengarkan ocehan-ocehannya yang kadang tak masuk akal karena dehidrasi dan delusi. Biar berbalas argumen yang tak bakal berujung. Genggam erat jemarinya karena tak tahu hingga kapan ia betah menemanimu berjalan bersisian. Lepaskan tawa tanpa beban yang mengurangi rasa jengah yang mendera.

Setelah perbincangan di akhir minggu bersama beberapa teman baik.

Jakarta, le 1 & 2 Fevrier 2013

Friday, May 10, 2013

Soal Sigur Rós di Singapura


Dalam rangka nggak jadi nonton Sigur Rós di Indonesia, maka saya putuskan untuk menyelesaikan tulisan yang nggak pernah kelar sejak enam bulan lalu ini. Sedikit banyak, inilah ceritanya.
  
Setelah segelas bir (mahal) habis, akhirnya mereka muncul juga di panggung. Layar mulai ramai dengan video dan bebunyian dari alat musik gesek bersahutan dengan denting glockenspiel. Teriakan “Cang ci men, cang ci men!” ala bis di Indonesia dan “Please sit down!” pun berganti dengan Icelandic dan Hopelandic dari Jónsi. Seketika kekecewaan nggak jadi foto bersama si vokalis (padahal udah sebelah-sebelahan) pun terobati. Perjalanan resmi dimulai!

Seperti biasanya ketika saya mendengarkan musik-musik Sigur Rós, kali ini mereka juga bawa efek yang sama. Bulu kuduk meremang dan bukannya hilang dan tenang, pikiran makin melantur tak karuan dan berdatangan minta penyelesaian. Di beberapa lagu, efeknya berkali lipat. Bikin pengen nangis dan peluk semua orang yang datang di situ. Hahaha. Duh, lebay ya? Nggak sih. Karena memang itu yang benar-benar saya rasakan ketika menonton mereka dari jarak dekat. Coba kalau punya sayap, kayaknya saya sudah melayang-layang di langit sambil nonton konser ini. Luar biasa. Satu hal dalam bucket list akhirnya bisa saya coret.

Setelah dibuka dengan “Í Gær”, konser malam itu dilanjutkan dengan “Vaka” yang bikin gelisah. Lagu ketiga, “Glósóli”, pun makin megah berkat gesekan (iya, digesek) gitar Jónsi dan hentakan drum Orri yang penuh energi. Keren bangettttt! Dan selanjutnya, hampir tanpa jeda, mereka membawakan “Svefn-g-englar” dari album Ágætis byrjun, “Sæglópur” yang intronya enak banget, dan “Fljótavik”, salah satu lagu kesayangan saya. Uyeah! Selama konser, kami sudah nggak bisa komentar apa-apa lagi, cuma bisa bengong, takjub, dan sesekali teriak-teriak “Oh My God” atau “Oh, Tuhan!”. Benar-benar membius! Apalagi Jónsi benar-benar nggak ngomong sepatah kata pun di pergantian lagu. Mereka nggak ngasih kesempatan untuk sebentar saja ke menapak ke tanah, sebaliknya malah terus-terusan menghujani kami dengan lagu-lagu indah itu. Semacamnya mereka pengen bilang, “Nih, rasain! Let your vein and spine absorb it all.”


Lumayan enak posisi nontonnya. :D

KLB: Konser Luar Biasa!

Akhirnya, di tengah-tengah intro yang sangat lekat di telinga, si mas vokalis baru deh bilang terima kasih pada penonton yang sudah datang. Lalu mengalunlah “Hoppippolla” yang diiringi teriakan penonton pas Hoppippolla-nya doang dan seperti biasa, disambung dengan “Með “Blóðnasir. Pas dua lagu ini, grafis yang ditayangkan di backdrop-nya bagus banget! Apalagi pas bagian Jónsi ngajak penonton nyanyi. Super! Lanjut lagi, mereka bawakan “Olsen Olsen” yang diiringi suara oboe yang menenangkan. Makinlah kami membayangkan nonton mereka di Islandia sana, macamnya di Heima itu. Ketenangan pecah ketika “Festival” memasuki bagian refrain. Bising banget, tapi bising yang merdu! Halah. Setelah berasyik-masyuk di masa lalu, inilah saatnya mereka bawakan lagu-lagu dari album Valtari. Yang dibawakan pertama adalah “Varúð” yang diiringi gerimis manis. Setelah penutup yang heboh, Jonsi bilang terima kasih lagi sambil memperkenalkan lagu terakhir. Lagu ini adalah lagu terbaru mereka dari album yang akan datang, “Brennisteinn” dari Kveikur.

