Tuesday, October 14, 2014
Suara Sunyi
Saturday, June 14, 2014
Pola Pikir
Friday, January 10, 2014
Kilas 2013
![]() |
| Just go! |
Kata apa yang pantas disematkan pada 2013 yang telah berlalu? Sayangnya, kamus bahasa saya tak menemukan kata yang pas. Tapi seperti layaknya momen, ada saja naik dan turun, bahagia dan sedih, panas dan dingin, marah dan tawa, dan rasa-rasa lainnya. Tapi, jika ditelusuri dan diingat-ingat lagi, sepertinya lebih banyak saya rasa bingung. Harus banget ditulis? Harus ah!
Friday, December 27, 2013
Belajar Berkisah
"Gue selalu merasa kalau permasalahan gue nggak serumit milik orang lain. Mereka pasti punya problem yang lebih besar. Jadi, nggak gunanya juga cerita sama mereka dan harusnya masih bisa diselesaikan sendiri,” ujarmu di suatu malam.
Tapi dunia tak selalu peduli dan kita tak selalu menjadi pusat perhatian. Belum tentu mereka ambil pusing atas celotehan kita yang tak jelas juntrungannya. Kadang saya, kamu, kita, dan kami tak butuh kebijaksanaan apapun. Yang dibutuhkan mungkin hanya seorang atau dua teman (yang cukup dipercaya) untuk duduk bersama, walaupun dia cuma akan duduk diam dengan wajah bosan, konsentrasi buyar, dan kantuk yang tertahan. Dan meski pada akhirnya kita akan selalu sendiri, label makhluk sosial tak bakal bisa hilang begitu saja. Ada yang hakiki dari pertemanan.
Kata orang bijak, bercerita adalah terapi dan eliksir. Adakalanya benar, meski banyak percakapan menarik hampir selalu terjadi di penghujung malam yang malah bikin sakit.
Monday, November 18, 2013
Bias Batas
Kabut tak segera terbilas
Meski hujan turun dengan lekas
Yang ada malah dingin yang makin beringas
Ditambah langkah yang malas
Pijakan yang tak jelas
Plus wajah yang kian melas
Tapi masih saja ada yang harus dibahas.
Dan di mana batas?
Atau memang selalu tak jelas?
Bagi Curtis (Chris Evans) dalam Snowpiercer, batas itu dikikis sedikit-sedikit selama 18 tahun. Dalam kurun waktu itu, ia merencanakan pemberontakan atas ketidakadilan yang diterima oleh orang-orang bagian ekor dari kereta superkuat itu. Pada saatnya, ia nekat menerjang para tentara Wilford Industry dan akhirnya membuktikan sendiri kalau senjata-senjata yang dipergunakan untuk menakuti mereka selama ini ternyata tak berpeluru. Dan demikian kisah dimulai. Segalanya berlanjut dan berakhir dengan plot yang ia sendiri tak mengerti. Tapi jelas ada yang berubah setelah batas diterabas.
Walter White (Bryan Cranston) dalam Breaking Bad pun hampir serupa. Dengan kanker yang menggerogoti dirinya, ia tahu harus binasakan batas apapun. Demi keluarganya, demi dirinya. Ia singkirkan sekat antara legal dan ilegal. Antara baik dan buruk. Antara pahala dan dosa. Antara sehat dan sakit. Antara rasa dan logika. Ia meleburkan semuanya meski tak selalu berhasil baik. Hidupnya terguncang dalam hening yang disimpannya sendiri. Dan jelas ada yang berubah setelah batas dilibas.
Thursday, November 14, 2013
Hati Hangat
| Happiness |
Suatu hari, saya duduk di sebuah bis kota yang akan mengantarkan saya ke rumah saudara. Di tengah jalan, saya melihat seorang ayah mengobrol sambil menggandeng anak laki-lakinya untuk menonton pertandingan bola di Senayan. Kali lain, saya berjalan di sebuah trotoar yang penuh sesak dengan pedagang. Di depan saya, seorang kakek menolong istrinya untuk turun dari mobil.
