Showing posts with label nirwasita. Show all posts
Showing posts with label nirwasita. Show all posts

Tuesday, August 5, 2014

Mari Maafkan

Bulan lalu, saya dapat kesempatan untuk mengisi rubrik "Now Honestly" di majalah tempat saya bekerja. Pasalnya, si empunya rubrik sedang melanglang buana ke Eropa untuk menggali ilmu. Setelah dicetak dan dibaca kembali, aneh rasanya membaca tulisan yang biasanya cuma tampil di blog, malah dimuat di majalah. *malu*. Dan karena blog ini sudah tak diperbarui selama beberapa masa, jadi ya saya unggah saja tulisan yang kemarin itu. Hore! 




Usai sesi temu singkat, seorang pembaca cakra bilang pada saya, “Maafkan dan lupakan yang telah lalu.” Perkataannya sukses bikin dahi mengernyit. Apa yang harus dimaafkan? Saya merasa tak punya dendam atau pertikaian yang belum usai. Seingat saya, semua yang terjadi di masa lalu telah termaafkan dan sengaja dilupakan. Tapi rupanya, pembaca cakra dan alatnya bisa melihat ke hati saya dengan lebih jelas. Masih ada remah yang belum tuntas dan bikin kaki berat melangkah.
    Perihal maaf-memaafkan ini memang “unik”. Terlambat karena macet, bilang maaf. Lupa janji dengan teman tinggal kirim pesan singkat, “Maaf, saya sibuk luar biasa!”. Kesalahpahaman dengan si dia pun dianggap beres dengan kata sakti itu. Bahkan pengemudi taksi yang tak paham jalan pun enteng bilang maaf, padahal kita lelah dan ingin istirahat saat macet. Yang jadi perhatian adalah: apakah kata itu datang dari hati atau sekadar pamungkas untuk sudahi masalah? Ya, butuh waktu yang tak sebentar memang untuk jadi pemaaf, apalagi pemaaf yang tulus. 
    Buat masyarakat Indonesia yang memang gila teknologi, cara menyampaikan maaf pun bisa jadi perdebatan pelik. Coba saja cek ponsel pintar plus jejaring sosial Anda di waktu Idul Fitri, pasti ramai dengan ucapan maaf. Dan banyak orang yang jengah dengan hal ini. Mereka anggap hal tersebut tak pantas diobral di media sosial. Ingin benar-benar minta maaf? Hubungi satu per satu secara personal. Dengan begitu, prosesnya lebih syahdu dan tulus. Tapi apa mutlak begitu? Baiklah, saya akui kalau saya termasuk yang berpikir seperti itu. Tapi toh bukan berarti dengan pilihan tersebut, perilaku orang lain yang bermaafan secara terbuka di media sosial jadi keliru. Apa yang salah dengan linimasa Twitter, Path, dan Facebook damai dengan kata maaf? Masih jauh lebih baik ketimbang mencaci pilihan orang lain di masa kampanye! Lagipula itu salah satu keuntungan dari teknologi: bikin hidup lebih mudah. 
    Pertemuan dengan pembaca cakra itupun masih teringat hingga kini, padahal kejadiannya sudah lewat dua tahun silam. Ia ingatkan saya untuk introspeksi. Buka sebentar lembaran yang lalu, maafkan si pembuat salah atau sakit hati, maafkan diri sendiri, dan lanjutkan hidup dengan lebih tenang. Lewat media apapun, tak jadi masalah! Mendendam hanya bikin kacau diri sendiri. Lupakan atau tidak? Setelah dapat pelajaran dari kesalahan itu, sebaiknya abaikan saja meski tak mudah terjadi dalam waktu singkat.

Demikianlah. 


Jakarta, le 5 Aout 2014

Saturday, June 14, 2014

Pola Pikir






Kemarin, seorang teman mengunggah satu foto yang berisi kutipan. Jangan khawatir, begitu lebih kurang isinya. Tak perlulah habiskan berjam-jam untuk memikirkan sesuatu yang memang tak bakal ditemukan jawabannya di masa ini. 

