Showing posts with label sarwari. Show all posts
Showing posts with label sarwari. Show all posts

Tuesday, October 14, 2014

Suara Sunyi

Siapa masih rutin buka Facebook? Saya! Setiap hari saya masih buka jejaring sosial yang satu itu, meski jarang banget posting –kecuali berbagi tautan, hehehe. Kemarin pas buka, saya lihat ada tautan blog milik senior di kampus (dulu). Beberapa kali memang saya mampir ke catatan pribadinya dan kemarin, di sela tenggat waktu yang bikin puyeng, saya kembali berkunjung. Satu catatannya yang teringat sampai sekarang adalah tentang suara jahat dan suara baik.

Belakangan ini, rasanya sulit sekali bikin hidup jadi positif. Jelaslah, karena ada berbagai alasan yang membuat semua hal negatif tak segera lelah berputar-putar di otak. Layaknya melodi musik, suara-suara jahat itu mengawang di otak bagian belakang. Bolak-balik saja, seperti nggak ada pekerjaan. Dan ia makin bergemuruh ketika ada satu orang lagi yang mengundurkan diri dari kantor, respon negatif, atau hal semacamnya. Dia, yang bergemuruh itu, rajin memanas-manasi saya untuk mundur juga dan menyerah karena lelah tak terkira. “Sudahlah, berhenti saja, apalagi yang kau perjuangkan?” begitu kurang lebih ujarnya. Dan butuh beberapa tarikan napas panjang untuk mengusirnya dan meyakinkan diri jika saya masih sanggup dan memang ingin mencapai destinasi yang ditetapkan sebelumnya. Itupun tak serta merta hilang. Jejaknya masih saja ada dan kerap bertambah dalam di waktu-waktu tertentu.

Lalu, suara-suara baik pun tak kalah ramai ingin ikut serta. Dia datang untuk membantu menyeimbangkan –atau melawan- suara negatif yang sudah hadir duluan. Suara itu hasil sinergi dari logika, rasa nyaman, dan semangat dari dunia luar. “Coba bertahan sedikit lagi. Hingga sampai di garis akhir yang kau damba,” sahutnya ketika suara jahat mulai muncul. Seringnya, suara baik yang menang dan saya kembali bangkit dengan sikap siaga. Seperti Usain Bolt sebelum bertolak mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari di lintasan.

Hingga kini, pergulatan batin –dan suara- itu tak pernah luruh sepenuhnya.

Jakarta, le 12 Septembre 2014 et 14 Octobre 2014

Saturday, June 14, 2014

Pola Pikir






Kemarin, seorang teman mengunggah satu foto yang berisi kutipan. Jangan khawatir, begitu lebih kurang isinya. Tak perlulah habiskan berjam-jam untuk memikirkan sesuatu yang memang tak bakal ditemukan jawabannya di masa ini. 

Tapi itu adalah pilihan. And I’m not a decision maker. Pilihan-pilihan mudah pun bisa jadi sulit untuk saya yang (sudah tertular) otak ruwet. Pilih kaus biru atau hitam? Singapura atau Thailand untuk perjalanan selanjutnya? Lebih bagus sepatu maroon atau krem? Pakai kemeja atau kaus ke kantor? Lalu apa padanannya, rok atau celana? Celana kain atau jeans? Bungee jumping atau tidak? Pulang ke Bandung minggu ini atau minggu depan? Bicara dengannya atau tidak? Telepon narasumber sore ini atau besok pagi? Makan siang soto atau pecel? Beli laptop atau harddisk eksternal dulu? Dan daftarnya masih terus bertambah. Panjang. Sangat panjang. 

Hidup memang penuh dengan pilihan. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan hingga bertahun-tahun selanjutnya. Bagi sebagian orang, memilih adalah bernapas. Mudah, tak perlu dipikirkan. Sebut saja! Sedangkan bagi saya, pilihan adalah serupa soal Fisika dalam SPMB. Sulit. Nyaris tak terpecahkan. Pikiran sudah berjalan bahkan sejak pilihan itu masih samar. Plus, memikirkan akibat-akibatnya atau apa yang mungkin terjadi setelah itu. Padahal seringnya, keputusan itu hanya dibuat sedetik. Tanpa pemikiran yang sebelumnya sudah mengular dan berhimpitan di kepala. Dan tak berakibat fatal sama sekali. Ironis. Atau oksimoron. 

Memilih, atau proses menentukan pilihan, itu terlalu menggelitik untuk ditimbang baik dan buruknya, positif dan negatifnya, atau benar tidaknya. Pelik, bagi saya. 

