Monday, October 1, 2012

Rumus Risau


Sejatinya apa yang kau sebut sebagai pencapaian? Or achievement, you may say. Nama yang muncul di majalah, sebagai penulis? Foto terpampang di majalah sebagai narasumber? Pergi keluar negeri sendirian dan berkelana ke sana kemari tanpa takut kehabisan uang? Atau menjelajahi berbagai perpustakaan di Britania Raya untuk mengumpulkan bahan untuk penelitian? Atau bisa bayar cicilan mobil dan apartemen sendiri? Atau sesederhana ini: nggak minta uang tambahan dari orangtua di akhir bulan?

Dan yang mana yang telah saya capai? Apakah benar-benar itu yang saya inginkan untuk mengisi hari-hari yang kian terasa membosankan ini? Seorang teman pernah berkata, "Gue jelas tahu apa yang gue nggak suka tapi apa yang gue suka? Itu masih jadi pertanyaan besar." Nah!

Apakah memang serumit itu memutuskan dan mengklasifikasi apa saja yang disuka, dimau, nggak disuka, dan nggak dimau oleh diri ini? Yang sesungguhnya ia punya otak dan hati untuk memilihnya. Atau keduanya tak bisa memilih karena tak terbiasa memilih? Atau memang tak ada pilihan karena ia sudah beku dan jadi robot? Oh, ataukah tak ada yang harus dipilih dan diputuskan karena ia harus mengalir saja seperti air sungai dari puncak pegunungan ke hilir yang bermuara ke laut lepas? Apakah dengan begitu kau hanya akan menjadi orang yang tak berpendirian dan tak punya masa depan?Apakah itu berarti saya tak punya ambisi?

Bagi saya, yang tak jelas betul maunya apa dan tak tahu benar apa yang disukai, merumuskan hal seperti ini adalah mustahil. Tapi jika melihat orang lain yang begitu dan begini serta dapat ini dan dapat itu, jujur saja, perasaan iri itu begitu membuncah di dada, bikin sesak, dan ingin segera seperti mereka. Tapi saya sadar saja kalau itu hanya perasaan sesaat yang hanya bikin susah hati. Lima menit kemudian sudah lupa. Namun beberapa saat kemudian, biasanya sepulang dari kantor, dengan raga dan jiwa yang terasa lelah, saya jadi terpancing untuk punya pegangan. Setidaknya saya harus tahu, apa yang akan dihasilkan oleh batin dan jasmani yang lelah itu? Saya pun seharusnya tahu, pencapaian macam apa yang bikin saya bahagia luar dalam. 

Jadi, apakah itu? Belum tahu.

Udah ngomel-ngomel, tetap saja tak ada simpulannya. Pointless. Hahaha. Mari menertawakan diri sendiri.

Saturday, September 15, 2012

Asah Asa

To the future, we surrender.

Tak pernah bosan dengar lagu yang satu itu. Mungkin Meng merasakan apa yang saya (kami) rasakan saat ini. Mungkin ia pernah melewati fase ini juga. Mungkin ada hal yang melesakkan hati dan harapannya ke jurang terdalam ketika ia menulis lagu itu dalam guratan nada serta lirik. Mungkin juga tidak terjadi apa-apa.

Tak ada yang perlu ditakutkan dengan masa depan, begitu saya selalu bersugesti. Sungguh tak ada. Masa depan tetap akan terjadi dalam hitungan detik, bahkan ketika rangkaian kata ini belum selesai ditulis. Ia hadir tanpa kau minta. Melesat begitu saja tanpa minta pertimbangan darimu. Senyatanya, ia tak bersinggungan dengan keinginan atau harapanmu.

Maka mengapa saya, kami, kamu, dan dia begitu takut ketika ia bergegas melampaui jejak yang tertoreh? Atau karena ia terburu-buru? Atau karena kita lengah?

Jakarta, le 15 Decembre 2012

Thursday, August 23, 2012

Alasan


Lalu, apa rupanya yang membuat menulis  itu menjadi sulit? Bohong banget katanya mau isi blog minimal seminggu sekali. Haha. Janji-janji palsu, masa iya harus bikin #trinisat kayak tahun lalu lagi? Itu pun menggeh-menggeh bikinnya. :p

Jangan-jangan ini semua malah karena kerja di bidang penulisan? Ah, nggak juga sih. Karena menulis untuk blog dan majalah kan beda, ya? Pasti lebih bebas menulis gagasan-gagasan yang berkeliaran nggak teratur itu di sini. Tapi terus karena apa dong ini catatan pribadi jadi terbengkalai? Waktu ada (walaupun week-end doang paling), ide ada (walaupun cemen dan cimit), laptop ada (walaupun lemot), dan koneksi internet pun ada  (walaupun hanya di kantor atau di rumah bude). Semua syarat sudah terpenuhi, harusnya nggak ada alasan lagi kan, ya, untuk nggak ngerawat blog ini? Tapi ada aja halangannya. 

Dan itu adalah.. 