Tapi itu adalah pilihan. And I’m not a decision maker. Pilihan-pilihan mudah pun bisa jadi sulit untuk saya yang (sudah tertular) otak ruwet. Pilih kaus biru atau hitam? Singapura atau Thailand untuk perjalanan selanjutnya? Lebih bagus sepatu maroon atau krem? Pakai kemeja atau kaus ke kantor? Lalu apa padanannya, rok atau celana? Celana kain atau jeans? Bungee jumping atau tidak? Pulang ke Bandung minggu ini atau minggu depan? Bicara dengannya atau tidak? Telepon narasumber sore ini atau besok pagi? Makan siang soto atau pecel? Beli laptop atau harddisk eksternal dulu? Dan daftarnya masih terus bertambah. Panjang. Sangat panjang. 

Hidup memang penuh dengan pilihan. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan hingga bertahun-tahun selanjutnya. Bagi sebagian orang, memilih adalah bernapas. Mudah, tak perlu dipikirkan. Sebut saja! Sedangkan bagi saya, pilihan adalah serupa soal Fisika dalam SPMB. Sulit. Nyaris tak terpecahkan. Pikiran sudah berjalan bahkan sejak pilihan itu masih samar. Plus, memikirkan akibat-akibatnya atau apa yang mungkin terjadi setelah itu. Padahal seringnya, keputusan itu hanya dibuat sedetik. Tanpa pemikiran yang sebelumnya sudah mengular dan berhimpitan di kepala. Dan tak berakibat fatal sama sekali. Ironis. Atau oksimoron. 

Memilih, atau proses menentukan pilihan, itu terlalu menggelitik untuk ditimbang baik dan buruknya, positif dan negatifnya, atau benar tidaknya. Pelik, bagi saya. 

Misalnya saja tentang masa depan. Kekhawatiran atas hal yang tak pasti menghadapkan kita pada dua pilihan: jalani saja apa adanya tanpa banyak berpikir atau pikirkan matang-matang agar jelas pijakan serta arahnya. Yang pertama menggoda untuk dilakoni. Tapi yang kedua juga jelas bukan tindakan bodoh.

Yang mana yang harus ditempuh?

Bandung, le 14 Juin 2014

Friday, December 27, 2013

Belajar Berkisah


 

"Gue selalu merasa kalau permasalahan gue nggak serumit milik orang lain. Mereka pasti punya problem yang lebih besar. Jadi, nggak gunanya juga cerita sama mereka dan harusnya masih bisa diselesaikan sendiri,” ujarmu di suatu malam.

Ah, familiar. Agaknya pernyataan itu membawa saya mundur ke beberapa tahun silam. Ketika saya merasa lebih baik berada di kubus dengan dinding tebal yang dibuat sendiri. Rasanya terlalu egois untuk mengajak orang sekadar mampir dan mendengarkan cerita, sedangkan mereka punya urusan sendiri yang mungkin lebih berat –seperti yang kamu bilang. Bukankah mereka pun tak bakal bisa merasa dan berpikir seratus persen sama dengan apa yang ada di hati dan benak saya? Maka lebih baik, simpan saja dan nikmati kepenatan itu sendiri, tak perlu menyeret orang pada hal yang tak mereka alami. Belum lagi, perasaan bersalah segera menghampiri setelah memaksa diri berkisah pada mereka. Terus berlama-lama seperti itu hingga segala yang negatif mengendap dan hanya bisa menyeruak lewat tulisan-tulisan yang tak jelas intinya –dan bikin ngakak kalau dibaca sekarang.

Tapi dasar manusia peniru, lebih baik belajar saja dari perilaku orang lain demi bisa bertahan. Lihat saja, ada beberapa orang yang tak ambil pusing jika teman-temannya telah menanggung problem berat dan tetap mengocehkan tentang perkara pribadinya. Ada pula mereka yang sengaja bercerita demi dapat simpati, memaksa orang lain merasa dan berpikir tentang hal yang ada di dalam dirinya. Kadang pula, ada orang yang hanya mendengar sambil lalu dan tak peduli sama sekali dengan cerita yang telah disampaikan. Atau malah ada pula yang menaruh perhatian dan menyimak dengan seksama. Namun jika beruntung, ada juga mereka yang bikin kau berpikir makin keras dan malah bikin nyaman. Ada saja.