Meski Sigur Rós telah mencukupkan konser itu tapi penonton bilang belum cukup dong pastinya. Masih pengen pada orgasm dan eargasm kayaknya. Maka diberilah kami dua lagu lagi: “Ekki Múkk” yang disajikan lengkap dengan video klipnya dan Untitled 8 atau “Popplagið”. Dan di dua lagu terakhir itulah hujan turun. Bukan gerimis manis, tapi hujan lumayan deras  dan makin deras yang bikin semua penonton malah teriak dan tepuk tangan kegirangan. MAGICAL!

Meski kuyup tapi semua pulang dengan keadaan berbahagia. Ada beberapa lagu kesukaan yang nggak dibawakan sih, macamnya “All Alright”. Tapi udahlah, memang nggak bisa protes apapun karena konsernya menyenangkan sekali. Brass dan string section-nya juga bagus! Bikin pertunjukan makin megah, nyesss, dan ramai.

Jarang inget maksud atau arti lagunya sih, tapi tetap saja mampu bikin suara tercekat, pikiran ngalor-ngidul-sekaligus-kosong, mata merem melek biar air mata yang jatuh nggak terlalu banyak, deg-degan, menggigil karena keujanan, semuanya campur aduk. Sampai sekarang, masih suka girang dan merinding sendiri kalau ingat konser itu. Soalnya belum nonton Coldplay. Hahaha.

Konser November 2012 di Fort Canning Park itu pun berasa seperti di Indonesia, dengan cuaca yang adem dan yang datang pun mungkin tujuh puluh persennya adalah orang Indonesia. Hahaha. Jadi, kalau ada yang mau nonton hari ini di Tennis Indoor Senayan, silakan menikmati sepenuh hati!


Fotonya diambil dari sini. (1) Sebelum konser mulai. (2) Hujan di pengujung. (3) Takk!


Takk, Sigur Rós!

*Fotonya hanya pakai kamera ponsel yang seadanya karena kami nggak ada yang bawa kamera beneran. :p




Jakarta, le 10 Mai 2013

Wednesday, May 1, 2013

Koleksi KARE


Sekitar sebelas bulan lalu, saya mulai foto untuk rubrik home and living di tempat ini dan berkenalan dengan creative director-nya yang baik hati (in case, he eventually reads this post. :p). Dengan senang hati, ia mengantar saya berkeliling untuk melihat koleksi terbaru mereka dan memberi saran tentang barang-barang yang bisa difoto sesuai tema bulan itu. Dan usai pemotretan pertama itu, saya jadi pengunjung tetap tenant mereka yang berada di Senayan City lantai 6. Tak hanya sekali dalam sebulan, bahkan mungkin dua hingga tiga kali. Dan tidak pernah membeli apapun, hanya survei atau foto produk saja, meski ngiler setengah mati dengan beberapa barang mereka. Not to mention, one comfy beige couch worth Rp100 million. #pengsan

KARE, gerai pamer interior yang satu ini, adalah waralaba dari Jerman dan tersebar di banyak negara, seperti Australia, Mesir, Prancis, Austria, Cina, Rusia, dan lain-lain. Di Indonesia ini, KARE ada di Jakarta dan Surabaya dan toko pertamanya di Senayan City sudah berdiri sejak Juli 2011. Selain di Senayan City, mereka juga punya spot jualan di Lippo Kemang.