Misalnya saja tentang masa depan. Kekhawatiran atas hal yang tak pasti menghadapkan kita pada dua pilihan: jalani saja apa adanya tanpa banyak berpikir atau pikirkan matang-matang agar jelas pijakan serta arahnya. Yang pertama menggoda untuk dilakoni. Tapi yang kedua juga jelas bukan tindakan bodoh.

Yang mana yang harus ditempuh?

Bandung, le 14 Juin 2014

Friday, January 10, 2014

Kilas 2013

Just go!

Kata apa yang pantas disematkan pada 2013 yang telah berlalu? Sayangnya, kamus bahasa saya tak menemukan kata yang pas. Tapi seperti layaknya momen, ada saja naik dan turun, bahagia dan sedih, panas dan dingin, marah dan tawa, dan rasa-rasa lainnya. Tapi, jika ditelusuri dan diingat-ingat lagi, sepertinya lebih banyak saya rasa bingung. Harus banget ditulis? Harus ah!


Banyak hal -terlalu banyak- yang terjadi di tahun itu dan itu cukup menguras emosi serta pikiran. Tahun kemarin, apalagi di akhir tahun, sepertinya jadi “ujian” untuk lebih dewasa (?). Hahaha. Atau bisa juga sebagai peringatan untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Sayangnya, hal itu tetap tak saya lakukan. Saya lebih memilih untuk tetap bingung, memikirkan dan merasakannya setengah-setengah, berkelahi dengan diri sendiri, tanpa keputusan apa-apa, tanpa tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Oke, ini adalah masalah hubungan personal. Hahaha, ternyata ada bakat curcol.

Lalu, ada apa dengan pekerjaan? Makin nggak jelas juga. Antara gitu-gitu aja atau makin parah. Yang pasti sih karena kurang konsentrasi. Kenapa? Nggak tahu juga, mungkin sih karena poin pertama itu. Jadi, kalau boleh menilai diri sendiri dan ada rapornya, nilainya pasti merah meski saya tetap berusaha untuk lakukan sebaik yang saya bisa. Padahal, satu-satunya komitmen saya hanya untuk hal ini. Hahaha. Ya sudahlah.

Tahun lalu, saya menjadi pembenci, sangat negatif. Sumpah serapah pada pekerjaan, merusak relasi antarpersonal, membelenggu pertemanan, dan bahkan, membenci dan menenggelamkan diri sendiri. Gawat-segawat-gawatnya. Tapi menjadi positif itu pilihan ‘kan? Di sela rasa yang tak karuan itu, saya berupaya keras untuk tetap “hidup”. Setidaknya ketika bersama teman-teman yang sudah selalu baik. Bersyukur sekali atas kehadiran mereka-mereka itu. :)

Ah, mungkin cuma kurang vakansi.

Selalu saja ada yang seru di setiap tahun. Selain hal-hal negatif di atas, untungnya masih ada yang menyenangkan di tahun lalu. Teman yang masih bisa diajak bercerita, kebahagiaan mereka, kejadian tak terduga, outing kantor, dan liburan (sembari kerja) menjelang ulang tahun. Setidaknya masih ada yang bikin ma vie en rose. Hamdallah!


Dan mantra di awal tahun tak bakal pernah berubah: tahun ini pasti akan lebih menyenangkan dari tahun lalu. Haqqul yakin!


Jakarta, le 10 Janvier 2014

Friday, December 27, 2013

Belajar Berkisah


 

"Gue selalu merasa kalau permasalahan gue nggak serumit milik orang lain. Mereka pasti punya problem yang lebih besar. Jadi, nggak gunanya juga cerita sama mereka dan harusnya masih bisa diselesaikan sendiri,” ujarmu di suatu malam.

Ah, familiar. Agaknya pernyataan itu membawa saya mundur ke beberapa tahun silam. Ketika saya merasa lebih baik berada di kubus dengan dinding tebal yang dibuat sendiri. Rasanya terlalu egois untuk mengajak orang sekadar mampir dan mendengarkan cerita, sedangkan mereka punya urusan sendiri yang mungkin lebih berat –seperti yang kamu bilang. Bukankah mereka pun tak bakal bisa merasa dan berpikir seratus persen sama dengan apa yang ada di hati dan benak saya? Maka lebih baik, simpan saja dan nikmati kepenatan itu sendiri, tak perlu menyeret orang pada hal yang tak mereka alami. Belum lagi, perasaan bersalah segera menghampiri setelah memaksa diri berkisah pada mereka. Terus berlama-lama seperti itu hingga segala yang negatif mengendap dan hanya bisa menyeruak lewat tulisan-tulisan yang tak jelas intinya –dan bikin ngakak kalau dibaca sekarang.