Tapi dunia tak selalu peduli dan kita tak selalu menjadi pusat perhatian. Belum tentu mereka ambil pusing atas celotehan kita yang tak jelas juntrungannya. Kadang saya, kamu, kita, dan kami tak butuh kebijaksanaan apapun. Yang dibutuhkan mungkin hanya seorang atau dua teman (yang cukup dipercaya) untuk duduk bersama, walaupun dia cuma akan duduk diam dengan wajah bosan, konsentrasi buyar, dan kantuk yang tertahan. Dan meski pada akhirnya kita akan selalu sendiri, label makhluk sosial tak bakal bisa hilang begitu saja. Ada yang hakiki dari pertemanan.

Kata orang bijak, bercerita adalah terapi dan eliksir. Adakalanya benar, meski banyak percakapan menarik hampir selalu terjadi di penghujung malam yang malah bikin sakit.

Sharing is caring. No?

Jakarta, Le 25 & 27 Decembre 2013

                                                                                                                                   
 

Monday, November 18, 2013

Bias Batas


Kabut tak segera terbilas
Meski hujan turun dengan lekas
Yang ada malah dingin yang makin beringas
Ditambah langkah yang malas
Pijakan yang tak jelas
Plus wajah yang kian melas
Tapi masih saja ada yang harus dibahas.


Dan di mana batas?
Atau memang selalu tak jelas?



Bagi Curtis (Chris Evans) dalam Snowpiercer, batas itu dikikis sedikit-sedikit selama 18 tahun. Dalam kurun waktu itu, ia merencanakan pemberontakan atas ketidakadilan yang diterima oleh orang-orang bagian ekor dari kereta superkuat itu. Pada saatnya, ia nekat menerjang para tentara Wilford Industry dan akhirnya membuktikan sendiri kalau senjata-senjata yang dipergunakan untuk menakuti mereka selama ini ternyata tak berpeluru. Dan demikian kisah dimulai. Segalanya berlanjut dan berakhir dengan plot yang ia sendiri tak mengerti. Tapi jelas ada yang berubah setelah batas diterabas.

Walter White (Bryan Cranston) dalam Breaking Bad pun hampir serupa. Dengan kanker yang menggerogoti dirinya, ia tahu harus binasakan batas apapun. Demi keluarganya, demi dirinya. Ia singkirkan sekat antara legal dan ilegal. Antara baik dan buruk. Antara pahala dan dosa. Antara sehat dan sakit. Antara rasa dan logika. Ia meleburkan semuanya meski tak selalu berhasil baik. Hidupnya terguncang dalam hening yang disimpannya sendiri. Dan jelas ada yang berubah setelah batas dilibas.

Jakarta, le 18 Novembre 2013


Thursday, November 14, 2013

Hati Hangat


Happiness

Suatu hari, saya duduk di sebuah bis kota yang akan mengantarkan saya ke rumah saudara. Di tengah jalan, saya melihat seorang ayah mengobrol sambil menggandeng anak laki-lakinya untuk menonton pertandingan bola di Senayan. Kali lain, saya berjalan di sebuah trotoar yang penuh sesak dengan pedagang. Di depan saya, seorang kakek menolong istrinya untuk turun dari mobil.

Lalu, pernah juga menjelang liputan, saya belum sempat makan siang tapi masih terjebak di taksi. Supirnya lalu minta izin untuk mengangkat telepon. Curi dengar dong pasti! Percakapannya singkat saja, sepertinya orang di seberang telepon mengingatkannya untuk makan siang. Dijawab bapak itu dengan, "Iya, setelah ini makan siang, sekarang sedang ada penumpang. Kamu makan apa?" Rupanya, sang cucu yang telepon dan "memerintah" kakeknya untuk makan siang.