Boleh dibilang, KARE ini salah satu tempat favorit saya untuk keliling-keliling cari produk yang bisa difoto. Karena koleksi mereka cukup bervariasi dan penuh warna, seperti yang dicari oleh majalah tempat saya bekerja. Meski beberapa bulan terakhir juga ada koleksi yang didominasi warna putih dan perak tapi yang warna-warni juga tetap banyak. Bikin ceria! Halah. Selain warna-warna ceria, mereka juga tetap punya tone warna dan tema sendiri untuk masing-masing “ruangan” yang dipamerkan. Misalnya, bertema jeans, warna putih, hitam, rustic, atau terbuat dari material kulit. Tema yang diambil contohnya adalah tema Inggris, seperti yang penah saya perlihatkan gambarnya di sini. Buat ukuran Indonesia, padu padannya memang cukup berani sih. Oh ya, barang-barang yang dijual pun unik. Ada celengan berbentuk kamera Polaroid, lukisan retro, meja dengan banyak laci, dan rak bunga-bunga yang saya pengen banget! Hahaha. Tapi satu kekurangannya, harganya cukup mahal. Pricey! Yang paling murah adalah bebek karet warna kuning yang dijual Rp30.000,-. Hahaha

Suka sekali sofa dari bahan denim ini.


Motif peranakan yang meriah

Nah, kalau di Senayan City biasanya tercium wangi campuran jejahean dan bunga-bungaan, aroma tersebut akan makin tajam kalau masuk KARE. Buat saya, wanginya khas dan jadi identitas sendiri. Saya pernah berada di suatu tempat yang punya aroma seperti itu dan secara tak sadar, si otak ini langsung memetakan penataan tempat furnitur itu. Idih! 

Foto sama om penjaga KARE (foto oleh Yudi)

Jakarta, le 1 Mai 2013

Maafkan ya foto-fotonya begini amat. :p

Friday, April 26, 2013

Ingat Interior


(Nggak terasa) Sudah setahun ini, saya menyambangi beberapa toko furnitur untuk foto barang-barangnya dan kemudian dipajang di majalah tempat saya bekerja. Instruksinya mudah saja: cari tema, pilih-pilih barang yang akan difoto, bikin surat, dan jreng.. lalu foto di tempat yang bersangkutan. Iya, memang sesederhana itu kedengarannya tapi kenyataannya, lumayan. Hehehe.

Permasalahan yang paling sering ditemui adalah tentang ketersediaan dan variasi, apalagi saya butuh lebih dari 15 barang dengan tema yang sama. Berapa banyak sih toko furnitur di Jakarta Raya ini? Banyak, of course. Tapi jenis barangnya hampir mirip, kurang bervariasi. Misalnya, sekarang sedang musim barang-barang dari kayu, semua toko yang saya datangi pasti memajang benda yang sama atau hampir serupa dengan tema kayu. Kalau lihat contoh artikel dari Jerman, kok kayaknya enak ya di sana, banyak benda unik dengan warna-warna segar. Tapi untungnya, walaupun mepet atau lewat tenggat (ups!), furnitur atau dekorasi itu selalu terkumpul. Ayo, semua bilang "Amin" dan "Alhamdulillah"!

Tentang itu, saya pernah ngobrol dengan seorang creative director dari toko interior ternama di Senayan City, Jakarta. Dia bilang, memang orang Indonesia kurang suka bermain warna di hunian mereka. Yang lebih dipilih adalah warna-warna netral, seperti putih, perak, krem, bernuansa kayu, dan sejenisnya. Warna-warna gonjreng, seperti merah, hijau, kuning, dan lainnya kurang diminati. Mungkin takut salah padu padan warna atau memang simply nggak suka warna-warna terang yang kadang cuma jadi tren musiman. Jadi, main aman saja. Kalaupun ada yang suka, pilihan jatuh ke printilan atau aksesori, seperti pajangan, jam dinding, atau bantal.

