Saturday, June 5, 2010

Rubik Bikin Rumeuk


Dyah : Kak, bisa nyelesein rubik nggak?

Wenti : Nggak, susah banget. Tapi kalo manualnya tau.

Dyah : Itu mencerminkan IQ nggak sih?

Wenti : Iya deh kayaknya. Hahaha.

Dyah : Kok gue ngerasa goblok banget ya.

Wenti : Kita bukan goblok. Cuma males aja nguliknya.

Tadi siang saya menemani si ibu ke Kosambi. Ceritanya mau service blender di toko langganan. Tapi ternyata blendernya nggak kenapa-kenapa. Sehat wal-afiat, tetap bisa digunakan. Ibu saya main bawa aja ke tempat service setelah dikasih tahu sama orang kantin kalo blendernya diduga bermasalah.

Tapi, ya sudahlah, dibawa balik aja blendernya. Lalu Ibu memutuskan untuk beli gelas tiga lusin. Saya jadi korban, disuruh bantuin bawa. Masih untung nggak jadi beli enam lusin karena ternyata stoknya tidak memadai.

Kami akhirnya makan yamien di pelataran Kosambi. Seinget saya, dulu ada yamien yang enak, bahkan lebih enak dari Mie Naripan, yang ternyata setelah saya coba rasanya biasa saja. Akhirnya memberanikan diri nyoba yamien yang lain deh. Ternyata rasanya biasa aja. Setelah makan, saya ajak ibu ke penjual mainan. Siapa tahu ada rubik. Karena memang saya sudah berniat membeli mainan kotak itu sejak lama.

Begitu sampai di toko, si mata mulai mencari-cari benda kotak warna-warni. Dan, ternyata ada. Yes, ketemu. Yang jual ternyata engkoh-engkoh dan nggak bisa ditawar. Hiks. Maka berpindahlah uang sepuluh ribu rupiah pada engkoh-engkoh itu. Gara-gara ngebela-belain beli rubiks dulu, ibu dan saya lari-lari kehujanan – kayak di film India.

Sampai di rumah saya pun menunaikan beberapa kewajiban dan setelah itu langsung mengotak-ati rubiks yang tadi baru dibeli. Saya amat-sangat-penasaran-sekali dengan mainan mungil satu ini. Sejak dulu, saya pernah coba memainkan milik saudara saya. Tapi nggak pernah berhasil. Kemarin waktu saya sedang menunggu giliran di dokter gigi, ada sepasang kekasih juga main ini. Dan si wanitanya menyelesaikan teka-teki rubik dengan cukup cepat. Yang lelakinya kalah. GIRL POWER! J

Sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu, saya sedang nongkrong asyik dengan si Gilang dan kawan-kawan lainnya. Datang beberapa ABG yang kemudian duduk di bangku sebelah. Sebelum pesan, si ABG ini mengeluarkan rubiks miliknya dan sempat menyelesaikan sekali sebelum ia memesan minuman. Di perpustakaan jurusan saya juga ada satu buah benda kotak ini. Teman-teman 2007 sedang mengobrol dengan Bob Howarth, dosen tamu dari Australia, ketika satu diantar mereka mengambil rubiks dan menyelesaikannya sambil menyimak konsversasi antara teman-temannya dan Bob. Bob dibuat heran dengan keajaiban kecil itu.

Mungkin populernya permainan ini juga tidak luput dari peran film The Pursuit of Happiness. Will Smith, sang ayah yang gagal dalam perkerjaan, ternyata bisa menyelesaikan teka-teki rubik di taksi ketika memohon pekerjaan kepada seseorang. Seseorang itu terheran-heran dan menyuruh Will Smith datang ke kantornya keesokan harinya.

Maka, saya penasaran luar biasa dengan benda kecil yang pas digenggam ini. Bagi saya, tidak mungkin warna yang sudah acak-acak itu bisa dirapikan kembali ke susunan semula. Tapi nyatanya, banyak yang bisa. Lalu saya terpacu untuk bisa. Pertanyaan saya, apa benar ya kemampuan menyelesaikan rubik berkaitan dengan IQ seseorang? Saya sih emang kecerdasannya terbatas. hahahaha. Kebanyakan MSG, kayak si Bening. :p

#inprogress. Ini hasil saya otak-atik. Belum jadi sih emang.