Hal-hal kecil tersebut tak terasa bikin senyum saya terkembang. Hati lalu merasa hangat dan bikin mikir, kalau selalu saja ada hal yang bakal membuat hari indah. Seburuk apapun hari itu. Tanpa bermaksud sok positif atau terlalu optimis tapi toh memang begitu kenyataannya. Seringkali begitu. Pun ketika kesenangan hadir bertubi-tubi, pasti ada kemurungan yang muncul di pertengahan atau akhir hari. Ya, mungkin sudah hukum alam untuk mencoba mencapai keseimbangan.

Lalu, apa yang bisa bikin hati hangat malam ini dan sejenak lupakan pikiran-pikiran nggak penting yang berseliweran? Pertukaran pesan dan semangat dengan teman lama, ucapan selamat tidur dari kawan baik, pembicaraan ngalor ngidul, pelukan yang tak terduga, kenangan yang ambigu, bayangan tentang pantai, lagu favorit, atau tulisan ini (karena sudah lama nggak nge-blog. :p)?

Jakarta, 14 Novembre 2013

Monday, September 2, 2013

Ocehan Pejalan

Serenity.

Kalau ada yang bilang life is a journey, maka saya akan mengiyakan. Lalu jika ada yang bilang life is an absurd journey, maka saya akan angguk-angguk menyetujuinya. Tambah lagi, misalnya ada yang bilang life is a long absurd journey, saya akan mengamininya dengan lantang.

Di tengah lelah menjalani hidup yang tak bisa terduga, hebat juga manusia-manusia yang bisa terus bertahan hingga di akhir hayatnya. Ketika banyak juga yang memutuskan untuk segera mati dan mengakhiri perjalanan, maka adalah sebuah keberanian untuk melanjutkan hidup yang tak selalu mudah dan kadang terlalu berliku.

Maka tak salahlah –bagi yang memilih hidup–  jika mengambil jeda sejenak. Duduk bersandar pada pohon yang teduh. Menenggak air dingin atau teh rasa peppermint yang melegakan kerongkongan. Menghela napas sedalam mungkin hingga oksigen memenuhi rongga paru-paru. Dan mengudap sekerat roti untuk menambah tenaga. Atau berbelok sedikit dari tujuan untuk mendapatkan penghiburan.Atau juga pejamkan mata berdetik-detik agar tercapai lagi keseimbangan yang seharusnya.

Maka berterimakasihlah pada semesta jika masih ada orang yang mau menemani berjalan menyusuri ketidakpastian. Sebagai tempat berbagi lelah yang dirasa dan menyandarkan tubuh di kala goyah. Dengarkan ocehan-ocehannya yang kadang tak masuk akal karena dehidrasi dan delusi. Biar berbalas argumen yang tak bakal berujung. Genggam erat jemarinya karena tak tahu hingga kapan ia betah menemanimu berjalan bersisian. Lepaskan tawa tanpa beban yang mengurangi rasa jengah yang mendera.

Setelah perbincangan di akhir minggu bersama beberapa teman baik.

Jakarta, le 1 & 2 Fevrier 2013

Monday, July 22, 2013

Keluh Kesah

Kamis lalu, setelah bergulat dengan macet yang menyesakkan dada pas pergi ke tempat liputan, saya memutuskan untuk bertemu seorang teman sebelum pulang ke kosan. Teman lama yang sudah tua. Hahaha. *dikeplak* Dia tinggal di Bogor dan tak setiap hari datang ke Jakarta. Pekerjaannya sebagai pekerja lepas di sebuah media bertema teknologi bikin dia lebih pilih ngendon sendirian di rumah. Sebelumnya, kami sempat janjian untuk bertemu karena saya berniat mengembalikan barang yang saya pinjam berbulan-bulan lalu. Tapi sulit sekali rupanya mencocokkan jadwal kuli-kuli ini. Beberapa kali janjian tapi tak pernah terlaksana.

