Saturday, June 14, 2014

Pola Pikir






Kemarin, seorang teman mengunggah satu foto yang berisi kutipan. Jangan khawatir, begitu lebih kurang isinya. Tak perlulah habiskan berjam-jam untuk memikirkan sesuatu yang memang tak bakal ditemukan jawabannya di masa ini. 

Tapi itu adalah pilihan. And I’m not a decision maker. Pilihan-pilihan mudah pun bisa jadi sulit untuk saya yang (sudah tertular) otak ruwet. Pilih kaus biru atau hitam? Singapura atau Thailand untuk perjalanan selanjutnya? Lebih bagus sepatu maroon atau krem? Pakai kemeja atau kaus ke kantor? Lalu apa padanannya, rok atau celana? Celana kain atau jeans? Bungee jumping atau tidak? Pulang ke Bandung minggu ini atau minggu depan? Bicara dengannya atau tidak? Telepon narasumber sore ini atau besok pagi? Makan siang soto atau pecel? Beli laptop atau harddisk eksternal dulu? Dan daftarnya masih terus bertambah. Panjang. Sangat panjang. 

Hidup memang penuh dengan pilihan. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan hingga bertahun-tahun selanjutnya. Bagi sebagian orang, memilih adalah bernapas. Mudah, tak perlu dipikirkan. Sebut saja! Sedangkan bagi saya, pilihan adalah serupa soal Fisika dalam SPMB. Sulit. Nyaris tak terpecahkan. Pikiran sudah berjalan bahkan sejak pilihan itu masih samar. Plus, memikirkan akibat-akibatnya atau apa yang mungkin terjadi setelah itu. Padahal seringnya, keputusan itu hanya dibuat sedetik. Tanpa pemikiran yang sebelumnya sudah mengular dan berhimpitan di kepala. Dan tak berakibat fatal sama sekali. Ironis. Atau oksimoron. 

Memilih, atau proses menentukan pilihan, itu terlalu menggelitik untuk ditimbang baik dan buruknya, positif dan negatifnya, atau benar tidaknya. Pelik, bagi saya. 

Misalnya saja tentang masa depan. Kekhawatiran atas hal yang tak pasti menghadapkan kita pada dua pilihan: jalani saja apa adanya tanpa banyak berpikir atau pikirkan matang-matang agar jelas pijakan serta arahnya. Yang pertama menggoda untuk dilakoni. Tapi yang kedua juga jelas bukan tindakan bodoh.

Yang mana yang harus ditempuh?

Bandung, le 14 Juin 2014

Friday, January 10, 2014

Kilas 2013

Just go!

Kata apa yang pantas disematkan pada 2013 yang telah berlalu? Sayangnya, kamus bahasa saya tak menemukan kata yang pas. Tapi seperti layaknya momen, ada saja naik dan turun, bahagia dan sedih, panas dan dingin, marah dan tawa, dan rasa-rasa lainnya. Tapi, jika ditelusuri dan diingat-ingat lagi, sepertinya lebih banyak saya rasa bingung. Harus banget ditulis? Harus ah!


Banyak hal -terlalu banyak- yang terjadi di tahun itu dan itu cukup menguras emosi serta pikiran. Tahun kemarin, apalagi di akhir tahun, sepertinya jadi “ujian” untuk lebih dewasa (?). Hahaha. Atau bisa juga sebagai peringatan untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Sayangnya, hal itu tetap tak saya lakukan. Saya lebih memilih untuk tetap bingung, memikirkan dan merasakannya setengah-setengah, berkelahi dengan diri sendiri, tanpa keputusan apa-apa, tanpa tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Oke, ini adalah masalah hubungan personal. Hahaha, ternyata ada bakat curcol.

Lalu, ada apa dengan pekerjaan? Makin nggak jelas juga. Antara gitu-gitu aja atau makin parah. Yang pasti sih karena kurang konsentrasi. Kenapa? Nggak tahu juga, mungkin sih karena poin pertama itu. Jadi, kalau boleh menilai diri sendiri dan ada rapornya, nilainya pasti merah meski saya tetap berusaha untuk lakukan sebaik yang saya bisa. Padahal, satu-satunya komitmen saya hanya untuk hal ini. Hahaha. Ya sudahlah.

