Tuesday, January 10, 2012

Kebetulan Betulan?


Mungkin benar ya, udara dingin bisa mengarah pada kegalauan. Oh baiklah, Twitter makes word “galau” overrated. Yang ini, bukan semata-mata tentang percintaan, tapi “galau” pada akarnya, kacau tidak karuan. Apalagi kalau udara dingin itu berpadu apik dengan buku yang sedang dibaca. Bikin kepikiran. Hehe.

Suhu Bandung belakangan ini menyentuh angka belasan. Dingin-dingin asoy. 16-18 derajat Celsius sajah, pemirsa. 

Jadi ceritanya saya sedang membaca buku Manjali dan Cakrabirawa dari Ayu Utami. Seperti biasa, ada satu dua tiga kutipan yang menyentil rasa dan pikiran saya. Dikira akan hilang dalam tempo waktu yang secepat-cepatnya, seperti apa yang terjadi biasanya. Ndilalah kok nggak ya? Sampai pagi ini ternyata masih berputar-putar di otak. Penting banget emang ya? Halah.




Apa rupanya kutipan itu?

Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kita tetap percaya bahwa itu tidak bermakna? (Jacques, hal.19)

Dang.

Dan lalu disambut dengan ini:

Jika kebetulan itu terlalu banyak, artinya masing-masing dari kita memiliki peran. (Marja, hal.247)

Lalu ada apa dengan kutipan-kutipan itu? Nggak apa-apa sih, cuma berasa sudah terpikir sejak lama tentang “kebetulan” itu. Setelah ada teman yang bilang bahwa dia tidak percaya akan kebetulan. Dan sejak saat itu, setiap ada kebetulan yang terjadi pada saya, saya langsung menganalisis apakah itu adalah sebuah kebetulan atau bukan. Agak ruwet sih. Dan seringnya emang hanya berakhir di analisis saja, tidak ada simpulannya. Haha.

***

Oh iya, mengenai buku ini, saya berikan poin 3 dari 5. Loh bukannya buku Ayu Utami itu keren ya? Emh, entah, saya seperti tidak terlalu klik dengan buku ini. Seperti terlalu banyak yang ingin diceritakan dalam 247 halaman. Alurnya seperti terlalu lambat di awal, terlalu cepat di akhir. Terlalu banyak yang terselesaikan dengan kebetulan yang terlalu cepat. Atau memang saya juga tidak percaya dengan kebetulan? Ha.

Atau mungkin harus baca Bilangan Fu dulu ya? 

Poin tiga yang saya sebut tadi itu untuk pilihan kata yang menarik, cerita tentang kerajaan yang saya suka sekali, dan pernyataan-pernyataan yang mudah dimengerti. Lumayan sih buat saya yang malas baca buku yang terlalu tebal. Haha. *menatap Nagabumi yang berdebu di kardus*

Bandung, le 10 Janvier 2012


Saturday, January 7, 2012

The Pursuit of Happyness


2012 udah berjalan beberapa hari, telat nggak sih kalau bikin tulisan tentang 2011? Hahaha. Whatever.

Kalau mau bilang 2011 berjalan biasa saja kayaknya nggak mungkin ya? Banyak hal yang terjadi di tahun itu, mostly sih menyenangkan. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Ngerjain skripsi lama banget, tapi akhirnya selesai dengan nilai yang memuaskan pula. Akhirnya lulus, setelah enam tahun ngejogrok di kampus penuh kenangan itu, konser The Cranberries yang menyenangkan jiwa raga, liburan ke Karimunjawa yang begitu syahdu, dan lain-lainnya. Ketemu orang-orang hebat. The best part is knowing that i still have a bunch of best friends, if I can mention that.

Apalagi ya? Oh, dapat beberapa kerjaan yang mendorong saya keluar sebentar dari lingkaran pertemanan sampah ini. And it feels great when I meet my inner circle again. Latihan untuk jauh-jauh dari orang-orang yang sudah lima tahun menjadi sandaran saya. Ok, I’m getting too mellow when it comes to them, but emm.. that’s exactly what I feel. Hehe. Gotta write about them in next posting, maybe.

Intinya, walaupun dua kali wawancara dan dua kali juga tidak diterima kerja di perusahaan yang diinginkan, tapi 2011 tetap juara satu. Menyenangkan, sampai-sampai saya tidak ingat pernah sedih di tahun itu. Alhamdulillah.

Semoga di 2012 ini semuanya akan lebih indah dan menyenangkan lagi. Semoga semangat saya terus ada untuk mencoba ini dan itu. Semoga rezeki terus mengalir, meskipun sedikit demi sedikit. Semoga, semoga, dan semoga.

Bismillah.
Semoga semesta Memberkati.J

Bandung, le 7 Janvier 2012

 (Harus mulai membiasakan diri menulis 2012. J)

*Judul diambil dari film yang dibintangi Will Smith dan Jaden Smith.* 

Friday, December 30, 2011

Sadly, Yes!

Ini lagu lumayan sudah lama sih. Another ciamik song, kalau menurut saya. Bisa banget Mas Jonas Bjerre memproduksi suara yang pas dan sesuai untuk suasana lagu ini. Musiknya lumayan segar bugar, tapi isinya.. yagitudeh. Nggak harus mendayu-dayu untuk bikin lagu yang "mengena" toh? Inilah lagu yang sering menemani ketika suasana hati sedang kacau-balau-galau.Lagu jaman skripsi banget. Hehe.


MEW - Sometimes Life isn't Easy


You're everything to me.
Celebrate the one you love,
The way it operates.