Tapi dasar manusia peniru, lebih baik belajar saja dari perilaku orang lain demi bisa bertahan. Lihat saja, ada beberapa orang yang tak ambil pusing jika teman-temannya telah menanggung problem berat dan tetap mengocehkan tentang perkara pribadinya. Ada pula mereka yang sengaja bercerita demi dapat simpati, memaksa orang lain merasa dan berpikir tentang hal yang ada di dalam dirinya. Kadang pula, ada orang yang hanya mendengar sambil lalu dan tak peduli sama sekali dengan cerita yang telah disampaikan. Atau malah ada pula yang menaruh perhatian dan menyimak dengan seksama. Namun jika beruntung, ada juga mereka yang bikin kau berpikir makin keras dan malah bikin nyaman. Ada saja.

Tapi dunia tak selalu peduli dan kita tak selalu menjadi pusat perhatian. Belum tentu mereka ambil pusing atas celotehan kita yang tak jelas juntrungannya. Kadang saya, kamu, kita, dan kami tak butuh kebijaksanaan apapun. Yang dibutuhkan mungkin hanya seorang atau dua teman (yang cukup dipercaya) untuk duduk bersama, walaupun dia cuma akan duduk diam dengan wajah bosan, konsentrasi buyar, dan kantuk yang tertahan. Dan meski pada akhirnya kita akan selalu sendiri, label makhluk sosial tak bakal bisa hilang begitu saja. Ada yang hakiki dari pertemanan.

Kata orang bijak, bercerita adalah terapi dan eliksir. Adakalanya benar, meski banyak percakapan menarik hampir selalu terjadi di penghujung malam yang malah bikin sakit.

Sharing is caring. No?

Jakarta, Le 25 & 27 Decembre 2013

                                                                                                                                   
 

Monday, November 18, 2013

Bias Batas


Kabut tak segera terbilas
Meski hujan turun dengan lekas
Yang ada malah dingin yang makin beringas
Ditambah langkah yang malas
Pijakan yang tak jelas
Plus wajah yang kian melas
Tapi masih saja ada yang harus dibahas.


Dan di mana batas?
Atau memang selalu tak jelas?



Bagi Curtis (Chris Evans) dalam Snowpiercer, batas itu dikikis sedikit-sedikit selama 18 tahun. Dalam kurun waktu itu, ia merencanakan pemberontakan atas ketidakadilan yang diterima oleh orang-orang bagian ekor dari kereta superkuat itu. Pada saatnya, ia nekat menerjang para tentara Wilford Industry dan akhirnya membuktikan sendiri kalau senjata-senjata yang dipergunakan untuk menakuti mereka selama ini ternyata tak berpeluru. Dan demikian kisah dimulai. Segalanya berlanjut dan berakhir dengan plot yang ia sendiri tak mengerti. Tapi jelas ada yang berubah setelah batas diterabas.

Walter White (Bryan Cranston) dalam Breaking Bad pun hampir serupa. Dengan kanker yang menggerogoti dirinya, ia tahu harus binasakan batas apapun. Demi keluarganya, demi dirinya. Ia singkirkan sekat antara legal dan ilegal. Antara baik dan buruk. Antara pahala dan dosa. Antara sehat dan sakit. Antara rasa dan logika. Ia meleburkan semuanya meski tak selalu berhasil baik. Hidupnya terguncang dalam hening yang disimpannya sendiri. Dan jelas ada yang berubah setelah batas dilibas.

Jakarta, le 18 Novembre 2013


Thursday, November 14, 2013

Hati Hangat


Happiness

Suatu hari, saya duduk di sebuah bis kota yang akan mengantarkan saya ke rumah saudara. Di tengah jalan, saya melihat seorang ayah mengobrol sambil menggandeng anak laki-lakinya untuk menonton pertandingan bola di Senayan. Kali lain, saya berjalan di sebuah trotoar yang penuh sesak dengan pedagang. Di depan saya, seorang kakek menolong istrinya untuk turun dari mobil.

Lalu, pernah juga menjelang liputan, saya belum sempat makan siang tapi masih terjebak di taksi. Supirnya lalu minta izin untuk mengangkat telepon. Curi dengar dong pasti! Percakapannya singkat saja, sepertinya orang di seberang telepon mengingatkannya untuk makan siang. Dijawab bapak itu dengan, "Iya, setelah ini makan siang, sekarang sedang ada penumpang. Kamu makan apa?" Rupanya, sang cucu yang telepon dan "memerintah" kakeknya untuk makan siang.

Hal-hal kecil tersebut tak terasa bikin senyum saya terkembang. Hati lalu merasa hangat dan bikin mikir, kalau selalu saja ada hal yang bakal membuat hari indah. Seburuk apapun hari itu. Tanpa bermaksud sok positif atau terlalu optimis tapi toh memang begitu kenyataannya. Seringkali begitu. Pun ketika kesenangan hadir bertubi-tubi, pasti ada kemurungan yang muncul di pertengahan atau akhir hari. Ya, mungkin sudah hukum alam untuk mencoba mencapai keseimbangan.

