Saturday, January 29, 2011
L' Appartemant #003: Pesan
L' Appartemant #002: Yang Tidak Seperti Biasa
Masih ada jeda waktu beberapa saat menjelang undangan makan malam yang diberikan oleh sang 1502. Dan sejak kutemukan setoples kue kering darinya di depan kamarku, aku masih saja bertanya-tanya, bagaimana ia? Adakah ia orang yang baik dan ramah? Atau ia akan mengundangku makan dan kemudian membunuhku, seperti psikopat di film-film yang kutonton? Ah, mana mungkin di apartemen seperti ini ada psikopat.
Setelah membersihkan diriku dengan air hangat yang disediakan apartemen ini, aku segera bersiap. Aku akan mencari apa yang layak dibawa untuk pertemuan nanti. Aku, sesungguhnya, tidak sabar untuk bertemunya, sang pemilik kamar 1502. Bagaimana ya suasana makan malam nanti? Apakah hanya aku yang diundang dan kita akan beradu gelas champagne dengan menyesap keasaman dari anggur yang telah difermentasikan ditemani lilin-lilin yang menyala romantis? Atau akan ada kegaduhan karena seisi apartemen ini diundang? Apapun, tak masalah. Aku inginkan teman baru di lingkungan yang baru ini.
“Yang penting, kamu bisa keluar dari comfort zone, membuat comfort zone baru, atau sekedar meluaskan comfort zone dari yang selama ini ada,” begitu ujar seorang pemateri di kampusku dahulu.
Kata-kata itu masih sering terngiang di telingaku hingga kini. Hingga lima tahun terlewat setelah aku mendengar kalimat itu pertama kalinya. Itulah yang kujadikan patokan selama ini. Aku selalu melangkah dan terus melangkah pergi kesana-kemari. Entah pula itu suatu bentuk eskapisme dari kenangan-kenangan yang tak ingin kukenang. Atau memang aku pembosan yang mudah kehilangan hati pada segala sesuatu. Tapi sudah bertahun-tahun ini aku belum kehilangan hati padanya.
Maka, makan malam di penghujung minggu ini, semoga akan menjadi hal pertama yang menyenangkan selepas aku memutuskan pindah ke apartemen ini dua minggu yang lalu. Dan pikiran-pikiran tidak penting atas apa yang terjadi malam lalu di kafe itu bisa terhempaskan secepat-cepatnya.
Setelah berkaca selama setengah jam dan berganti beberapa baju, aku putuskan untuk segera mencari buah tangan untuk prosesi makan malam itu. Sehelai syal melingkari leherku, cuaca Bandung sekarang sedang tidak mudah ditebak. Siang hari panas menggigit kulit hingga pedih, sedangkan malam hari dingin hingga ke tulang.
***
Secara refleks, aku melangkahkan kakiku ke café langgananku. Dan secara refleks pula, seperti dihipnotis, aku memesan es cokelat. Seperti biasa, seperti biasa ketika aku bertemu ia di sini. Seperti biasa, seperti biasa ketika aku bertukar pengalaman dengannya hingga lupa waktu. Seperti biasa. Yang kuyakin menjadi tidak lagi biasa setelah peristiwa lusa kemarin. Memikirkan hal itu, es cokelat yang biasanya manis, pahit, dan creamy, menjadi tidak berasa apapun. Es cokelat ini pun tidak seperti biasa.
Kutinggalkan es cokelat yang masih setengahnya itu begitu saja. Baru kali ini aku menyesal mengangsurkan uang dua puluh ribuan pada penjaga kasir karena es cokelat yang kupesan tadi. Pikiranku langsung sibuk mencari café mana yang juga menyediakan es cokelat ciamik selain café ini. Selain café yang biasa kudatangi dengan dia. Ah, mungkin penghuni 1502 tahu, mengingat ia bisa menemukan caastangel yang rasanya luar biasa.