Lalu, pernah juga menjelang liputan, saya belum sempat makan siang tapi masih terjebak di taksi. Supirnya lalu minta izin untuk mengangkat telepon. Curi dengar dong pasti! Percakapannya singkat saja, sepertinya orang di seberang telepon mengingatkannya untuk makan siang. Dijawab bapak itu dengan, "Iya, setelah ini makan siang, sekarang sedang ada penumpang. Kamu makan apa?" Rupanya, sang cucu yang telepon dan "memerintah" kakeknya untuk makan siang.
Hal-hal kecil tersebut tak terasa bikin senyum saya terkembang. Hati lalu merasa hangat dan bikin mikir, kalau selalu saja ada hal yang bakal membuat hari indah. Seburuk apapun hari itu. Tanpa bermaksud sok positif atau terlalu optimis tapi toh memang begitu kenyataannya. Seringkali begitu. Pun ketika kesenangan hadir bertubi-tubi, pasti ada kemurungan yang muncul di pertengahan atau akhir hari. Ya, mungkin sudah hukum alam untuk mencoba mencapai keseimbangan.
Lalu, apa yang bisa bikin hati hangat malam ini dan sejenak lupakan pikiran-pikiran nggak penting yang berseliweran? Pertukaran pesan dan semangat dengan teman lama, ucapan selamat tidur dari kawan baik, pembicaraan ngalor ngidul, pelukan yang tak terduga, kenangan yang ambigu, bayangan tentang pantai, lagu favorit, atau tulisan ini (karena sudah lama nggak nge-blog. :p)?
Jakarta, 14 Novembre 2013
Monday, July 22, 2013
Keluh Kesah
Selama ini, saya berusaha tak mengeluh, jikapun berkeluh-kesah, dalam hati saja. Tak usah diungkapkan. Meski kadang berhasil, kadang juga tidak, karena godaan untuk melakukannya terlalu besar. Kerjaan yang nggak selesai-selesai, teman-teman yang menjengkelkan, cucian yang nggak kering-kering, ibu yang susah diajak bicara, sepatu yang rusak, dan lain-lainnya. Banyak banget hal yang bisa bikin saya mengeluh setiap hari! Namun, dengan disertai akal jernih, saya sebisa mungkin menyimpan keluhan itu dalam hati. Kalau sudah tak tahan, teman-teman dekat bakal jadi tempat sampah untuk menampung ocehan-ocehan itu. Tak jarang, yang terjadi juga sebaliknya. Saya mengeluh dalam hati, mereka mengungkapkan keluhannya dan saya langsung bersyukur karena hidup saya tak seribet mereka. Lagipula, terlalu sering mengeluh juga menurut saya nggak asyik karena bikin orang lain terinfeksi, buang tenaga, dan bikin nggak semangat.
Lalu dua orang teman lainnya menyusul dan mereka bikin hari saya tambah menyenangkan. ;)
Wednesday, July 17, 2013
Terus Tulis
![]() |
| Atau harus mengetik pakai ini? |
Mana, katanya minimal sebulan satu tulisan? Hahaha. Janji yang tak pernah tertepati.
Beberapa minggu terakhir, saya banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke blog orang. Kalau biasanya untuk kepuasan sendiri, kali ini untuk tugas kantor.. Mau tidak mau, saya jadi banyak baca tulisan orang-orang. Rasanya malu sendiri karena tak rajin mengisi blog ini. Entah bagaimana, mereka-mereka itu kok bisa konsisten menulis di jurnal pribadinya. Seperti ada saja hal seru yang bisa diceritakan dan punya cukup waktu untuk mengelola rumahnya dengan rajin. *tutup muka* Bahkan ada rasa sebal ketika si empunya blog yang saya kunjungi tak rutin menulis. Mungkin itu yang dirasakan ketika orang bermain ke lahan saya ini. Eh, itu juga kalau ada yang bertamu sih. Hahaha.