Jadi, untuk memenuhi kebutuhan artikel tentang home & living itu, saya sering jalan-jalan ke Kemang atau ke beberapa wilayah lainnya, jalan kaki menyusuri jalanan sempit yang jarang ada trotoarnya, dan masuk ke beberapa toko penjualan furnitur dan teman-temannya. Dan ajaibnya, meski terkadang agak susah nyarinya dan agak ribet angkutan umumnya, tapi selalu nemu tempat yang bikin ingin nangis terharu karena berjasa dalam penyelesaian artikel saya. Beberapa mungkin akan di-posting di sini. Yeay! *bohong pasti. :p*


Salah satu tempat favorit


Berkunjung ke tempat-tempat seperti itu, awalnya memang terasa seperti kewajiban dan hanya demi kebutuhan artikel. Tapi lama-kelamaan, dhuaaar, saya seperti diingatkan lagi keinginan di masa lalu: jadi desainer interior atau arsitek. Hahahahiks. Jadi punya kebutuhan untuk berkunjung ke toko interior atau furnitur dan betah banget sampai malas pulang. Haha. Inginnya kayak Summer dan Tom yang keliling IKEA dan tidur-tiduran di kasurnya. :p

Untungnya di sini belum ada IKEA dan tugas saya nggak seribet tugas desainer interior. Horray!

Jakarta, le 26 Avril 2013


Friday, April 12, 2013

Kering Kerontang

Tadi sedang browsing dan menemukan penginapan lucu dan nyaman, sepertinya. Lokasinya di Bayah dan dinamakan Roemah Pulomanuk. Lalu bersama teman sebelah, saya berandai-andai untuk punya rumah atau penginapan yang sejenis itu. Membayangkan punya properti di sisi pantai dengan sentuhan shabby tapi tetap chic (ya, bilang shabby chic aja kali, Di.). Bahas sedikit tentang cara pembuatan furnitur macam itu dan pilah-pilih lahan yang pas serasa punya uang Rp5 miliar di rekening bank. Haha. Ah, tapi memang bermimpi itu mudah dan gratis, 'kan? Sah, dong!

Tak lama, pembicaraan mengalir ke Pangumbahan dan sekitarnya, saya lalu bertanya perihal nama penginapan di "pintu masuk" Pangumbahan. Sudah lama ingin ingat namanya, tak ada yang beri jawaban memuaskan, tapi juga tak punya waktu (dan uang) untuk pergi sesegera mungkin ke sana. Haha. Kalau ada yang tahu, boleh beri tahu, ya. Dan lalu, ingat tentang kuliah kerja nyata (KKN) pada pertengahan 2008 silam karena kebetulan saya dapat lokasi di Sukabumi Selatan, tak jauh dari Pangumbahan itu. Tiba-tiba teringat tentang sawah brownies karena masa itu sedang kemarau. Kering. Kayak kulit yang tak pakai lotion setelah dua bulan berjemur di bawah sinar matahari .

Nah macam itulah sawah brownies-nya


Dua bulan yang cukup menyenangkan jika yang diingat hanya pantai-pantai di sekitarnya saja. Selebihnya, tak usah diingat. Haha. Anyway, i know that you don't wanna see my face. So, i edited the photo. :p

What's the point of this post? Nggak ada sih. Cuma tiba-tiba teringat yang tak mau diingat saja. Heu.

Jakarta, le 12 Avril 2013


Sunday, January 6, 2013

Kolase Fase


Where do we go nobody knows?
Don't ever say you're on your way down... 
When God gave you style and gave you grace
And put a smile upon your face

So, here we are. Belum jadi kiamat di akhir 2012 lalu, jadi sekarang masih bisa menjalani 2013. Apa kabar 2012 lalu? Bukan karena belum bisa move on sih, tapi merasa harus menulis saja apa yang saya ingat terjadi di tahun itu. Mengapa baru sekarang? Karena harus diendapkan dulu dan habis baca buku yang bikin… yagitudeh.

