Monday, September 2, 2013

Ocehan Pejalan

Serenity.

Kalau ada yang bilang life is a journey, maka saya akan mengiyakan. Lalu jika ada yang bilang life is an absurd journey, maka saya akan angguk-angguk menyetujuinya. Tambah lagi, misalnya ada yang bilang life is a long absurd journey, saya akan mengamininya dengan lantang.

Di tengah lelah menjalani hidup yang tak bisa terduga, hebat juga manusia-manusia yang bisa terus bertahan hingga di akhir hayatnya. Ketika banyak juga yang memutuskan untuk segera mati dan mengakhiri perjalanan, maka adalah sebuah keberanian untuk melanjutkan hidup yang tak selalu mudah dan kadang terlalu berliku.

Maka tak salahlah –bagi yang memilih hidup–  jika mengambil jeda sejenak. Duduk bersandar pada pohon yang teduh. Menenggak air dingin atau teh rasa peppermint yang melegakan kerongkongan. Menghela napas sedalam mungkin hingga oksigen memenuhi rongga paru-paru. Dan mengudap sekerat roti untuk menambah tenaga. Atau berbelok sedikit dari tujuan untuk mendapatkan penghiburan.Atau juga pejamkan mata berdetik-detik agar tercapai lagi keseimbangan yang seharusnya.

Maka berterimakasihlah pada semesta jika masih ada orang yang mau menemani berjalan menyusuri ketidakpastian. Sebagai tempat berbagi lelah yang dirasa dan menyandarkan tubuh di kala goyah. Dengarkan ocehan-ocehannya yang kadang tak masuk akal karena dehidrasi dan delusi. Biar berbalas argumen yang tak bakal berujung. Genggam erat jemarinya karena tak tahu hingga kapan ia betah menemanimu berjalan bersisian. Lepaskan tawa tanpa beban yang mengurangi rasa jengah yang mendera.

Setelah perbincangan di akhir minggu bersama beberapa teman baik.

Jakarta, le 1 & 2 Fevrier 2013

Monday, July 22, 2013

Keluh Kesah

Kamis lalu, setelah bergulat dengan macet yang menyesakkan dada pas pergi ke tempat liputan, saya memutuskan untuk bertemu seorang teman sebelum pulang ke kosan. Teman lama yang sudah tua. Hahaha. *dikeplak* Dia tinggal di Bogor dan tak setiap hari datang ke Jakarta. Pekerjaannya sebagai pekerja lepas di sebuah media bertema teknologi bikin dia lebih pilih ngendon sendirian di rumah. Sebelumnya, kami sempat janjian untuk bertemu karena saya berniat mengembalikan barang yang saya pinjam berbulan-bulan lalu. Tapi sulit sekali rupanya mencocokkan jadwal kuli-kuli ini. Beberapa kali janjian tapi tak pernah terlaksana.

Seperti jamaknya pertemuan-pertemuan sebelumnya, kami berbagi informasi tentang gadget. Dia memang punya ketertarikan tersendiri pada benda-benda seperti itu, geek, sedangkan saya juga menulis tentang gadget, suka pada benda-benda mahal itu, tapi gaptek. Hahahahaha. Pembicaraan berlanjut ke hal yang lebih serius. Tentang keinginan-keinginan membeli gadget tapi alokasi dana terlalu terbatas. Maka obrolan malam itu berujung pada ketidakpuasan kami dengan upah dan kerja yang didapat. Ya, namanya juga anak muda. Haha. 

Saya ingat nyeletuk, "Aduh, maaf ya, aku ngeluh terus." Lalu dia jawab dengan enteng, "Ya, nggak apa-apalah sekali-sekali ngeluh, nggak bayar ini kan?" Dan saya senang karena dia bilang begitu.