Perkara menulis ini memang gampang-gampang susah sih. Apalagi untuk seseorang yang bekerja di media dan bagian redaksi pula. Kalau analisis saya dan teman-teman, walaupun menulis untuk diri sendiri itu semacam upaya pelepasan stres tapi pekerjaan sehari-hari yang memaksa menulis juga sudah bikin jengah. Jadi ya, terabaikan. Pa to the yah! Mau dirangsang dengan suasana nyaman untuk ketak-ketik pun tetap saja kata-kata yang berseliweran di otak tak bisa tersalurkan dengan lancar. Hyah!
Dari blogwalking ini, saya makin sadar kalau bisa menilai dan merasai orang dari tulisannya. Beberapa bahkan ada yang bikin mangap karena pemikirannya. Lalu jadi menelusuri rasa para blogger yang dituangkan lewat untaian kata-kata yang mereka pilih. Hebat mereka itu!
Yuk ah, nulis lagi.
Tapi bohong lagi pasti. Hahaha.
Apalagi di tengah deadline menjelang Lebaran ini. Ouch!
Jakarta, le 16 Juillet 2013.
Friday, May 10, 2013
Soal Sigur Rós di Singapura
Seperti biasanya ketika saya mendengarkan musik-musik Sigur Rós, kali ini mereka juga bawa efek yang sama. Bulu kuduk meremang dan bukannya hilang dan tenang, pikiran makin melantur tak karuan dan berdatangan minta penyelesaian. Di beberapa lagu, efeknya berkali lipat. Bikin pengen nangis dan peluk semua orang yang datang di situ. Hahaha. Duh, lebay ya? Nggak sih. Karena memang itu yang benar-benar saya rasakan ketika menonton mereka dari jarak dekat. Coba kalau punya sayap, kayaknya saya sudah melayang-layang di langit sambil nonton konser ini. Luar biasa. Satu hal dalam bucket list akhirnya bisa saya coret.
Setelah dibuka dengan “Í Gær”, konser malam itu dilanjutkan dengan “Vaka” yang bikin gelisah. Lagu ketiga, “Glósóli”, pun makin megah berkat gesekan (iya, digesek) gitar Jónsi dan hentakan drum Orri yang penuh energi. Keren bangettttt! Dan selanjutnya, hampir tanpa jeda, mereka membawakan “Svefn-g-englar” dari album Ágætis byrjun, “Sæglópur” yang intronya enak banget, dan “Fljótavik”, salah satu lagu kesayangan saya. Uyeah! Selama konser, kami sudah nggak bisa komentar apa-apa lagi, cuma bisa bengong, takjub, dan sesekali teriak-teriak “Oh My God” atau “Oh, Tuhan!”. Benar-benar membius! Apalagi Jónsi benar-benar nggak ngomong sepatah kata pun di pergantian lagu. Mereka nggak ngasih kesempatan untuk sebentar saja ke menapak ke tanah, sebaliknya malah terus-terusan menghujani kami dengan lagu-lagu indah itu. Semacamnya mereka pengen bilang, “Nih, rasain! Let your vein and spine absorb it all.”
![]() |
| Lumayan enak posisi nontonnya. :D |
![]() |
| KLB: Konser Luar Biasa! |
Akhirnya, di tengah-tengah intro yang sangat lekat di telinga, si mas vokalis baru deh bilang terima kasih pada penonton yang sudah datang. Lalu mengalunlah “Hoppippolla” yang diiringi teriakan penonton pas Hoppippolla-nya doang dan seperti biasa, disambung dengan “Með “Blóðnasir. Pas dua lagu ini, grafis yang ditayangkan di backdrop-nya bagus banget! Apalagi pas bagian Jónsi ngajak penonton nyanyi. Super! Lanjut lagi, mereka bawakan “Olsen Olsen” yang diiringi suara oboe yang menenangkan. Makinlah kami membayangkan nonton mereka di Islandia sana, macamnya di Heima itu. Ketenangan pecah ketika “Festival” memasuki bagian refrain. Bising banget, tapi bising yang merdu! Halah. Setelah berasyik-masyuk di masa lalu, inilah saatnya mereka bawakan lagu-lagu dari album Valtari. Yang dibawakan pertama adalah “Varúð” yang diiringi gerimis manis. Setelah penutup yang heboh, Jonsi bilang terima kasih lagi sambil memperkenalkan lagu terakhir. Lagu ini adalah lagu terbaru mereka dari album yang akan datang, “Brennisteinn” dari Kveikur.