Seperti jamaknya pertemuan-pertemuan sebelumnya, kami berbagi informasi tentang gadget. Dia memang punya ketertarikan tersendiri pada benda-benda seperti itu, geek, sedangkan saya juga menulis tentang gadget, suka pada benda-benda mahal itu, tapi gaptek. Hahahahaha. Pembicaraan berlanjut ke hal yang lebih serius. Tentang keinginan-keinginan membeli gadget tapi alokasi dana terlalu terbatas. Maka obrolan malam itu berujung pada ketidakpuasan kami dengan upah dan kerja yang didapat. Ya, namanya juga anak muda. Haha. 

Saya ingat nyeletuk, "Aduh, maaf ya, aku ngeluh terus." Lalu dia jawab dengan enteng, "Ya, nggak apa-apalah sekali-sekali ngeluh, nggak bayar ini kan?" Dan saya senang karena dia bilang begitu.

Selama ini, saya berusaha tak mengeluh, jikapun berkeluh-kesah, dalam hati saja. Tak usah diungkapkan. Meski kadang berhasil, kadang juga tidak, karena godaan untuk melakukannya terlalu besar. Kerjaan yang nggak selesai-selesai, teman-teman yang menjengkelkan, cucian yang nggak kering-kering, ibu yang susah diajak bicara, sepatu yang rusak, dan lain-lainnya. Banyak banget hal yang bisa bikin saya mengeluh setiap hari! Namun, dengan disertai akal jernih, saya sebisa mungkin menyimpan keluhan itu dalam hati. Kalau sudah tak tahan, teman-teman dekat bakal jadi tempat sampah untuk menampung ocehan-ocehan itu. Tak jarang, yang terjadi juga sebaliknya. Saya mengeluh dalam hati, mereka mengungkapkan keluhannya dan saya langsung bersyukur karena hidup saya tak seribet mereka. Lagipula, terlalu sering mengeluh juga menurut saya nggak asyik karena bikin orang lain terinfeksi, buang tenaga, dan bikin nggak semangat.

Tapi malam itu lain, seorang teman malah mengingatkan kalau kita boleh mengeluh dan berbagi kekhawatiran. Sedikit saja, sekali-sekali saja. Halal. Gratis pula. Siapa tahu malah bebannya sedikit berkurang. Dan lalu saya sambut ungkapannya, "That's why i need to talk to you and the other friends sometimes." Bagaimanapun, saya memang punya kebutuhan untuk bertemu dengan salah satu dari mereka untuk tetap waras. Dan lalu ia balas, "Yaelah, kayak baru kenal kemarin deh."

Lalu dua orang teman lainnya menyusul dan mereka bikin hari saya tambah menyenangkan. ;)


Bandung, le 21 Juillet 2013

Wednesday, July 17, 2013

Terus Tulis



Atau harus mengetik pakai ini?


Mana, katanya minimal sebulan satu tulisan? Hahaha. Janji yang tak pernah tertepati.

Beberapa minggu terakhir, saya banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke blog orang. Kalau biasanya untuk kepuasan sendiri, kali ini untuk tugas kantor.. Mau tidak mau, saya jadi banyak baca tulisan orang-orang. Rasanya malu sendiri karena tak rajin mengisi blog ini. Entah bagaimana, mereka-mereka itu kok bisa konsisten menulis di jurnal pribadinya. Seperti ada saja hal seru yang bisa diceritakan dan punya cukup waktu untuk mengelola rumahnya dengan rajin. *tutup muka* Bahkan ada rasa sebal ketika si empunya blog yang saya kunjungi tak rutin menulis. Mungkin itu yang dirasakan ketika orang bermain ke lahan saya ini. Eh, itu juga kalau ada yang bertamu sih. Hahaha.

Perkara menulis ini memang gampang-gampang susah sih. Apalagi untuk seseorang yang bekerja di media dan bagian redaksi pula. Kalau analisis saya dan teman-teman, walaupun menulis untuk diri sendiri itu semacam upaya pelepasan stres tapi pekerjaan sehari-hari yang memaksa menulis juga sudah bikin jengah. Jadi ya, terabaikan. Pa to the yah! Mau dirangsang dengan suasana nyaman untuk ketak-ketik pun tetap saja kata-kata yang berseliweran di otak tak bisa tersalurkan dengan lancar. Hyah!