Mungkin nggak terlalu banyak yang bisa disarikan dari tahun ini, apalagi karena sudah bukan pengangguran dan sebagian besar waktu tentu buat pekerjaan (Sigh. Itu harus diperbaiki!). Jadi “kuli” yang menghamba pada akhir pekan. Hehe. Tapi justru pekerjaan itu jadi hal yang harus diingat dari tahun ini. Bekerja di balik layar penerbitan majalah gaya hidup perempuan, bertemu dengan berbagai orang baru, wawancara ini itu, foto ina inu, dan sebagai-sebagainya. Di tengah penat, untungnya masih ada gerombolan orang yang bisa diajak cerita-cerita ngalor-ngidul ngetan-ngulon. Meminjam bahasa teman saya, they are here to keep us sane. Amin. Semoga memang tak putus supaya tetap waras di Jakarta Raya yang katanya nggak sehat ini. Kedatangan mereka di suatu tempat makan sambil bawa tiramisu dengan lilin angka 25 itu juga bikin terharu. Berhasil menonton tiga dari sekian banyak konser yang diidam-idamkan. YEAH! Feist dan BigBang di Indonesia, serta Sigur Ros di Singapura. Perjalanan ke berbagai kota dalam dua bulan untuk kesenangan dan untuk pekerjaan serta, tentu saja, perjalanan singkat bolak-balik Jakarta-Bandung yang selalu berhasil bikin risau. Haha.

Kemarin itu, beberapa teman saya bilang, mereka tak suka tahun lalu, terlalu menyesakkan dan tak menyenangkan. Bagi saya? Lumayan (tetep labil. Haha). Segala ego yang naik turun selama dua belas bulan, ketidakpastian, kepastian, kesendirian, keramaian, adu pendapat, dendam, tawa, senyum, sedih, jengah, ndredeg, mbrebes mili, dan yang lain-lainnya. Semuanya lengkap. Lengkap. Lengkap. Kalau disimpulkan, sepertinya tahun ini, bagi saya, lebih emosional dari tahun 2011 silam. Banyak hal yang bikin gila dan stres tapi juga banyak hal yang membuat tertawa dan bahagia tak habis-habis. Segala puji bagi Tuhan dan semua orang di sekitar saya yang datangkan bahagia. Yang nggak datangkan bahagia, ya, semoga bahagia tetap mau bersama kalian.

2013 menjelang dan saya menghabiskan malam pergantian tahun tanpa rencana matang, tapi untungnya masih bersama teman-teman baik. Ditemani ibu-ibu dan bapak-bapak di kafe sebelah yang menyanyi dengan nada yang tak pas dan menyaksikan kembang api dari dataran tinggi itu sudah bisa bikin senang. Di satu shoot tequila itu kami mengucap harap tentang 2013, mungkin hanya diri masing-masing dan Tuhan yang tahu detilnya. Tapi semoga berjalan baik dan semua rencana terpenuhi. Termasuk semua rencana jalan-jalan dan nonton konser yang selalu mengusik pikiran dan… kantong. 

Kalau saya kurang kuat dan seperti akan menyerah menjalani tahun ini, tolong dibantu. Hehe. J

Jakarta, le 7 Janvier 2013

Saturday, December 1, 2012

Hola, Hostel!



“Liburan” kemarin itu sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Tentu saja, karena telah didahului dengan bikin paspor dan beli tiket dan ini dan itu. Saya bersemangat sekali dengan liburan kali ini. Apa pasal? Yang pertama, GONG, ini perjalanan perdana saya ke luar Indonesia. Yang kedua, karena berniat melakukan haji kecil: menonton Sigur Ros dari dekat. 

Sejak tahun lalu, saya punya resolusi – kalau bisa dibilang begitu- untuk dua hal. Salah satunya, yaitu melancong ke luar negeri dan baru terlaksana tahun ini. Cupu sih, ya, umur segini baru bikin paspor dan baru sekali ke luar negeri padahal katanya sudah globalisasi. Haha. Malu sama bocah piyik yang masih merah dan dibawa ibunya ke kantor imigrasi untuk foto paspor. Bikin “surat izin” sendiri, tanpa calo, dan tak sampai lima jam di kantor itu. Beberapa hari kemudian kembali lagi untuk ambil paspor yang sudah jadi. Serba praktis. Setelah paspor di tangan, urusan pertiketan pun sudah ada yang urus. Yes!