Lalu, apa yang bisa bikin hati hangat malam ini dan sejenak lupakan pikiran-pikiran nggak penting yang berseliweran? Pertukaran pesan dan semangat dengan teman lama, ucapan selamat tidur dari kawan baik, pembicaraan ngalor ngidul, pelukan yang tak terduga, kenangan yang ambigu, bayangan tentang pantai, lagu favorit, atau tulisan ini (karena sudah lama nggak nge-blog. :p)?

Jakarta, 14 Novembre 2013

Monday, July 22, 2013

Keluh Kesah

Kamis lalu, setelah bergulat dengan macet yang menyesakkan dada pas pergi ke tempat liputan, saya memutuskan untuk bertemu seorang teman sebelum pulang ke kosan. Teman lama yang sudah tua. Hahaha. *dikeplak* Dia tinggal di Bogor dan tak setiap hari datang ke Jakarta. Pekerjaannya sebagai pekerja lepas di sebuah media bertema teknologi bikin dia lebih pilih ngendon sendirian di rumah. Sebelumnya, kami sempat janjian untuk bertemu karena saya berniat mengembalikan barang yang saya pinjam berbulan-bulan lalu. Tapi sulit sekali rupanya mencocokkan jadwal kuli-kuli ini. Beberapa kali janjian tapi tak pernah terlaksana.

Seperti jamaknya pertemuan-pertemuan sebelumnya, kami berbagi informasi tentang gadget. Dia memang punya ketertarikan tersendiri pada benda-benda seperti itu, geek, sedangkan saya juga menulis tentang gadget, suka pada benda-benda mahal itu, tapi gaptek. Hahahahaha. Pembicaraan berlanjut ke hal yang lebih serius. Tentang keinginan-keinginan membeli gadget tapi alokasi dana terlalu terbatas. Maka obrolan malam itu berujung pada ketidakpuasan kami dengan upah dan kerja yang didapat. Ya, namanya juga anak muda. Haha. 

Saya ingat nyeletuk, "Aduh, maaf ya, aku ngeluh terus." Lalu dia jawab dengan enteng, "Ya, nggak apa-apalah sekali-sekali ngeluh, nggak bayar ini kan?" Dan saya senang karena dia bilang begitu.

Selama ini, saya berusaha tak mengeluh, jikapun berkeluh-kesah, dalam hati saja. Tak usah diungkapkan. Meski kadang berhasil, kadang juga tidak, karena godaan untuk melakukannya terlalu besar. Kerjaan yang nggak selesai-selesai, teman-teman yang menjengkelkan, cucian yang nggak kering-kering, ibu yang susah diajak bicara, sepatu yang rusak, dan lain-lainnya. Banyak banget hal yang bisa bikin saya mengeluh setiap hari! Namun, dengan disertai akal jernih, saya sebisa mungkin menyimpan keluhan itu dalam hati. Kalau sudah tak tahan, teman-teman dekat bakal jadi tempat sampah untuk menampung ocehan-ocehan itu. Tak jarang, yang terjadi juga sebaliknya. Saya mengeluh dalam hati, mereka mengungkapkan keluhannya dan saya langsung bersyukur karena hidup saya tak seribet mereka. Lagipula, terlalu sering mengeluh juga menurut saya nggak asyik karena bikin orang lain terinfeksi, buang tenaga, dan bikin nggak semangat.

Tapi malam itu lain, seorang teman malah mengingatkan kalau kita boleh mengeluh dan berbagi kekhawatiran. Sedikit saja, sekali-sekali saja. Halal. Gratis pula. Siapa tahu malah bebannya sedikit berkurang. Dan lalu saya sambut ungkapannya, "That's why i need to talk to you and the other friends sometimes." Bagaimanapun, saya memang punya kebutuhan untuk bertemu dengan salah satu dari mereka untuk tetap waras. Dan lalu ia balas, "Yaelah, kayak baru kenal kemarin deh."

Lalu dua orang teman lainnya menyusul dan mereka bikin hari saya tambah menyenangkan. ;)


Bandung, le 21 Juillet 2013

Wednesday, July 17, 2013

Terus Tulis



Atau harus mengetik pakai ini?


Mana, katanya minimal sebulan satu tulisan? Hahaha. Janji yang tak pernah tertepati.