Selama ini, saya berusaha tak mengeluh, jikapun berkeluh-kesah, dalam hati saja. Tak usah diungkapkan. Meski kadang berhasil, kadang juga tidak, karena godaan untuk melakukannya terlalu besar. Kerjaan yang nggak selesai-selesai, teman-teman yang menjengkelkan, cucian yang nggak kering-kering, ibu yang susah diajak bicara, sepatu yang rusak, dan lain-lainnya. Banyak banget hal yang bisa bikin saya mengeluh setiap hari! Namun, dengan disertai akal jernih, saya sebisa mungkin menyimpan keluhan itu dalam hati. Kalau sudah tak tahan, teman-teman dekat bakal jadi tempat sampah untuk menampung ocehan-ocehan itu. Tak jarang, yang terjadi juga sebaliknya. Saya mengeluh dalam hati, mereka mengungkapkan keluhannya dan saya langsung bersyukur karena hidup saya tak seribet mereka. Lagipula, terlalu sering mengeluh juga menurut saya nggak asyik karena bikin orang lain terinfeksi, buang tenaga, dan bikin nggak semangat.

Tapi malam itu lain, seorang teman malah mengingatkan kalau kita boleh mengeluh dan berbagi kekhawatiran. Sedikit saja, sekali-sekali saja. Halal. Gratis pula. Siapa tahu malah bebannya sedikit berkurang. Dan lalu saya sambut ungkapannya, "That's why i need to talk to you and the other friends sometimes." Bagaimanapun, saya memang punya kebutuhan untuk bertemu dengan salah satu dari mereka untuk tetap waras. Dan lalu ia balas, "Yaelah, kayak baru kenal kemarin deh."

Lalu dua orang teman lainnya menyusul dan mereka bikin hari saya tambah menyenangkan. ;)


Bandung, le 21 Juillet 2013

Wednesday, July 17, 2013

Terus Tulis



Atau harus mengetik pakai ini?


Mana, katanya minimal sebulan satu tulisan? Hahaha. Janji yang tak pernah tertepati.

Beberapa minggu terakhir, saya banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke blog orang. Kalau biasanya untuk kepuasan sendiri, kali ini untuk tugas kantor.. Mau tidak mau, saya jadi banyak baca tulisan orang-orang. Rasanya malu sendiri karena tak rajin mengisi blog ini. Entah bagaimana, mereka-mereka itu kok bisa konsisten menulis di jurnal pribadinya. Seperti ada saja hal seru yang bisa diceritakan dan punya cukup waktu untuk mengelola rumahnya dengan rajin. *tutup muka* Bahkan ada rasa sebal ketika si empunya blog yang saya kunjungi tak rutin menulis. Mungkin itu yang dirasakan ketika orang bermain ke lahan saya ini. Eh, itu juga kalau ada yang bertamu sih. Hahaha.

Perkara menulis ini memang gampang-gampang susah sih. Apalagi untuk seseorang yang bekerja di media dan bagian redaksi pula. Kalau analisis saya dan teman-teman, walaupun menulis untuk diri sendiri itu semacam upaya pelepasan stres tapi pekerjaan sehari-hari yang memaksa menulis juga sudah bikin jengah. Jadi ya, terabaikan. Pa to the yah! Mau dirangsang dengan suasana nyaman untuk ketak-ketik pun tetap saja kata-kata yang berseliweran di otak tak bisa tersalurkan dengan lancar. Hyah!

Dari blogwalking ini, saya makin sadar kalau bisa menilai dan merasai orang dari tulisannya. Beberapa bahkan ada yang bikin mangap karena pemikirannya. Lalu jadi menelusuri rasa para blogger yang dituangkan lewat untaian kata-kata yang mereka pilih. Hebat mereka itu!

Yuk ah, nulis lagi.


Tapi bohong lagi pasti. Hahaha.
Apalagi di tengah deadline menjelang Lebaran ini. Ouch!


 Jakarta, le 16 Juillet 2013.

Friday, May 10, 2013

Soal Sigur Rós di Singapura


Dalam rangka nggak jadi nonton Sigur Rós di Indonesia, maka saya putuskan untuk menyelesaikan tulisan yang nggak pernah kelar sejak enam bulan lalu ini. Sedikit banyak, inilah ceritanya.
  
Setelah segelas bir (mahal) habis, akhirnya mereka muncul juga di panggung. Layar mulai ramai dengan video dan bebunyian dari alat musik gesek bersahutan dengan denting glockenspiel. Teriakan “Cang ci men, cang ci men!” ala bis di Indonesia dan “Please sit down!” pun berganti dengan Icelandic dan Hopelandic dari Jónsi. Seketika kekecewaan nggak jadi foto bersama si vokalis (padahal udah sebelah-sebelahan) pun terobati. Perjalanan resmi dimulai!