Setelah posting ini, saya bakal nyoba lagi sampai bisa. Semoga bisa. Setelah bisa, posting selanjutnya pasti tentang sejarah rubik. Sebenarnya bisa saja googling di Google (yaiyalah) bagaimana caranya menyelesaikan teka-teki rubik dengan benar. Tapi .. Tapi.. Tapi.. coba dulu deh. Kalau sampe besok-besok masih nggak bisa dan malah kebawa mimpi, baru deh googling. :)

Doakan saya ya teman-temaaaaaann... *pasang ikat kepala ala Jepang. Yosh.*


Bandung, le 5 juin 2010.

Wednesday, June 2, 2010

Konsisten?

Haruskah konsisten dalam mengisi blog? Kalau ditilik dari segi kerajinan mem-posting sih, udah pasti iya harus konsisten. Ingat saja tulisan yang tertera di sampul-sampul buku kala kita masih sekolah tingkat dasar: Sukses Bagi si Rajin. Jadi ya, anggapan umumnya adalah kalau rajin posting blog, semakin besar kemungkinan kita sukses.

(Sebenarnya itu bukan anggapan umum sih, tapi anggapan pribadi. Hahahaha)

Nah, kalau ditilik dari sisi gaya bahasa, bahasan, dan materi blog sih, saya rasa tidak harus konsisten ya?! Barebas we lahhh.. Jadi, ya seperti yang saya tulis sebelumnya di sini , maka mungkin akan mengalir sajalah ya. Entah bagaimana jadinya.

Mungkin nanti ada sapaan maneh, aing, saya, kamu, Anda, aku, urang, je, moi, i, awakku, ich, dan lainnya dan lainnya. Jangan ada yang protes. Hahaha. Ini rumah saya. Tapi tetep boleh berkomen kok di tempat yang telah disediakan. :D

(Saya menulis seperti sudah banyak orang yang baca blog saya. Padahal mah, newbie tea. )


Bandung, le 2 Juin 2010

I Lost My Teeth

Jadi ceritanya begini, Icha, seorang teman KKN meminta bantuan, maukah saya menjadi pasien percobaannya? Dia, si teman KKN ini, sedang melaksanakan co-assistant sebagai calon dokter gigi. Saya, yang merasa giginya durjana, maka mengiyakan. Tawarannya menarik, gigi saya dipasangi kawat lepasan. Maka, hari ini (Rabu - 2/6), saya bertemu dengannya di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) milik Universitas Padjadjaran yang terletak di Sekeloa.

Lalu bertemulah kami di lobby RSGM. Dia terlihat sangat kurus dibandingkan terakhir kali kami bertemu. Dia perkenalkan saya pada temannya, yang juga sedang co-ass, namanya Dito. Mereka periksa-periksa sedikit keadaan mulut dan gigi saya. Lalu, tiba-tiba diputuskan bahwa gigi saya, yang telah berlubang besar selama beberapa tahun, harus dicabut. Oh no!! Saya, tentu saja, mengiyakan. Selain jaim -supaya tidak dibilang penakut-, juga sadar bahwa harus ada yang terjadi pada gigi yang telah hidup segan mati tak mau yang ada di mulut saya.

Setelah diperiksa dokter dan disetujui untuk menjadi percobaan orthodonti, lalu saya digiring di ruang cabut gigi. Hadeuh. Ruangannya bersekat-sekat seperti warnet - tapi agak lebih besar, didominasi dengan warna putih dengan kursi berwarna hijau. Untungnya ruangan ini, karena termasuk bangunan baru, sangat jauh lebih baik dibanding ruangan yang saya datangi sebelumnya. Jadi saya agak tenang. Beberapa menit mengobrol kesana-kemari dan sarapan Oreo, maka gigi saya pun dicabutnya.

Dito : "Jangan nervous gitu, Di. Santai aja."
Dyah : "Iya, To, bismillah."
Dito : "Gini deh, umpamanya di kulkas ada makanan busuk, gimana tuh?"
Dyah : "Bau, kotor..."
Dito : "Nah, makanya kan mendingan dicabut."
Icha : "Dito kayak lagi praktik di Pedo (klinik anak)... "
Dyah : "... (mau jawab tapi nggak bisa, giginya lagi diotak-atik Dito) ..."