Meski Sigur Rós telah mencukupkan konser itu tapi penonton bilang belum cukup dong pastinya. Masih pengen pada orgasm dan eargasm kayaknya. Maka diberilah kami dua lagu lagi: “Ekki Múkk” yang disajikan lengkap dengan video klipnya dan Untitled 8 atau “Popplagið”. Dan di dua lagu terakhir itulah hujan turun. Bukan gerimis manis, tapi hujan lumayan deras dan makin deras yang bikin semua penonton malah teriak dan tepuk tangan kegirangan. MAGICAL!
Meski kuyup tapi semua pulang dengan keadaan berbahagia. Ada beberapa lagu kesukaan yang nggak dibawakan sih, macamnya “All Alright”. Tapi udahlah, memang nggak bisa protes apapun karena konsernya menyenangkan sekali. Brass dan string section-nya juga bagus! Bikin pertunjukan makin megah, nyesss, dan ramai.
Jarang inget maksud atau arti lagunya sih, tapi tetap saja mampu bikin suara tercekat, pikiran ngalor-ngidul-sekaligus-kosong, mata merem melek biar air mata yang jatuh nggak terlalu banyak, deg-degan, menggigil karena keujanan, semuanya campur aduk. Sampai sekarang, masih suka girang dan merinding sendiri kalau ingat konser itu. Soalnya belum nonton Coldplay. Hahaha.
Konser November 2012 di Fort Canning Park itu pun berasa seperti di Indonesia, dengan cuaca yang adem dan yang datang pun mungkin tujuh puluh persennya adalah orang Indonesia. Hahaha. Jadi, kalau ada yang mau nonton hari ini di Tennis Indoor Senayan, silakan menikmati sepenuh hati!
![]() | |
Fotonya diambil dari sini. (1) Sebelum konser mulai. (2) Hujan di pengujung. (3) Takk! |
*Fotonya hanya pakai kamera ponsel yang seadanya karena kami nggak ada yang bawa kamera beneran. :p
Tuesday, March 12, 2013
TAKK!*
![]() |
| Anggap saja aku yang sedang menunduk itu. Hihi. |
Tuesday, February 5, 2013
Tentang Takut
"I'm afraid," she admitted, baring what he had known but waiting for her to say.
"How strong you are to reveal that," he praised, "and how lucky i am to be the man you share your fears with."
Friday, November 30, 2012
Konser Terbaru
Video ini diunggah oleh seseorang ber-username Pokcay. Terima kasih. :)
Saturday, September 15, 2012
Asah Asa
Tak pernah bosan dengar lagu yang satu itu. Mungkin Meng merasakan apa yang saya (kami) rasakan saat ini. Mungkin ia pernah melewati fase ini juga. Mungkin ada hal yang melesakkan hati dan harapannya ke jurang terdalam ketika ia menulis lagu itu dalam guratan nada serta lirik. Mungkin juga tidak terjadi apa-apa.
Tak ada yang perlu ditakutkan dengan masa depan, begitu saya selalu bersugesti. Sungguh tak ada. Masa depan tetap akan terjadi dalam hitungan detik, bahkan ketika rangkaian kata ini belum selesai ditulis. Ia hadir tanpa kau minta. Melesat begitu saja tanpa minta pertimbangan darimu. Senyatanya, ia tak bersinggungan dengan keinginan atau harapanmu.
Maka mengapa saya, kami, kamu, dan dia begitu takut ketika ia bergegas melampaui jejak yang tertoreh? Atau karena ia terburu-buru? Atau karena kita lengah?
Jakarta, le 15 Decembre 2012