***
Toko kue yang kudatangi ini adalah toko kue juara satu, versi ibuku. Sebelum ia berpindah ke kampung halamannya, ia sering mengajakku ke toko ini. Ketika aku sedang tidak ada di rumah, ibu akan pergi sendirian dan membeli beberapa kue untuk kukudap ketika aku datang nanti. Sekarang sudah tidak ada ibu, ia memutuskan menjual rumahnya di sini dan pindah ke kampung halamannya yang seperti musim kemarau sepanjang tahun.
Kupilih kue kesukaanku, kue lidah kucing. Ada-ada saja makanan yang dibuat orang Belanda ini, pikirku, tapi rasanya memang enak. Semoga aku tidak tergoda untuk menghabiskannya sendirian di kamar. Ini untuk perjamuan makan malam nanti. Ini untuk bakal calon teman-temanku, siapa tahu dengan mereka akan ada yang berubah. Yang tidak seperti biasa.
Beruntung sore ini belum hujan, aku menikmati berjalan di trotoar jalan ini. Salah satu trotoar yang berukuran lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini. Salah satu dari sedikit trotoar yang berukuran lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini, kukoreksi kalimatku.
Daaaaaarrrrr.. kue kesukaanku terhempas ke lantai trotoar. Remuk.
Dan juga aku. Ada yang menabrak kakiku hingga aku kehilangan keseimbangan. Tumbukkan yang cukup keras hingga sakitnya membuatku mengerang. Ini dia yang tidak seperti biasa. Baru kali ini aku ditabrak motor di trotoar yang lebar dan masih digunakan sesuai fungsinya di Bandung ini. Harus kukoreksi pula rupanya kalimatku tadi.
Masih beruntung orang yang menabrakku mau bertanggung jawab, mengantarkanku ke rumah sakit terdekat. Itupun setelah didesak oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Biarlah.
Harus kubeli lagi kue lidah kucing juara satu itu. Harus. Untuk menjadikan segalanya tidak seperti biasa. Aku pun harus segera sembuh agar bisa bertemu dengan penghuni 1502. Agar aku selanjutnya bisa mendapati yang tidak biasa itu. Atau pertemuan itu tidak akan terjadi untukku? Dokter, aku bergantung padamu sekarang.
Kalea Tyaga Bestari
Bandung, le 11 Juillet 2010.
Saturday, November 27, 2010
Egois!
Sampai kapan kamu akan terus egois?
Satu pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di telinga saya sejak beberapa waktu lalu. Dan berkutat terus saja di kepala saya hingga seperti menghantui hari-hari saya. Tidak, memang tidak ada siapapun yang bertanya seperti itu pada saya. Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Rupanya saya, si mahasiswa tingkat akhir yang tugas akhir-nya tidak kunjung berakhir ini, mulai merasa semua ini harus diakhiri. Singkat kata, saya merasa sudah waktunya saya LULUS. Hahaha. Kamana wae atuh karek ngarasa ayeuna? Tapi memang dimana kaitannya ‘lulus’ dan ‘egois’?
Entah dimana, entah benar atau tidak, pokoknya saya merasa egois dengan tidak segera lulus. Egois pada ibu saya, keluarga saya, lingkungan saya, teman-teman saya, dan lain-lainnya.