***

Enam tahun lalu, gigi saya juga pernah bolong cukup besar. Kalau ditambal percuma, hanya menghabiskan uang, kata si dokter dan co-ass itu. Maka jadilah gigi saya di cabut. Hiks. Nah, berhubung pencabutan tidak berjalan dengan sempurna, ditambah gigi saya yang rapuh, maka si akar gigi masih tertinggal di gusi. Sebab itu, diputuskanlah oleh pak dokter dan kak co-ass, bahwa gusi saya harus dioperasi untuk mengambil akar yang masih tertinggal. OH MY! Tapi ya apa boleh buat? Terpaksa.
***

Nah, maka dari pengalaman enam tahun lalu itulah, saya agak trauma jika gigi saya harus dicabut. Maka tadi pagi pun, degup jantung heboh kayak drum yang dimainkan oleh J.P.Millenix. (maaf saya memang harus agak lebay di sini. :p) . Belum lagi kalo di depan muka saya ada beberapa co-ass yang berkumpul untuk menyaksikan kehandalan Dito dalam mencabut gigi pasien. Antara deg-degan, pengen ketawa, dan Dito nervous, lalu hilang konsentrasi. Astaga naga.

Dito kasih tahu nanti akan seperti apa prosesnya. Bahkan pas mau nyuntik obat biusnya pun Dito bilang, "Nanti disuntiknya di sebelah sini dua kali, terus sekali lagi di pipi."

Subhanallah. Saya mah nggak usah dikasih tau sebenernya nggak papa. Langsung ajalah daripada ngebayangin malah serem. Hahahaha. Ya akhirnya, disuntik sana sini, dicongkel-congkel, dan dicabut deh. Hamdalah, ternyata yang ini tidak semenyeramkan enam tahun lalu. Prosesnya cepat dan tidak terlalu sakit.

Pas lagi bersihin sisa darah di gusi, Dito bilang, "Di, mukanya nggak usah merana gitu dong. Kan udah dicabut giginya." (Oke, Dito.. muke gue emang merana dari sononya. Lagi mikirin usmas soalnya. hahahaha.)

Setelah beres semuanya, saya sempat lihat si dua gigi yang dicabut itu. Iya, yang dicabut emang dua gigi. Maka sekarang saya ompong, kayak nenek-nenek. Hahahaha. Sayangnya lupa untuk difoto. Dan Alhamdulillah, gara-gara cabut gigi, saya jadi makan es banyak-banyak. Dan lagi, untungnya, sampai sekarang bekas cabut giginya nggak sakit. :)

Oke, jadi ada beberapa pengetahuan yang bisa diperoleh dari cerita ini. Misalnya ya:
  1. Rawat gigi yang bener dari kecil. Rajin sikat gigi. *Saya memang abai terhadap kesehatan, kesehatan organ apapun.
  2. Jangan takut ke dokter gigi. Mereka baik-baik kok. Cuma alat-alatnya aja yang kejam.
  3. Jaga hubungan baik dengan teman KKN, misalnya yang dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Biar murah kalo ada masalah gigi. Hehehe.
  4. Segala sesuatu yang sudah busuk jangan dipelihara. Termasuk dalam urusan hati. *CURCOL. Hahahaha*
Besok saya janjian lagi dengan si Icha si calon dokteur, dia mau periksa lagi gigi saya. Kali ini menyangkut orthodonti. Doakan saya selamat. :D



Mungkin nanti nasib saya kayak mbak-mbak ini.



Bandung, Le 2 Juin 2010.


P.S: Temen saya masih butuh pasien Ortho. Kalo ada yang berminat yaaaa.. Lumayan, ngebantu orang lulus kuliah (walaupun diri sendiri belum lulus juga. :p)

Tuesday, June 1, 2010

Copyright


Hey, did you see the picture in my blog title? Gambar itu diambil di halaman belakang Museum Fatahillah, Kota, Jakarta Barat beberapa bulan lalu. Fotografernya adalah Hapsari Sekar Adi . Jika ditilik dari hubungan keluarga, dia ini sebenarnya kemenakan saya. Tapi berhubung usianya lebih tua dua tahun dari saya, saya memanggil dia dengan embel-embel 'mbak'. Hehehe.

Bisa dibilang, kami jatuh cinta dengan tempat ini. Bagus deh tembok tamannya ini (iya, itu emang tembok, bukan nisan). Seperti tidak sedang berada di Indonesia. Hehe. Asalnya fotonya berwarna sih. Tapi dengan sedikit otak-atik, jadi deh fotonya seperti yang bisa dilihat di blog title. Sorry deh kalo jelek! Jadi kalo fotonya jelek, salah gue? salah temen-temen gue? * -____-" *



foto asli hasil karya Hapsari.


Sebenarnya, tujuan posting-an ini sudah jelas ya? Meminta izin atas penggunaan foto tersebut.