Seperti biasanya ketika saya mendengarkan musik-musik Sigur Rós, kali ini mereka juga bawa efek yang sama. Bulu kuduk meremang dan bukannya hilang dan tenang, pikiran makin melantur tak karuan dan berdatangan minta penyelesaian. Di beberapa lagu, efeknya berkali lipat. Bikin pengen nangis dan peluk semua orang yang datang di situ. Hahaha. Duh, lebay ya? Nggak sih. Karena memang itu yang benar-benar saya rasakan ketika menonton mereka dari jarak dekat. Coba kalau punya sayap, kayaknya saya sudah melayang-layang di langit sambil nonton konser ini. Luar biasa. Satu hal dalam bucket list akhirnya bisa saya coret.

Setelah dibuka dengan “Í Gær”, konser malam itu dilanjutkan dengan “Vaka” yang bikin gelisah. Lagu ketiga, “Glósóli”, pun makin megah berkat gesekan (iya, digesek) gitar Jónsi dan hentakan drum Orri yang penuh energi. Keren bangettttt! Dan selanjutnya, hampir tanpa jeda, mereka membawakan “Svefn-g-englar” dari album Ágætis byrjun, “Sæglópur” yang intronya enak banget, dan “Fljótavik”, salah satu lagu kesayangan saya. Uyeah! Selama konser, kami sudah nggak bisa komentar apa-apa lagi, cuma bisa bengong, takjub, dan sesekali teriak-teriak “Oh My God” atau “Oh, Tuhan!”. Benar-benar membius! Apalagi Jónsi benar-benar nggak ngomong sepatah kata pun di pergantian lagu. Mereka nggak ngasih kesempatan untuk sebentar saja ke menapak ke tanah, sebaliknya malah terus-terusan menghujani kami dengan lagu-lagu indah itu. Semacamnya mereka pengen bilang, “Nih, rasain! Let your vein and spine absorb it all.”


Lumayan enak posisi nontonnya. :D

KLB: Konser Luar Biasa!

Akhirnya, di tengah-tengah intro yang sangat lekat di telinga, si mas vokalis baru deh bilang terima kasih pada penonton yang sudah datang. Lalu mengalunlah “Hoppippolla” yang diiringi teriakan penonton pas Hoppippolla-nya doang dan seperti biasa, disambung dengan “Með “Blóðnasir. Pas dua lagu ini, grafis yang ditayangkan di backdrop-nya bagus banget! Apalagi pas bagian Jónsi ngajak penonton nyanyi. Super! Lanjut lagi, mereka bawakan “Olsen Olsen” yang diiringi suara oboe yang menenangkan. Makinlah kami membayangkan nonton mereka di Islandia sana, macamnya di Heima itu. Ketenangan pecah ketika “Festival” memasuki bagian refrain. Bising banget, tapi bising yang merdu! Halah. Setelah berasyik-masyuk di masa lalu, inilah saatnya mereka bawakan lagu-lagu dari album Valtari. Yang dibawakan pertama adalah “Varúð” yang diiringi gerimis manis. Setelah penutup yang heboh, Jonsi bilang terima kasih lagi sambil memperkenalkan lagu terakhir. Lagu ini adalah lagu terbaru mereka dari album yang akan datang, “Brennisteinn” dari Kveikur.

Meski Sigur Rós telah mencukupkan konser itu tapi penonton bilang belum cukup dong pastinya. Masih pengen pada orgasm dan eargasm kayaknya. Maka diberilah kami dua lagu lagi: “Ekki Múkk” yang disajikan lengkap dengan video klipnya dan Untitled 8 atau “Popplagið”. Dan di dua lagu terakhir itulah hujan turun. Bukan gerimis manis, tapi hujan lumayan deras  dan makin deras yang bikin semua penonton malah teriak dan tepuk tangan kegirangan. MAGICAL!

Meski kuyup tapi semua pulang dengan keadaan berbahagia. Ada beberapa lagu kesukaan yang nggak dibawakan sih, macamnya “All Alright”. Tapi udahlah, memang nggak bisa protes apapun karena konsernya menyenangkan sekali. Brass dan string section-nya juga bagus! Bikin pertunjukan makin megah, nyesss, dan ramai.