Tahun lalu, saya menjadi pembenci, sangat negatif. Sumpah serapah pada pekerjaan, merusak relasi antarpersonal, membelenggu pertemanan, dan bahkan, membenci dan menenggelamkan diri sendiri. Gawat-segawat-gawatnya. Tapi menjadi positif itu pilihan ‘kan? Di sela rasa yang tak karuan itu, saya berupaya keras untuk tetap “hidup”. Setidaknya ketika bersama teman-teman yang sudah selalu baik. Bersyukur sekali atas kehadiran mereka-mereka itu. :)

Ah, mungkin cuma kurang vakansi.

Selalu saja ada yang seru di setiap tahun. Selain hal-hal negatif di atas, untungnya masih ada yang menyenangkan di tahun lalu. Teman yang masih bisa diajak bercerita, kebahagiaan mereka, kejadian tak terduga, outing kantor, dan liburan (sembari kerja) menjelang ulang tahun. Setidaknya masih ada yang bikin ma vie en rose. Hamdallah!


Dan mantra di awal tahun tak bakal pernah berubah: tahun ini pasti akan lebih menyenangkan dari tahun lalu. Haqqul yakin!


Jakarta, le 10 Janvier 2014

Friday, December 27, 2013

Belajar Berkisah


 

"Gue selalu merasa kalau permasalahan gue nggak serumit milik orang lain. Mereka pasti punya problem yang lebih besar. Jadi, nggak gunanya juga cerita sama mereka dan harusnya masih bisa diselesaikan sendiri,” ujarmu di suatu malam.

Ah, familiar. Agaknya pernyataan itu membawa saya mundur ke beberapa tahun silam. Ketika saya merasa lebih baik berada di kubus dengan dinding tebal yang dibuat sendiri. Rasanya terlalu egois untuk mengajak orang sekadar mampir dan mendengarkan cerita, sedangkan mereka punya urusan sendiri yang mungkin lebih berat –seperti yang kamu bilang. Bukankah mereka pun tak bakal bisa merasa dan berpikir seratus persen sama dengan apa yang ada di hati dan benak saya? Maka lebih baik, simpan saja dan nikmati kepenatan itu sendiri, tak perlu menyeret orang pada hal yang tak mereka alami. Belum lagi, perasaan bersalah segera menghampiri setelah memaksa diri berkisah pada mereka. Terus berlama-lama seperti itu hingga segala yang negatif mengendap dan hanya bisa menyeruak lewat tulisan-tulisan yang tak jelas intinya –dan bikin ngakak kalau dibaca sekarang.

Tapi dasar manusia peniru, lebih baik belajar saja dari perilaku orang lain demi bisa bertahan. Lihat saja, ada beberapa orang yang tak ambil pusing jika teman-temannya telah menanggung problem berat dan tetap mengocehkan tentang perkara pribadinya. Ada pula mereka yang sengaja bercerita demi dapat simpati, memaksa orang lain merasa dan berpikir tentang hal yang ada di dalam dirinya. Kadang pula, ada orang yang hanya mendengar sambil lalu dan tak peduli sama sekali dengan cerita yang telah disampaikan. Atau malah ada pula yang menaruh perhatian dan menyimak dengan seksama. Namun jika beruntung, ada juga mereka yang bikin kau berpikir makin keras dan malah bikin nyaman. Ada saja.

Tapi dunia tak selalu peduli dan kita tak selalu menjadi pusat perhatian. Belum tentu mereka ambil pusing atas celotehan kita yang tak jelas juntrungannya. Kadang saya, kamu, kita, dan kami tak butuh kebijaksanaan apapun. Yang dibutuhkan mungkin hanya seorang atau dua teman (yang cukup dipercaya) untuk duduk bersama, walaupun dia cuma akan duduk diam dengan wajah bosan, konsentrasi buyar, dan kantuk yang tertahan. Dan meski pada akhirnya kita akan selalu sendiri, label makhluk sosial tak bakal bisa hilang begitu saja. Ada yang hakiki dari pertemanan.