Haps, aku pake ya fotomu yang rupawan itu.. :D


Bandung, Le 1 Juin 2010

I Owe You Big Time, Team!


I found it's hard to write this experience-cum-feeling. Kadang memang agak sulit untuk menuangkan apa yang saya rasakan dalam teks. Apalagi dengan segala emosi yang menyertainya. Tapi,ya beginilah jadinya tulisan ini. Agak bertele-tele karena dibuat tanpa pikir panjang. :)

Dan cerita pun mengalir...

Sudah bertahun lalu ketika kejadian ini terjadi. Saya dan teman-teman berada di gang sempit di sekolah saya masa itu. Bukan tanpa alasan, kami berkerumun di depan jendela ruang itu. Di jendela itu, yang kusennya berwarna abu-abu, ditempel sebuah pengumuman yang akan mengubah hari-hari kami. Di pengumuman itu, tertera siapa-siapa saja yang akan mengikuti muhibah kebudayaan ke Eropa. Dan, di tahun 2004 itu, saya dan beberapa teman harus pasrah dan sabar saja untuk tetap berada di Bandung. Eropa menjauh dari jangkauan kami.

Jangan tanya saya, bagaimana perasaan saya kala itu. Bertiga dengan kawan dekat, kami harus bersikap seolah semuanya baik-baik saja setelah keputusan itu.

***

Lepas enam tahun setelah kejadian itu, kini saya mendapat kabar bahwa muhibah kebudayaan sejenis akan diadakan kembali. Kali ini, negara tujuannya adalah Slovenia, Austria, dan Spanyol. Dan, tentu saja sekarang saya sudah lulus dari sekolah saya masa itu, tidak lagi bergerombol untuk melihat pengumuman siapa yang akan berangkat dan siapa yang tidak, dan sudah pasti saya pun tidak ikut dalam muhibah itu.

Ini adalah perjalanan Expand the Sound of Angklung (ESA) yang keempat. Sebelumnya, kegiatan ini dilaksanakan berturut-turut pada 2002, 2004, dan 2008. Saya, yang hanya melihat, menemukan adanya kemajuan di setiap kegiatan ini dilaksakan. Tim ini selalu menampilkan inovasi-inovasi yang lebih lagi setiap tahunnya.



ESA 2004 (sumber: angklung3.info)



ESA 2008 (sumber: angklung3.info)

ESA adalah sekelumit saja dari perjalanan Keluarga Paduan Angklung SMA Negeri 3 (KPA 3) Bandung. Tiga puluh tahun perjalanan KPA 3 adalah tidak mudah. Apalagi jika berbicara mengenai dukungan pemerintah. So typical.



Konser Orkestrasi Angklung VII: "Tapestry of Beauty - Presenting Maestros All Around the World", Aula Simfonia Jakarta, Maret lalu. (sumber: tukangbetotbass.tumblr.com)

Selain ESA, KPA 3 memiliki konser yang diagendakan tiap dua tahun sekali. Jika ada agenda penting, konser bahkan dilakukan pada tahun-tahun yang berurutan. Bahkan mungkin konser dilakukan dua kali dalam setahun. Berbagai agenda tahunan pun menjadi program kerja setiap pengurus KPA, misalnya saja pelatihan make-up, pelatihan aransemen, dan banyak hal lagi.

Perjalanan KPA, kalau boleh dibilang, tidak mudah. Apalagi menjelang perhelatan-perhelatan besar, seperti konser dan ESA. Semua tenaga dikerahkan para anggota dan pelatihnya, bahkan beberapa alumni masih mau menyempatkan waktunya untuk membantu pengurus melaksanakan program-program kerjanya. Semuanya dilakukan sendiri, tidak ada campur tangan event organizer ataupun pihak sekolah. Kebutuhan moril dan materil disediakan sendiri oleh ekstrakurikuler ini.

Tidak heran jika ekstrakurikuler ini acapkali menjadi rumah kedua yang begitu dicintai oleh anggota-anggotanya. Pada suatu waktu, waktu yang dihabiskan di KPA lebih banyak daripada yang dihabiskan di ruang kelas untuk belajar formal, dan bahkan rumah, tempat keluarga mereka berada. Dan saya, saya termasuk yang merasakan hal tersebut.