Beberapa minggu terakhir, saya banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke blog orang. Kalau biasanya untuk kepuasan sendiri, kali ini untuk tugas kantor.. Mau tidak mau, saya jadi banyak baca tulisan orang-orang. Rasanya malu sendiri karena tak rajin mengisi blog ini. Entah bagaimana, mereka-mereka itu kok bisa konsisten menulis di jurnal pribadinya. Seperti ada saja hal seru yang bisa diceritakan dan punya cukup waktu untuk mengelola rumahnya dengan rajin. *tutup muka* Bahkan ada rasa sebal ketika si empunya blog yang saya kunjungi tak rutin menulis. Mungkin itu yang dirasakan ketika orang bermain ke lahan saya ini. Eh, itu juga kalau ada yang bertamu sih. Hahaha.

Perkara menulis ini memang gampang-gampang susah sih. Apalagi untuk seseorang yang bekerja di media dan bagian redaksi pula. Kalau analisis saya dan teman-teman, walaupun menulis untuk diri sendiri itu semacam upaya pelepasan stres tapi pekerjaan sehari-hari yang memaksa menulis juga sudah bikin jengah. Jadi ya, terabaikan. Pa to the yah! Mau dirangsang dengan suasana nyaman untuk ketak-ketik pun tetap saja kata-kata yang berseliweran di otak tak bisa tersalurkan dengan lancar. Hyah!

Dari blogwalking ini, saya makin sadar kalau bisa menilai dan merasai orang dari tulisannya. Beberapa bahkan ada yang bikin mangap karena pemikirannya. Lalu jadi menelusuri rasa para blogger yang dituangkan lewat untaian kata-kata yang mereka pilih. Hebat mereka itu!

Yuk ah, nulis lagi.


Tapi bohong lagi pasti. Hahaha.
Apalagi di tengah deadline menjelang Lebaran ini. Ouch!


 Jakarta, le 16 Juillet 2013.

Friday, May 10, 2013

Soal Sigur Rós di Singapura


Dalam rangka nggak jadi nonton Sigur Rós di Indonesia, maka saya putuskan untuk menyelesaikan tulisan yang nggak pernah kelar sejak enam bulan lalu ini. Sedikit banyak, inilah ceritanya.
  
Setelah segelas bir (mahal) habis, akhirnya mereka muncul juga di panggung. Layar mulai ramai dengan video dan bebunyian dari alat musik gesek bersahutan dengan denting glockenspiel. Teriakan “Cang ci men, cang ci men!” ala bis di Indonesia dan “Please sit down!” pun berganti dengan Icelandic dan Hopelandic dari Jónsi. Seketika kekecewaan nggak jadi foto bersama si vokalis (padahal udah sebelah-sebelahan) pun terobati. Perjalanan resmi dimulai!

Seperti biasanya ketika saya mendengarkan musik-musik Sigur Rós, kali ini mereka juga bawa efek yang sama. Bulu kuduk meremang dan bukannya hilang dan tenang, pikiran makin melantur tak karuan dan berdatangan minta penyelesaian. Di beberapa lagu, efeknya berkali lipat. Bikin pengen nangis dan peluk semua orang yang datang di situ. Hahaha. Duh, lebay ya? Nggak sih. Karena memang itu yang benar-benar saya rasakan ketika menonton mereka dari jarak dekat. Coba kalau punya sayap, kayaknya saya sudah melayang-layang di langit sambil nonton konser ini. Luar biasa. Satu hal dalam bucket list akhirnya bisa saya coret.

Setelah dibuka dengan “Í Gær”, konser malam itu dilanjutkan dengan “Vaka” yang bikin gelisah. Lagu ketiga, “Glósóli”, pun makin megah berkat gesekan (iya, digesek) gitar Jónsi dan hentakan drum Orri yang penuh energi. Keren bangettttt! Dan selanjutnya, hampir tanpa jeda, mereka membawakan “Svefn-g-englar” dari album Ágætis byrjun, “Sæglópur” yang intronya enak banget, dan “Fljótavik”, salah satu lagu kesayangan saya. Uyeah! Selama konser, kami sudah nggak bisa komentar apa-apa lagi, cuma bisa bengong, takjub, dan sesekali teriak-teriak “Oh My God” atau “Oh, Tuhan!”. Benar-benar membius! Apalagi Jónsi benar-benar nggak ngomong sepatah kata pun di pergantian lagu. Mereka nggak ngasih kesempatan untuk sebentar saja ke menapak ke tanah, sebaliknya malah terus-terusan menghujani kami dengan lagu-lagu indah itu. Semacamnya mereka pengen bilang, “Nih, rasain! Let your vein and spine absorb it all.”


Lumayan enak posisi nontonnya. :D

KLB: Konser Luar Biasa!