Kata orang bijak, bercerita adalah terapi dan eliksir. Adakalanya benar, meski banyak percakapan menarik hampir selalu terjadi di penghujung malam yang malah bikin sakit.

Sharing is caring. No?

Jakarta, Le 25 & 27 Decembre 2013

                                                                                                                                   
 

Monday, November 18, 2013

Bias Batas


Kabut tak segera terbilas
Meski hujan turun dengan lekas
Yang ada malah dingin yang makin beringas
Ditambah langkah yang malas
Pijakan yang tak jelas
Plus wajah yang kian melas
Tapi masih saja ada yang harus dibahas.


Dan di mana batas?
Atau memang selalu tak jelas?



Bagi Curtis (Chris Evans) dalam Snowpiercer, batas itu dikikis sedikit-sedikit selama 18 tahun. Dalam kurun waktu itu, ia merencanakan pemberontakan atas ketidakadilan yang diterima oleh orang-orang bagian ekor dari kereta superkuat itu. Pada saatnya, ia nekat menerjang para tentara Wilford Industry dan akhirnya membuktikan sendiri kalau senjata-senjata yang dipergunakan untuk menakuti mereka selama ini ternyata tak berpeluru. Dan demikian kisah dimulai. Segalanya berlanjut dan berakhir dengan plot yang ia sendiri tak mengerti. Tapi jelas ada yang berubah setelah batas diterabas.

Walter White (Bryan Cranston) dalam Breaking Bad pun hampir serupa. Dengan kanker yang menggerogoti dirinya, ia tahu harus binasakan batas apapun. Demi keluarganya, demi dirinya. Ia singkirkan sekat antara legal dan ilegal. Antara baik dan buruk. Antara pahala dan dosa. Antara sehat dan sakit. Antara rasa dan logika. Ia meleburkan semuanya meski tak selalu berhasil baik. Hidupnya terguncang dalam hening yang disimpannya sendiri. Dan jelas ada yang berubah setelah batas dilibas.

Jakarta, le 18 Novembre 2013


Thursday, November 14, 2013

Hati Hangat


Happiness

Suatu hari, saya duduk di sebuah bis kota yang akan mengantarkan saya ke rumah saudara. Di tengah jalan, saya melihat seorang ayah mengobrol sambil menggandeng anak laki-lakinya untuk menonton pertandingan bola di Senayan. Kali lain, saya berjalan di sebuah trotoar yang penuh sesak dengan pedagang. Di depan saya, seorang kakek menolong istrinya untuk turun dari mobil.

Lalu, pernah juga menjelang liputan, saya belum sempat makan siang tapi masih terjebak di taksi. Supirnya lalu minta izin untuk mengangkat telepon. Curi dengar dong pasti! Percakapannya singkat saja, sepertinya orang di seberang telepon mengingatkannya untuk makan siang. Dijawab bapak itu dengan, "Iya, setelah ini makan siang, sekarang sedang ada penumpang. Kamu makan apa?" Rupanya, sang cucu yang telepon dan "memerintah" kakeknya untuk makan siang.

Hal-hal kecil tersebut tak terasa bikin senyum saya terkembang. Hati lalu merasa hangat dan bikin mikir, kalau selalu saja ada hal yang bakal membuat hari indah. Seburuk apapun hari itu. Tanpa bermaksud sok positif atau terlalu optimis tapi toh memang begitu kenyataannya. Seringkali begitu. Pun ketika kesenangan hadir bertubi-tubi, pasti ada kemurungan yang muncul di pertengahan atau akhir hari. Ya, mungkin sudah hukum alam untuk mencoba mencapai keseimbangan.

Lalu, apa yang bisa bikin hati hangat malam ini dan sejenak lupakan pikiran-pikiran nggak penting yang berseliweran? Pertukaran pesan dan semangat dengan teman lama, ucapan selamat tidur dari kawan baik, pembicaraan ngalor ngidul, pelukan yang tak terduga, kenangan yang ambigu, bayangan tentang pantai, lagu favorit, atau tulisan ini (karena sudah lama nggak nge-blog. :p)?

Jakarta, 14 Novembre 2013