MALAS

Selesai. :D


Bandung, le 23 Aout 2012

Friday, April 13, 2012

Socializing


Bersosialisasi adalah hal yang biasa saja. Berhubung saya orang yang nggak ribet, tapi ruwet. Ketemu orang baru itu seru. Ngobrol dengan teman lama itu menyenangkan. Berbagi pendapat dan basa-basi itu kadang sama-sama menggairahkan.

Semuanya biasa saja. Walaupun kadang saya lebih memilih berdiam di rumah, bahkan di kamar saja selama beberapa hari, tapi pulang larut dan terlambat gegara bersosialisasi juga saya lakukan. Seimbang saja kadarnya, menurut saya. Selama saya senang dan menikmati keduanya, tentu tidak masalah.

Saya masih menikmati bermain dan bersosialisasi sekarang. Di tengah tenggat, bersosialisasi dengan teman-teman menjadi hiburan tersendiri. Tapi, akhir-akhir ini ada pikiran aneh yang berkecamuk di pikiran saya. Aneh menurut saya sendiri, ya. Sejak beberapa lama sebelum pergi ke sini, saya telah merasakannya: bersosialisasi itu melelahkan. Butuh banyak waktu dan tenaga.

Entah darimana datangnya pikiran dan perasaan itu. Sepertinya sih bukan hal yang muncul tiba-tiba.

* Tulisan sepotong ini akan dilanjutkan kapan-kapan. :D 

Thursday, March 22, 2012

Let's Contribute!


Beginilah kira-kira


“Kalau maneh jadi Walikota Bandung, apa proker maneh?”

“Bentar urang pikir-pikir dulu. ”

Aing mah ya, mau ganti atap rumah-rumah ini aja. Biar jadi bagus dan enak dilihat. Masalahnya, kalau disuruh ngebenerin jalan, mahal pisan. Ngeganti atap mah bisa lah, ya. Masa bisa kampanye, nggak bisa ganti atap.”

Pembicaraan itu terjadi sekitar Februari ketika si teman-teman baik sedang berkunjung ke rumah saya dan kami mengobrol di lantai teratas. Pemandangan yang terhampar, tentu saja, Pasupati dan pemukiman padat di bawahnya. Itu Dimas yang memaparkan rencananya jika ia menjadi walikota kota tersayang ini.

***
Beberapa minggu selanjutnya, tepatnya tadi malam, saya ada kumpul di Purnawarman. Tempat yang asyik buat ngumpul karena memang didesain untuk berkumpul. Banyak ruangan besar dan selasar terbuka yang boleh dipakai duduk, curhat, bertukar ide, dan menggalau. Yang mengundang kumpul adalah @BCCF_bdg. Siapa pula itu?

BCCF adalah Bandung Creative City Forum. @BCCF_bdg bermula dari sekumpulan orang yang berkumpul (yaiyalah) dan beride. Saya tahu mereka melalui Twitter (lagi-lagi). Mereka adalah sekumpulan orang yang cinta Bandung, seperti saya. Ingin bikin Bandung lebih baik, tanpa mengandalkan pemerintah kota terlalu banyak. Kelamaan soalnya, banyak alasan, dan belum tentu berhasil. Haha. 

Mereka sudah punya program kerja dan butuh banyak sekali orang untuk menjalankannya. Sungguh deh saya ingin sekali ikut serta, kalau memungkinkan. Ide pokoknya sederhana saja, mengolah potensi yang sudah ada. Tapi justru itu yang jadi seru dan tricky. Sejauh mana sih orang-orang Bandung ini mengenal Bandung dan bisa mengemasnya untuk "dipamerkan” ke orang luar Bandung. Ya, bikin bagus sesuatu yang sudah jadi ‘kan nggak semudah dan secepat lari satu keliling di lintasan Sabuga, ya?

Banyak sekali program kerjanya di 2012 ini *semoga belum jadi kiamat*. Ada yang menonjolkan satu daerah sebagai pusat jajanan, pusat oleh-oleh, pusat seni visual, dan lain-lain. Wilayah mana saja yang mau “diruwat”? Ada lima wilayah. Leuwi Panjang di Selatan, Ciroyom di (agak) Barat, Tamansari di Pusat, Dago Pojok di Utara, dan Cicadas di (agak) Timur.

Daaaan… salah satu prokernya adalah bikin mural di atap rumah warga. Tentu supaya jadi bagus dan enak dilihat. Setidaknya memberikan pengalaman visual yang baik bagi pengunjung Bandung. Siapa tahu dengan dimanjakan secara visual, mereka lantas nggak sadar kalau jalanan di Bandung bergelombang dan bolong-bolong. #eh

Oh ya, program bagus ini sangat sayang kalau dilewatkan. Bagi yang bisa berkontribusi, apalagi yang ngaku cinta Bandung, silakan bergabung, mumpung ada wadahnya. Daripada cuma ngutuk Bapak Walikota yang akan maju jadi calon gubernur, terus kesel dan ditahan-tahan cuma jadi dosa dan jerawat. Cuss, langsung mention saja @BCCF_bdg atau datang ke Jalan Purnawarman 70. :D

Bandung, le 22 Mars 2012