Perjalanan pertama ini dekat saja, bukan ke Islandia, tempat asal Bang Jonsi dan kawan-kawannya. Cukup terbang 1 jam 45 menit ke negara tetangga yang kecil mungil itu. Bagi yang ingin dan tak sempat ke sana minggu lalu, silakan menunggu sampai pertengahan tahun ini. Gosipnya, mereka akan bertandang ke Indonesia *bersorak*. Selain menonton konser Sigur Ros yang amatlah epik itu, tentu pun saya menyempatkan berkeliling Singapura dengan beberapa alternatif: jalan kaki, naik MRT, dan naik bis. Sayangnya, tak sempat naik taksi. Menyenangkan! Trotoar lebar dan transportasi yang memadai serta nyaman bikin berkelana di Negeri Singa itu makin mudah. Ibaratnya, dilepas sendiri di sana pun pasti nggak bakal stres. 

Menginap di mana? Mungkin itu pertanyaan yang bakal sering diajukan. Saya menginap di hostel dan ini jadi sorotan selama liburan kemarin, selain konser Sigur Ros tentunya. Hostel seharga S$28 semalam itu cukup nyaman: dorm berisi empat kasur bertingkat; wi-fi gratis sepanjang hari; pasokan kopi, teh, dan coklat tak terbatas; kebersihan yang terjaga; kamar mandi dengan air panas; dan mudah diakses dengan sarana transportasi apapun. 

Kejadian yang tak terduga, kocak, plus awkward terjadi di hari kedua kami menginap. Kenapa pula? Karena di seberang ranjang saya ada orang yang melakukan hubungan seks. Iya, making love as in intercourse or bercinta, apalah itu, you name it! Haha. Saya dan si partner liburan belum bisa tidur ketika si dua orang ini datang dan memuaskan nafsunya di ranjang hostel. Jadinya harus nahan diri supaya nggak ngakak atau berdeham karena tak nyaman. Harusnya sih bisa ditegur atau bilang ke penjaga hostelnya, ya? Tapi malah jadi kami yang malu. Oh! Masih nggak habis pikir sih, mengapa si bule itu bisa-bisanya bawa PSK ke hostel dan making love di dalam dorm. Kasihan abang yang sudah tertidur kelelahan di ranjang bagian bawahnya. Kalau tak mampu sewa hotel, ya, bolehlah di taman atau di kamar mandi hostel saja. Jangan di kamar hostelnya yang tempat orang beristirahat dan di waktu orang beristirahat. Cideuk! Hahaha.Ini memang no picture, tapi tak hoax kok!

Ingin cerita tentang konsernya tapi sepertinya tidak sekarang. Semoga masih ada yang mau baca nanti, ya. Haha. 

Bandung, le 1 Decembre 2012

Friday, November 30, 2012

Konser Terbaru

Sejauh ini, sepengalaman saya menonton sebuah konser, konser ini yang paling keren. Tepat seminggu lalu, geng yang berasal dari Islandia ini mengunjungi Singapura. Silakan dinikmati dan diresapi dulu video plus (salah satu) lagu favorit saya. Cerita versi saya menyusul. :p


Video ini diunggah oleh seseorang ber-username Pokcay. Terima kasih. :)

Jakarta, le 30 Novembre 2012

Monday, November 5, 2012

Selamat Semangat!


Ingin tidak ingin, ternyata deret umur ini mesti bertambah. Sempat deg-degan karena kini sudah seperempat abad tapi belum punya pencapaian apa-apa yang bisa dibanggakan (curhatnya sudah dan akan dilakukan di posting lain. Hehe.). Untungnya, masih pula punya mimpi ini itu yang bisa bikin hari tak terlalu sia-sia untuk dijalani (boong tapi. :p)

Sudah hampir dua minggu setelah pergantian hari itu. Dan masih tidak menyangka jika para kawan baik akan menyempatkan waktu untuk hadir, membawakan kudapan manis, dan mengamini semua keinginan yang belum tercapai. Terima kasih telah mengingatkan bahwa masih ada hari bahagia di sela lelah yang menumpuk, penat yang mendera, dan ragu yang menyerang. Semoga semuanya akan selalu baik-baik saja. Semoga semuanya akan bertambah baik. Semoga semua kekhawatiran yang mendera akan terkikis lalu sirna dengan hadirnya kebijaksanaan. Semoga semesta berkati hidup saya, harapan saya, dan harapan kalian pada saya. Semoga.