Saya tentu egois pada ibu saya karena beliau yang masih membiayai segala macam, tetek bengek, yang saya inginkan dan butuhkan. Dan karena saya belum segera lulus, pastilah beliau masih memikirkan hidup saya yang belum jelas akan bagaimana. Tentulah ia khawatir karena belum bisa memikirkan dan menabung untuk masa tuanya nanti. Tentulah ia khawatir masih harus membiayai ini-itu-ina-itu. Tentulah ia khawatir karena tugasnya menyekolahkan anaknya hingga lulus perguruan tinggi seperti belum purna betul. Tentulah ia khawatir karena anaknya belum bisa memberikan kebanggaan apapun untuk dirinya. Tentulah ia khawatir takut anaknya stress karena tugas akhir-nya tidak kunjung berakhir. Tentulah ia khawatir harus membiayai pengobatan anaknya yang sering kambuh sakitnya. Tentulah ia khawatir karena anaknya memilih bermain daripada mengerjakan skripsinya. Tentulah ia khawatir anaknya hanya bekerja untuk dirinya sendiri. Tentulah ia khawatir anaknya masih bertingkah egois. Tentulah ia khawatir. Dan selama ini, saya egois sekali tidak mengambil pusing atas kekhawatirannya yang (mungkin) mengkhawatirkan saya. Walaupun kekhawatirannya itu tidak pernah terucap.
Dan saya egois pula karena belum bisa membantu adik-adik saya yang masih sekolah, belum bisa berikan mereka tambahan uang jajan, belum bisa mengenalkan pada mereka hal-hal asyik dan unik di belantara dunia, belum bisa ajak mereka pelesiran kemana mereka mau. Belum bisa belikan bude-pakde-om-dan-tante barang satu lembar baju, padahal mereka sudah bantu ini-itu-ina-itu banyak sekali. Lalu saya egois karena belum mau kunjungi eyang tersayang yang masih sakit. Ah, memangnya saya ini egois selama ini. Hanya memikirkan diri sendiri. Hanya memikirkan kesenangan diri sendiri. Hanya ingin bermain dan terus bermain. Hanya bermalas-malasan.
Betapa jika saya lulus secepat-cepatnya, saya akan mengubah hidup beberapa orang, minimal orang-orang di sekitar saya. Betapa jika saya lulus secepat-cepatnya, saya mungkin bisa pergi kesana-kemari dan melakukan sedikit hal untuk lingkungan saya. Sedikit saja.
Dan lonceng di dalam kepala saya pun semakin keras berbunyi, menyadarkan untuk tidak larut dalam keegoisan yang semakin menjadi-jadi. Sudah waktunya saya lulus dan keluar dari cangkang ini, dari lingkungan ini, dari orang-orang ini.
Jadi kapan mau lulus?
-stuck bab 1-
Sunday, September 26, 2010
Padang Bulan
Buku telah menjadi teman saya selama bertahun-tahun. Walaupun tentunya saya belum membaca ratusan ribu buku seperti tokoh-tokoh di Bukuku Kakiku. Hehehe. Tapi memang karena buku, saya menjadi terbiasa membaca dan mengarungi tempat yang entah dimana adanya. Sayangnya, kebiasaan saya membaca buku kini agak terkikis. Blame on twitter, maybe. Hehehe.
Buku terakhir yang saya baca adalah seri pertama dari dwilogi Padang Bulan. Buku yang didesain unik ini adalah karya Andrea Hirata. Sebelumnya ia telah dikenal karena buku tetralogi Laskar Pelangi, karyanya, yang amat sangat meledak di pasaran. Sebenarnya, buku ini tidak tebal-tebal amat, berkisar 250 lembar. Tapi, oh tapi.. entah karena kemampuan membaca saya menurun atau apa, saya butuh waktu sekitar sepuluh hari untuk menamatkannya. L
Seperti yang dikatakan teman saya, buku ini memang tidak se-fenomenal Laskar Pelangi dan adik-adiknya. Tapi, entah kenapa saya suka pemilihan kata dan kalimat-kalimat yang digunakan oleh Hirata. Sangat Melayu dan, tentu saja, menggambarkan keadaan sosial masyarakat Melayu sebenar-benarnya. Dan satu hal juga yang tidak hilang dari serial-serial yang dibuat oleh Hirata, buku-bukunya selalu mengandung harapan, tentang pendidikan dan masa depan. Meski hampir semua tokohnya bernasib kurang baik, boleh dibilang miskin cekek. Tapi selalu ada harapan untuk bisa hidup lebih baik, misalnya dengan kursus Bahasa, pergi ke ibukota, kursus servis antena, atau bahkan sekedar menambah tinggi empat sentimeter.