Dari blogwalking ini, saya makin sadar kalau bisa menilai dan merasai orang dari tulisannya. Beberapa bahkan ada yang bikin mangap karena pemikirannya. Lalu jadi menelusuri rasa para blogger yang dituangkan lewat untaian kata-kata yang mereka pilih. Hebat mereka itu!

Yuk ah, nulis lagi.


Tapi bohong lagi pasti. Hahaha.
Apalagi di tengah deadline menjelang Lebaran ini. Ouch!


 Jakarta, le 16 Juillet 2013.

Friday, March 15, 2013

Harus Hilang


I postpone death by living, by suffering, by error, by risking, by giving, by losing. (Anaïs Nin)

Sudah berapa kali kamu mengalami kehilangan? Jepit rambut, uang, telepon genggam, kartu ATM, dompet, tas, komputer jinjing, buku, baju, sepatu, dan bahkan, seseorang. Saya sudah mengalami semuanya. Bagus! Jadi, harusnya sudah terbiasa dengan kehilangan dan tak sedih-sedih amat ketika mengalaminya kembali. Tapi apa memang jadi seperti itu? Apakah jadi numb ketika benda-benda itu tercecer atau orang-orang itu lenyap untuk ke sekian kalinya? Tidak, sama sekali tidak.

 Tetap saja ada sesal dan kesal dalam diri mengapa tidak menjaganya baik-baik, mengapa tidak sempat melihat atau mengucapkan kata-kata perpisahan yang pantas untuk terakhir kalinya? Sounds pathetic? Memang. Apalagi bagi saya terbiasa mengucapkan ‘terima kasih’ (dalam hati, tentunya) untuk barang-barang yang sering saya gunakan, terutama yang over abused. Haha. Oh, dan satu lagi, apalagi kalau barang itu mahal dan tak bisa dibeli semudah menjentikkan jari. Tak bakal nangis-nangis dan peluk-peluk pohon sih tapi rasa dongkol itu yang tak gampang dihilangkan. Antara mengutuki keteledoran diri, mengambinghitamkan ketidakberuntungan, atau menyalahkan diri sendiri tanpa sebab. Apa memang separah itu? Kadang-kadang begitu, saya akui. Yang seringnya lagi, kita tak menyadari di mana hilangnya benda-benda tersebut, diingat-ingat seberapa keras pun tetap tak ingat. Tak juga tahu bagaimana proses hilangnya (jangan ada yang bilang: kalau tahu prosesnya, maka bukan hilang namanya. Zzz.). Dan itulah yang dikatakan teman saya semalam, “Iya, hal yang paling buruk dari kehilangan adalah kamu nggak tahu apa yang terjadi.”

 Sebenarnya, saya juga tak posesif-posesif amat pada barang-barang yang saya miliki. Atau justru seharusnya malah posesif? Tapi kalau dipikir-pikir, memang ada benarnya perlakuan Ryan Bingham di Up in The Air. Ia bekerja untuk memecat orang, tanpa hati, tanpa pikir panjang, dan hanya menjalankan pesanan dari perusahaan yang tak sampai hati merumahkan pegawainya. Intinya, lelaki tampan yang diperankan oleh George Clooney itu bilang, tak perlulah kita merasa punya intimasi atau rasa memiliki pada benda-benda dan orang-orang di sekitar kita. Agar pundak tetap terasa ringan, tak ada pengikat, dan langkah pun jadi ringan. Hilang satu tentu tak masalah, tak bakal ada kesedihan karena perasaan kosong yang terbawa pergi bersama orang atau benda itu. Ah.

Mau berlaku seperti itu? Tapi akhirnya, ia pun merasa ada sesuatu yang kosong dan harus diisi dengan perasaan memiliki atas benda atau orang. Seperti itulah lebih kurang.

 Jadi, bagaimana? Sudahlah, sepertinya memang selalu harus ada rasa yang hilang bersamaan dengan kehilangan atas sesuatu. Meski sedikit. Meski hanya sepersejuta persen. Deal with it.


Jakarta, le 15 Mars 2013