Akhirnya, di tengah-tengah intro yang sangat lekat di telinga, si mas vokalis baru deh bilang terima kasih pada penonton yang sudah datang. Lalu mengalunlah “Hoppippolla” yang diiringi teriakan penonton pas Hoppippolla-nya doang dan seperti biasa, disambung dengan “Með “Blóðnasir. Pas dua lagu ini, grafis yang ditayangkan di backdrop-nya bagus banget! Apalagi pas bagian Jónsi ngajak penonton nyanyi. Super! Lanjut lagi, mereka bawakan “Olsen Olsen” yang diiringi suara oboe yang menenangkan. Makinlah kami membayangkan nonton mereka di Islandia sana, macamnya di Heima itu. Ketenangan pecah ketika “Festival” memasuki bagian refrain. Bising banget, tapi bising yang merdu! Halah. Setelah berasyik-masyuk di masa lalu, inilah saatnya mereka bawakan lagu-lagu dari album Valtari. Yang dibawakan pertama adalah “Varúð” yang diiringi gerimis manis. Setelah penutup yang heboh, Jonsi bilang terima kasih lagi sambil memperkenalkan lagu terakhir. Lagu ini adalah lagu terbaru mereka dari album yang akan datang, “Brennisteinn” dari Kveikur.

Meski Sigur Rós telah mencukupkan konser itu tapi penonton bilang belum cukup dong pastinya. Masih pengen pada orgasm dan eargasm kayaknya. Maka diberilah kami dua lagu lagi: “Ekki Múkk” yang disajikan lengkap dengan video klipnya dan Untitled 8 atau “Popplagið”. Dan di dua lagu terakhir itulah hujan turun. Bukan gerimis manis, tapi hujan lumayan deras  dan makin deras yang bikin semua penonton malah teriak dan tepuk tangan kegirangan. MAGICAL!

Meski kuyup tapi semua pulang dengan keadaan berbahagia. Ada beberapa lagu kesukaan yang nggak dibawakan sih, macamnya “All Alright”. Tapi udahlah, memang nggak bisa protes apapun karena konsernya menyenangkan sekali. Brass dan string section-nya juga bagus! Bikin pertunjukan makin megah, nyesss, dan ramai.

Jarang inget maksud atau arti lagunya sih, tapi tetap saja mampu bikin suara tercekat, pikiran ngalor-ngidul-sekaligus-kosong, mata merem melek biar air mata yang jatuh nggak terlalu banyak, deg-degan, menggigil karena keujanan, semuanya campur aduk. Sampai sekarang, masih suka girang dan merinding sendiri kalau ingat konser itu. Soalnya belum nonton Coldplay. Hahaha.

Konser November 2012 di Fort Canning Park itu pun berasa seperti di Indonesia, dengan cuaca yang adem dan yang datang pun mungkin tujuh puluh persennya adalah orang Indonesia. Hahaha. Jadi, kalau ada yang mau nonton hari ini di Tennis Indoor Senayan, silakan menikmati sepenuh hati!


Fotonya diambil dari sini. (1) Sebelum konser mulai. (2) Hujan di pengujung. (3) Takk!


Takk, Sigur Rós!

*Fotonya hanya pakai kamera ponsel yang seadanya karena kami nggak ada yang bawa kamera beneran. :p




Jakarta, le 10 Mai 2013

Tuesday, March 12, 2013

TAKK!*


Anggap saja aku yang sedang menunduk itu. Hihi.

Sudah sedari lama saya tahu kalau saya tak boleh mengandalkan orang lain. Hanya bisa mengandalkan diri yang teledor ini dan, bahkan, ada kalanya orang tua pun tak bisa diandalkan. Apalagi mereka pula yang mengajarkan agar saya tak mengandalkan orang lain dan berdikari. Tapi sialnya, selalu ada kejadian tak diinginkan yang bikin saya merepotkan orang lain. Tak sering memang, tapi cukup bikin saya malu hati karena bikin mereka ikut susah. Hehe. Namun, dari situ justru saya sering disadarkan kalau saya punya teman-teman baik yang masih menganggap saya teman dan mau direpotkan. Ya, minimal satu atau dua di antaranya. Di balik sikap dan sifat yang kadang mengesalkan, pertemanan yang lebih dari lima tahun ini sudah teruji dengan segala kebaikan mereka yang sering tak terduga. 

1.
Tergesa di bandara yang jauh sekali dari rumah. Butuh uang mendadak dalam jumlah lumayan. Terburu waktu. Tak kenal siapapun di sana. Untung ada wi-fi dan e-mail, jadi bisa menghubungi si wartawan ekonomi yang banyak tanya. Dia transfer beberapa menit kemudia. Dan berkat dia, saya bisa pulang. Dan begitu sampai, ada teman yang bersedia menjemput meski ia sedang letih setelah ini itu.