Hoorraaah!


I won’t forget the night. I love you till death, fellas. Thank you for being there when I need you the most. Thank you for the candle light even if I’ve tried to remain the day as the usual day. Thank you for everything. Thank you. *bowing*.

*TEEET, mengulang kata "thank you".*


Jakarta, le 5 Novembre 2012

Friday, December 30, 2011

Short Story


Boleh jujur? Saya, seperti orang lain, sejujurnya tidak suka ketika ditanya mengenai pekerjaan. Ya saya tahu, dengan jelas dan sadar, bahwa saya sudah lulus, punya ijazah, dan harusnya sudah bekerja. Tapi ya sudahlah, tidak usah diperpanjang, yang penting saya nyatanya bekerja, walaupun “pseudo”. Hahaha.

Intinya gini deh, sejak Oktober lalu dan sampai saat ini, saya punya pekerjaan. Dan tidak sepenuhnya minta uang dari Yang Mulia Kanjeng Ibu untuk beli sepasang, dua pasang sepatu. Habis perkara.

***
Tiga bulan ini, saya mengerjakan pekerjaan yang satu, sempat terdampar di pekerjaan kedua selama dua minggu, dan kemudian ada satu pekerjaan kecil di bulan terakhir. Hampir semuanya hal yang baru bagi saya, walaupun yang dua tidak terlalu jauh dari bidang yang saya pelajari sejak enam tahun lampau. *krik krik, lama ajah. *

Saya tidak bisa bilang semuanya seratus persen menyenangkan. Kadang membosankan dan justru terasa menjadi beban, ketika saya menjalaninya. Tapi, heii, itulah pekerjaan kan? Kalau terus-terusan menyenangkan, itu mungkin namanya hobi. Dan yang paling penting, saya belajar banyak dari pekerjaan-pekerjaan itu. Punya teman baru dan beberapa perspektif tambahan tentang bagaimana hidup ini harus dijalani. Deuh.

Yang satu mengantarkan saya untuk lebih peka terhadap perasaan sendiri, perasaan perempuan. Tahu apa yang sebenarnya perempuan mau. Tapi juga menyuntikkan ide-ide (tidak) segar bahwa perempuan itu bisa melakukan hal-hal baik dan tidak selamanya berpikir hanya tentang percintaan. Kamana atuh galau?!

Yang kedua mengantarkan saya untuk menyadari satu keburukan dan sejuta kebaikan dari belajar di (mantan) kampus saya yang berada di kaki Gunung Manglayang. Percayalah atas tempaan-tempaan yang pernah kita dapat, itu semua berguna di masa depan. Terutama di bagian “begadang” dan “pekerja yang mau disuruh-suruh”. Haha. Good news? Or even bad news?

Dari situ pula, saya menjadi sedikit tahu tentang dunia freelance. Sesuatu yang sebenarnya sangat saya takuti, ketika saya hanya bekerja dalam waktu yang singkat dan penuh dengan ketidakpastian. Ketika kamu memang hanya bisa mengandalkan diri sendiri, tanpa orang lain sama sekali. Simpulan yang mungkin salah.

Dan yang ketiga pernah mengantarkan saya berkeliling Asia-Afrika di suatu ruangan yang sesak dengan tarian dan lagu-lagu khas masing-masing daerah. Menyadarkan bahwa saya, kami, hanyalah setitik kecil organisme yang mungkin tidak ada gunanya di antara 7 miliar manusia yang kini menghuni dunia. Eh, tapi dari saya dan kami yang kecil itu mungkin bisa melakukan sesuatu yang berguna nantinya. Entah untuk saya sendiri, kami, atau bahkan untuk skala yang lebih luas.