You're everything to me.
Celebrate the one you love,
The way it ought to be.


Thinking about everything.
Why did you stop?
You don't know what it's like.


Isn't that how it goes,
When you're lovesick?
Thinking about everything.


Don't you know sometimes,
When it feels like someone put a hex on you?
Well, I felt like that.
I was blaming myself.
I was cushioning my fall.


Hold my arms back when they beat me,
Leave me in the ditch where they kick me,
Sever my limbs and deceive me.


Sometimes life isn't easy.


Here we go.
Here we go.
I'm surprised in you,
Here we go.


Beside you,
And like you.
I'm lost in your doubt,
Scrolling, scrolling, scrolling.


Hold my arms back down when they beat me.
(Hold my arms back, try)
(I promise you...)
Water rise.


Don't you know sometimes,
When you can't see no end
To the tricks we play?


Sometimes life isn't easy.


Here we go.
Here we go.
I'm surprised in you,
Here we go.


Beside you,
And like you.
I'm lost in your doubt.


Here we go,
Here we go.
I'm surprised in you,
Here we go.


Beside you,
And like you.
I'm lost in your doubt.
Scrolling, scrolling, scrolling.


Safety net,
I regret
I am shaking.
(We know you are)
I am shaking


***


Pas banget kayaknya didengarkan sekarang, ditunjang dengan suasana Bandung yang sedang adem ini. Anggap saja kita sedang berada di Denmark bareng MEW. Cuss.

Bandung, le 30 Decembre 2011



Short Story


Boleh jujur? Saya, seperti orang lain, sejujurnya tidak suka ketika ditanya mengenai pekerjaan. Ya saya tahu, dengan jelas dan sadar, bahwa saya sudah lulus, punya ijazah, dan harusnya sudah bekerja. Tapi ya sudahlah, tidak usah diperpanjang, yang penting saya nyatanya bekerja, walaupun “pseudo”. Hahaha.

Intinya gini deh, sejak Oktober lalu dan sampai saat ini, saya punya pekerjaan. Dan tidak sepenuhnya minta uang dari Yang Mulia Kanjeng Ibu untuk beli sepasang, dua pasang sepatu. Habis perkara.

***
Tiga bulan ini, saya mengerjakan pekerjaan yang satu, sempat terdampar di pekerjaan kedua selama dua minggu, dan kemudian ada satu pekerjaan kecil di bulan terakhir. Hampir semuanya hal yang baru bagi saya, walaupun yang dua tidak terlalu jauh dari bidang yang saya pelajari sejak enam tahun lampau. *krik krik, lama ajah. *

Saya tidak bisa bilang semuanya seratus persen menyenangkan. Kadang membosankan dan justru terasa menjadi beban, ketika saya menjalaninya. Tapi, heii, itulah pekerjaan kan? Kalau terus-terusan menyenangkan, itu mungkin namanya hobi. Dan yang paling penting, saya belajar banyak dari pekerjaan-pekerjaan itu. Punya teman baru dan beberapa perspektif tambahan tentang bagaimana hidup ini harus dijalani. Deuh.

Yang satu mengantarkan saya untuk lebih peka terhadap perasaan sendiri, perasaan perempuan. Tahu apa yang sebenarnya perempuan mau. Tapi juga menyuntikkan ide-ide (tidak) segar bahwa perempuan itu bisa melakukan hal-hal baik dan tidak selamanya berpikir hanya tentang percintaan. Kamana atuh galau?!

Yang kedua mengantarkan saya untuk menyadari satu keburukan dan sejuta kebaikan dari belajar di (mantan) kampus saya yang berada di kaki Gunung Manglayang. Percayalah atas tempaan-tempaan yang pernah kita dapat, itu semua berguna di masa depan. Terutama di bagian “begadang” dan “pekerja yang mau disuruh-suruh”. Haha. Good news? Or even bad news?

Dari situ pula, saya menjadi sedikit tahu tentang dunia freelance. Sesuatu yang sebenarnya sangat saya takuti, ketika saya hanya bekerja dalam waktu yang singkat dan penuh dengan ketidakpastian. Ketika kamu memang hanya bisa mengandalkan diri sendiri, tanpa orang lain sama sekali. Simpulan yang mungkin salah.

Dan yang ketiga pernah mengantarkan saya berkeliling Asia-Afrika di suatu ruangan yang sesak dengan tarian dan lagu-lagu khas masing-masing daerah. Menyadarkan bahwa saya, kami, hanyalah setitik kecil organisme yang mungkin tidak ada gunanya di antara 7 miliar manusia yang kini menghuni dunia. Eh, tapi dari saya dan kami yang kecil itu mungkin bisa melakukan sesuatu yang berguna nantinya. Entah untuk saya sendiri, kami, atau bahkan untuk skala yang lebih luas.

Dari pekerjaan nomor tiga yang (sangat) singkat itu, saya tahu saya harus pergi dari sini. Kapan ya? Tahun depan yuk, temans. :D

Bandung, 30 Decembre 2011

Saturday, December 24, 2011

Comment ça va?

Haaiiiiii! *lambai-lambai centil*

Sudah lama sekali rupanya sejak saya menjejakkan jejak di sini. *Tutup muka, malu*. Banyak sekali yang sudah terjadi dua bulan terakhir ini dan saya alpa menuliskannya. Maaaaf. *Minta maaf ke siapa? Kayak ada yang baca. Ihik.*

Oke saya akan segera menuliskannya. Akan dan segera. Taulah itu artinya apa? :D