2.
Baru ngeh kalau dompet tak dibawa. Pulang ke kosan untuk mengecek. Ternyata nihil! Pulsa tinggal Rp500. Minta tolong teman untuk menghubungi café yang didatangi semalam. Lalu minta isikan pulsa supaya bisa menelepon sana sini. Dua detik kemudian, pulsa bertambah dalam nominal yang lumayan. 

3.
Sudah pasti dompet hilang. Uang di kantong hanya Rp12.000 karena dipakai pulang ke kosan untuk mengecek keberadaan si benda kecil berwarna gelap itu dan ke salah satu mall yang didatangi malam sebelumnya karena berasumsi kalau si dompet tertinggal di sana. Salah besar. Menghubungi teman. Yang satu sedang terjebak di rumah pacarnya, yang satu sedang diburu proposal, dan yang satu bilang akan segera datang dengan sejumlah uang. Akhirnya bisa makan pagi, siang, dan malam. Amin.

4.
Ditransfer pulsa Rp5.000 pukul 2 pagi oleh si wartawan yang nggak pernah ganti baju karena setiap bertemu pakaian yang melekat di badannya selalu sama. Lalu bisa langganan internet bulanan lagi. 

5. 
Lupa ambil uang di malam sebelumnya, padahal besok giliran bayar taksi. Untung ada teman sekantor yang mau membayari dulu. Sampai kantor dengan segar bugar, tak harus jalan kaki atau ngesot.


Daftar masih panjang dan tak selalu tentang uang. Terlalu panjang jika dijabarkan satu-persatu. Tapi pasti akan diingat selalu. Pasti. Terima kasih banyak sekali, teman-teman. Ternyata ada gunanya berteman dengan kalian, meski banyak juga hal menyebalkan yang terjadi bersama kalian. Haha. Tapi seringnya hal menyebalkan itu tereliminasi dengan hal baik yang tak dapat dirunut satu-persatu. Astaga! 

Aku terharu. :')

*Takk (Islandia): Terima kasih.

Jakarta, le 12 Mars 2013


Tuesday, February 5, 2013

Tentang Takut


taken from here



"I'm afraid," she admitted, baring what he had known but waiting for her to say.
"How strong you are to reveal that," he praised, "and how lucky i am to be the man you share your fears with."

(Isabel and Gerard in The Stranger I Married by Sylvia Day p.276) 


Lagi lihat-lihat buku di Kinokuniya, menemukan buku ini di bagian "Fiction Highlights", cari resensinya di Goodreads, dan unduh versi gratisnya. Buku apa sih? Ini buku macam 50 Shades of Grey tapi tanpa BSDM dan versi lebih tua. Dirilis pertama kali tahun 2007 dan diterbitkan ulang tahun 2012 dengan sampul baru yang lebih beradab. Haha. Mungkin E. L. James terinspirasi dari buku Sylvia Day ini dan sebaliknya, mungkin peluncuran kembali novel ini terinspirasi dari lakunya 50 Shades. Tapi saya memang tak bakal menilai isinya tapi hanya ingin berbagi nukilan di atas (dan masih ada beberapa nukilan yang bagus sebenarnya). 

Membuka diri pada orang lain itu begitu sulitnya, 'kan? Mengingat pasti ada benteng yang dibangun sendiri agar tak mudah dimasuki orang lain yang tak diperkenankan atau tak dipercaya. Maka mengakui bahwa ada rasa takut bersemayam di dalam diri adalah suatu prestasi besar. Membiarkan orang lain tahu jika ada saatnya kita berada di palung terdalam, hampir putus asa, dan butuh bantuan orang lain. Membuka diri supaya orang lain bisa melihat kita di titik terendah, dipenuhi rasa takut, dan bukan di kala kita sedang berada di posisi yang cukup sehat seperti biasanya mereka saksikan. Butuh kerendahan hati untuk mengakui itu semua pada orang-orang tertentu, orang-orang yang terpilih, dan yang terseleksi secara sadar. Butuh ke-legowo-an, semacam itulah. Butuh persiapan matang dan meluruhkan gengsi, bisa dibilang. Ada upaya lebih yang harus dilakukan, maka benarlah perkataan Gerard pada Isabel, "Betapa kuatnya kamu dapat mengakui jika kamu lemah."

Jakarta, 5 Februari 2013


Friday, November 30, 2012

Konser Terbaru

Sejauh ini, sepengalaman saya menonton sebuah konser, konser ini yang paling keren. Tepat seminggu lalu, geng yang berasal dari Islandia ini mengunjungi Singapura. Silakan dinikmati dan diresapi dulu video plus (salah satu) lagu favorit saya. Cerita versi saya menyusul. :p


Video ini diunggah oleh seseorang ber-username Pokcay. Terima kasih. :)

Jakarta, le 30 Novembre 2012

Saturday, September 15, 2012

Asah Asa

To the future, we surrender.