Boleh kau bilanglah, kalau memainkan angklung adalah hal yang kuno atau cupu. Tapi kalau kau tahu apa yang terjadi di ekstrakurikuler ini, bisa jadi pemikiranmu berubah. Apa yang kami lakukan belum tentu bisa orang lain lakukan. Dan ini bukan hal yang kecil. Ini tidak sesimpel kelihatannya: membawa angklung dan memainkan lagu dalam durasi tertentu. Tapi lebih dari itu, ini adalah hal yang kompleks dan sangat besar, dalam pandangan saya.

Ada dua alasan yang menyebabkan ekstrakurikuler ini tidak kecil bagi saya. Alasan tersebut terbagi menjadi alasan obyektif dan subyektif. Yang mana yang saya maksud dengan alasan obyektif? Organisasi ini ternyata memang menjadi salah satu pelestari budaya bangsa. Tentu saja dengan kegigihan kami-kalian- kamu-mereka-dia, sejak tiga puluh tahun silam hingga sekarang, dalam meregenerasi organisasi ini. Sounds so cliché, though. But yes, we’re doing that such thing. Organisasi ini, jika kamu mau tahu, memang benar-benar membawa nama bangsa Indonesia ke dunia internasional, walaupun baru secuil.

Si angklung dari bambu-bambu yang kami getar-getarkan itu, pada akhirnya memang mengantarkan kami pada pelestarian budaya bangsa. Entah kami-kamu-mereka-kalian-saya-dia sadari atau tidak. Nyatanya, kami memang melakukan hal itu.

Beragam konser, beberapa muhibah kebudayaan ke luar Indonesia, dan partisipasi dalam festival-festival itu memang nyatanya menjadi beberapa bukti bahwa memang salah satu organisasi budaya di (mantan) sekolah saya itu memang menghasrati agar angklung tidak dilupakan orang. Biar saja jika mereka yang lain bilang organisasi itu culun. Tapi nyatanya organisasi ini memang berbuat sesuatu.

Bayangkan saja jika satu konser itu minimal menghabiskan uang Rp 100 juta. Pun dengan muhibah kebudayaan ke Eropa yang bisa capai angka setengah miliar rupiah. Entah apa saja usaha yang telah dilakukan untuk memenuhi jumlah-jumlah anggaran pengeluaran di proposal. Atau latihan-latihan yang menghabiskan waktu dan tenaga. Di saat tuntutan akademik yang begitu menggila, mereka yang berkomitmen tetap harus sisihkan waktu untuk latihan. Jika mendesak, latihan baru akan selesai setelah kumandang adzan Isya.

Tapi hingga sekarang, organisasi ini tetap hidup. Tetap melakukan konser-ratusan-juta-rupiah. Tetap melakukan muhibah kebudayaan yang asalnya hanya imajinasi. Tetap menang di beberapa festival. Tetap latihan dua kali seminggu. Tetap tampil di beberapa acara penting. Jika sudah begitu, tentu saja, ini hal yang sangat besar.

Dan alasan subyektif adalah alasan yang telah saya sebutkan dalam pembuka tulisan ini. Saya tidak bisa ikut serta dalam ekspansi bebunyian angklung di 2004 silam. Saya sempat sedih, kecewa, dan menarik diri. Dan hingga kini, rasa-rasa negatif itu masih mungkin datang. Atau mungkin tentang bantuan-bantuan ringan yang masih saya lakukan jika diperlukan hingga saat ini, ketika saya telah keluar dari sekolah itu lima tahun silam. Maka memang benar, itu adalah hal besar bagi saya.

***

Adalah suatu proses yang panjang bagi saya untuk dapat meyakinkan diri bahwa yang kami lakukan memang benar-benar berarti untuk bangsa ini. Butuh waktu yang panjang untuk menyadari bahwa yang kami lakukan memang benar-benar bukan hal yang main-main dan tidak sekedar bersenang-senang. Di balik itu ada motif yang mungkin tidak pernah terpatri secara sadar dalam ruang ingat kami. Tidak pernah ada ide dalam pembicaraan kami bahwa kami melakukan ini untuk skala yang lebih besar di luar diri kami. Ini, awalnya, adalah hanya untuk diri kami. Bisa dibilang, egosentris. Tapi nyatanya, it’s a big thing.

I owe you big time to think about this big thing. :D


Bandung, Le 19 Mars et 31 Mai 2010

*Awalny tulisan ini dibuat sebagai pengungkapan isi hati karena lebih tergoda pada Camera Obscura yang datang ke Sabuga, 20 Maret lalu. Namun, kembali disempurnakan pada hari ini, setelah kemarin menonton konser preliminary ESA 2010 dan melihat video-video ESA 2004 dan 2008 di Youtube. :D