Jarang inget maksud atau arti lagunya sih, tapi tetap saja mampu bikin suara tercekat, pikiran ngalor-ngidul-sekaligus-kosong, mata merem melek biar air mata yang jatuh nggak terlalu banyak, deg-degan, menggigil karena keujanan, semuanya campur aduk. Sampai sekarang, masih suka girang dan merinding sendiri kalau ingat konser itu. Soalnya belum nonton Coldplay. Hahaha.

Konser November 2012 di Fort Canning Park itu pun berasa seperti di Indonesia, dengan cuaca yang adem dan yang datang pun mungkin tujuh puluh persennya adalah orang Indonesia. Hahaha. Jadi, kalau ada yang mau nonton hari ini di Tennis Indoor Senayan, silakan menikmati sepenuh hati!


Fotonya diambil dari sini. (1) Sebelum konser mulai. (2) Hujan di pengujung. (3) Takk!


Takk, Sigur Rós!

*Fotonya hanya pakai kamera ponsel yang seadanya karena kami nggak ada yang bawa kamera beneran. :p




Jakarta, le 10 Mai 2013

Wednesday, May 1, 2013

Koleksi KARE


Sekitar sebelas bulan lalu, saya mulai foto untuk rubrik home and living di tempat ini dan berkenalan dengan creative director-nya yang baik hati (in case, he eventually reads this post. :p). Dengan senang hati, ia mengantar saya berkeliling untuk melihat koleksi terbaru mereka dan memberi saran tentang barang-barang yang bisa difoto sesuai tema bulan itu. Dan usai pemotretan pertama itu, saya jadi pengunjung tetap tenant mereka yang berada di Senayan City lantai 6. Tak hanya sekali dalam sebulan, bahkan mungkin dua hingga tiga kali. Dan tidak pernah membeli apapun, hanya survei atau foto produk saja, meski ngiler setengah mati dengan beberapa barang mereka. Not to mention, one comfy beige couch worth Rp100 million. #pengsan

KARE, gerai pamer interior yang satu ini, adalah waralaba dari Jerman dan tersebar di banyak negara, seperti Australia, Mesir, Prancis, Austria, Cina, Rusia, dan lain-lain. Di Indonesia ini, KARE ada di Jakarta dan Surabaya dan toko pertamanya di Senayan City sudah berdiri sejak Juli 2011. Selain di Senayan City, mereka juga punya spot jualan di Lippo Kemang.

Boleh dibilang, KARE ini salah satu tempat favorit saya untuk keliling-keliling cari produk yang bisa difoto. Karena koleksi mereka cukup bervariasi dan penuh warna, seperti yang dicari oleh majalah tempat saya bekerja. Meski beberapa bulan terakhir juga ada koleksi yang didominasi warna putih dan perak tapi yang warna-warni juga tetap banyak. Bikin ceria! Halah. Selain warna-warna ceria, mereka juga tetap punya tone warna dan tema sendiri untuk masing-masing “ruangan” yang dipamerkan. Misalnya, bertema jeans, warna putih, hitam, rustic, atau terbuat dari material kulit. Tema yang diambil contohnya adalah tema Inggris, seperti yang penah saya perlihatkan gambarnya di sini. Buat ukuran Indonesia, padu padannya memang cukup berani sih. Oh ya, barang-barang yang dijual pun unik. Ada celengan berbentuk kamera Polaroid, lukisan retro, meja dengan banyak laci, dan rak bunga-bunga yang saya pengen banget! Hahaha. Tapi satu kekurangannya, harganya cukup mahal. Pricey! Yang paling murah adalah bebek karet warna kuning yang dijual Rp30.000,-. Hahaha. 

Suka sekali sofa dari bahan denim ini.


Motif peranakan yang meriah

Nah, kalau di Senayan City biasanya tercium wangi campuran jejahean dan bunga-bungaan, aroma tersebut akan makin tajam kalau masuk KARE. Buat saya, wanginya khas dan jadi identitas sendiri. Saya pernah berada di suatu tempat yang punya aroma seperti itu dan secara tak sadar, si otak ini langsung memetakan penataan tempat furnitur itu. Idih! 

Foto sama om penjaga KARE (foto oleh Yudi)

Jakarta, le 1 Mai 2013

Maafkan ya foto-fotonya begini amat. :p