Dari pekerjaan nomor tiga yang (sangat) singkat itu, saya tahu saya harus pergi dari sini. Kapan ya? Tahun depan yuk, temans. :D

Bandung, 30 Decembre 2011

Wednesday, September 21, 2011

Mau Dibawa Kemana?


How far can you go? Bukan, maksudnya bukan tentang sejauh mana kita bisa melangkah, memaksimalkan diri kita. Tapi sejauh mana kita bisa meninggalkan diri kita atas semua perubahan yang mungkin terjadi?

Seorang teman bertanya dalam akun Twitter-nya, “Pernahkah kamu merindukan dirimu yang dulu?”. It caught me in the right time. Ia mengungkapkan apa yang juga saya pertanyakan sedetik sebelum saya melihat tweet-nya tersebut. Saya lega saya tidak sendirian. Tidak sendirian berubah, tidak sendirian mempertanyakannya, tidak sendirian merindukan sesuatu yang pernah singgah. 

Sejak lulus dari SMA, saya selalu merasa sebagai orang yang tidak berubah. Saya tetaplah saya, hanya saja berbeda kemasan. Dulu pakai seragam putih abu, sekarang lebih sering pakai t-shirt yang nyaman dipakai dan jeans. Tentu saja yang satu itu berubah, karena kuliah memang tidak mewajibkan saya pakai seragam ‘kan? Hah. 

Tapi maksudnya, lebih dalam dari perihal seragam, saya tidak menyadari diri saya berubah. Saya menganggap orang lain lebih memiliki perubahan yang signifikan dari saya. Dari pemikiran, gaya berbusana, gaya bicara, prinsip, dan lain-lain. Baik atau buruk? Relatif. Tapi seharusnya perubahan itu sendiri adalah hal yang baik karena tidak memerangkap kita dalam satu fase saja. Masalah berubah ke arah yang baik atau buruk? Ya itu yang relatif. 

Saya menolak mengatakan diri saya berubah. Saya pikir, hidup saya ya begitu-begitu saja, tidak ada pencapaian yang berarti. Cuma kuliah, volunteer sana-sini, cekakakan di belakang gedung satu, begini begitu. Berbeda dengan teman-teman saya yang sepertinya begini begitu begini begitu, begini lagi, begitu lagi. Sekolah di sini, kerja di sini, pindah ke sini, dan pindah ke sana. Pokoknya, perubahannya itu nyata terlihat.

Namun, semakin larut saya dalam hening, semakin saya bertanya ‘jangan-jangan justru saya yang sangat banyak berubah?’. Ya saya tahu, seharusnya perubahan itu memang telak terjadi. Tidak ada ‘ketika’ yang persis sama toh? Dan tentu, kita tidak bisa memaksakan semuanya terus sama ‘kan? Seperti kata orang bijak, yang tetap dari perubahan adalah perubahan itu sendiri. 

Apa yang berubah dari saya? Tentu banyak yang menyadari. Kebiasaan, pola hidup, pemikiran, pandangan, prinsip, dan beberapa hal lainnya. A lot, eh? Dan saya tidak bisa mengatakan semuanya itu baik buat saya. But I’m working on it, I try to define what’s good to me, and what’s not. There’s still a line. Ada fase-fase yang saya rasa membuat saya harus berubah agar saya belajar. Dan bukan tidak mungkin, selanjutnya saya akan tinggalkan perubahan itu. Kembali pada saya yang dulu atau berubah lagi ke arah lain. Semacam labil? Hahaha. 

Kadang saya takut saya terlalu jauh dari saya yang dahulu, dengan prinsip-prinsip tertentu yang saya pegang. Namun, saya tahu bahwa orang-orang sekitar saya begitu bijak untuk membiarkan saya berubah dan juga tetap menjadi pengingat saya agar tidak berubah terlalu jauh. In a mean time, we all are change, right? 

Maaf capruk! :))

Bandung, le 19 Septembre 2011