Tak pernah bosan dengar lagu yang satu itu. Mungkin Meng merasakan apa yang saya (kami) rasakan saat ini. Mungkin ia pernah melewati fase ini juga. Mungkin ada hal yang melesakkan hati dan harapannya ke jurang terdalam ketika ia menulis lagu itu dalam guratan nada serta lirik. Mungkin juga tidak terjadi apa-apa.

Tak ada yang perlu ditakutkan dengan masa depan, begitu saya selalu bersugesti. Sungguh tak ada. Masa depan tetap akan terjadi dalam hitungan detik, bahkan ketika rangkaian kata ini belum selesai ditulis. Ia hadir tanpa kau minta. Melesat begitu saja tanpa minta pertimbangan darimu. Senyatanya, ia tak bersinggungan dengan keinginan atau harapanmu.

Maka mengapa saya, kami, kamu, dan dia begitu takut ketika ia bergegas melampaui jejak yang tertoreh? Atau karena ia terburu-buru? Atau karena kita lengah?

Jakarta, le 15 Decembre 2012

Monday, October 3, 2011

Bahagia Dua


In previous post, I quoted a quote from Kung Fu Panda 2. Then she asked me how I defined happiness. Oh dear, this could be my second post about happiness, but still, I do not know about it, am not a master in that field. I just knew, since a long time, that happiness is a state of mind. Simple yet so complicated. Kadangkala, sesuatu yang sederhana itu malah bisa terlalu rumit. 

Seorang teman pernah berkicau melalui akun Twitter-nya. Ia bilang, saat hidup semakin rumit dan kompleks, kebahagiaan datang dalam bentuk yang semakin sederhana. Pernyataan yang membahagiakan, bagi saya. Bayangkan saja, betapa orang yang setelah dioperasi, akan begitu bahagia ketika ia berhasil kentut, yang kadang membuat orang lain tidak bahagia. Atau betapa orang yang sedang kangen setengah mati, akan bahagia ketika sekedar dikirimi pesan singkat atau mention melalui Twitter. Ketika sedang lapar berat, lalu menemukan makanan. Sesederhana itu mungkin. Tapi ya bukan berarti harus membuat hidup serumit itu untuk meraih bahagia. 

Ada beberapa waktu yang membuat saya begitu bahagia, begitu bungah dan kadang saya terlambat menyadarinya. Setelah lewat masa, baru saya sadar bahwa saya bahagia dengan momen yang telah lalu itu. Bahagia dan bukan sekedar senang. Salah satunya adalah ketika berkumpul dengan kawan-kawan saya. Sekedar ngobrol –ngobrol santai, dengan berbagai macam cemilan dan minuman dingin. Dengan celetukan-celetukan nggak penting yang kocak hingga mata ingin terpejam tapi masih saja ingin saling mengomentari di ruangan yang sesak dengan asap rokok. Tidak melulu harus berlibur di tempat yang jauh, resor yang mewah, dan dengan makanan yang mahal. 

Atau ketika melihat wajah teman-teman saya ketika saya berdiri untuk dua yudisium kemarin itu. Di tengah degup jantung yang berdetak terlalu cepat dan tidak bisa saya kendalikan, saya merasa bahagia bahwa ada wajah-wajah yang saya kenal di ruangan itu. Raut mereka yang ceria, beberapa juga ikut panik, membuat saya yakin bahwa apapun hasilnya saat itu, saya tidak akan limbung sendirian. Kebahagiaan muncul di kali lain, melihat polah sepupu kecil yang bisa berhenti dari nangisnya karena sepotong semangka. Atau dibawakan makanan kegemaran oleh Ibu, ketika saya tidak memesannya. 

Berapa kali kita merasa senang dalam hidup? Dan berapa kali pula kita merasa bahagia sepanjang perjalanan hidup yang tidak terlalu singkat ini? Dicari ke tempat yang paling jauh di ujung dunia pun, bahagia adalah sangat lekat dan dekat, bukan? It’s all about a state of mind and how you manage your feeling, if I can conclude it. Is it? Kadangkala, mungkin manusia perlu sesuatu yang menantang sehingga apapun dibikin rumit dan banyak ‘tapi’. Pun demikian dengan bahagia, ia butuh berapa banyak penyangkalan dan menuntut yang lebih dari yang didapatnya. Padahal sejatinya, si bahagia itu sudah ada sejak awal ketika ia mendapatkan sesuatu itu.

Ah, mari banyak-banyak bersyukur saja. :D

Oh iya, previous post about happiness-nya ada di sini.:D