Saya tidak akan berpanjang-panjang mereview buku pertama dari dwilogi Padang Bulan, karena memang tujuan awalnya bukan itu. Hehe. Saya hanya ingin mengutip bagian yang paling saya suka dari buku berjudul Padang Bulan ini.
Dikisahkan bahwa Ikal sedang sangat rindu dengan A Ling, pujaan hatinya sepanjang hidup berbelas tahun:
“Kupejamkan mata. Kuucapkan nama A Ling lima puluh kali. Kubuka Mata, kulihat sekeliling.
Lampu padam.
Malam diam.
Aku masih rindu. “ (hal. 239)
Cukup sekian dan terima kasih. Selamat malam senin. J
Saturday, September 11, 2010
Ijik Rodok Rompal!
Hey, siapa menteri atau pejabat Departemen Perhubungan atau Pekerjaan Umum yang pernah bilang sarana dan prasarana untuk mudik Lebaran 2010 telah siap-sesiap-siapnya? Sini Pak, Bu, saya bawa kau menyusuri Jalur Pantai Utara Jawa, mungkin mau tahu apa yang saya lalui ketika perjalanan mudik menemui Eyang dan saudara-saudara di kampung jauh.
Perjalanan mudik tahun ini, kemungkinan besar, adalah perjalanan mudik terlama yang pernah saya tempuh. Setidaknya selama dua-puluh tahunan saya pernah mudik. Bayangkan saja, jika perjalanan normal Bandung-Cepu bisa ditempuh dengan 13 jam saja. Maka kali ini, perjalanan Bandung ke daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu saya tempuh selama dua-puluh-delapan jam. OH EM JI.
Baiklah, mungkin kesalahan, selain ada pada Bunda Dorce, juga ada pada ibu saya dan saya yang memilih mudik di penghujung Ramadhan – dua hari sebelum Lebaran. Macet dimana-mana, ya risikolah. Tapi jika sampai 28 jam? Itu sudah gila namanyaaaaa. Sintiang.
Apa rupanya yang menjadikan perjalanan mudik itu menjadi begitu lama? Selain kealpaan internal yang telah saya sebutkan tadi, tentunya ada pula kealpaan eksternal. Dan itu adalaaaaahh.. infrastruktur yang tidak mumpuni untuk menanggung beban kendaraan yang begitu banyaknya. Banyak jalanan rusak: bergelombang, bolong-bolong, dan sedang diperbaiki.
Maka saya katakan, bohong besar jika petinggi-petinggi negara ini bilang jalur mudik, terutama Pantura, sudah laik guna. Oh, Pak, Bu.. bohong belakakah itu? Rupanya hanya naik pesawat saja kerjamu itu ya? Atau lebih baik menyalahkan kuantitas pemudik yang begitu banyak dan tumplek-tublek di jalanan itu dalam waktu yang bersamaan?
Perjalanan dari Bandung ke Majalengka saja, kemarin itu, butuh waktu dua belas jam. Macet di sana-sini, Pak, Bu. Jalur yang seharusnya bisa dua arah menjadi hanya satu arah karena kerusakan jalan dan penumpukan kendaraan. Maka itu, di Paseh itu, bis kami berhenti tiga jam. Tanpa maju satu centimeter pun, apalagi satu inch, tidak sama sekali. Malah sang supir bisa mematikan mesin dan berjalan-jalan dulu bertanya-tanya apa rupanya sumber kemacetannya?
Kemacetan itu berakhir pula, Haleluya, Alhamdulillah, ketika kami sampai di Cirebon. Tapi, tunggu dulu, di tol yang konon dimiliki keluarga Bakrie itu, macet pula. Oh, benar-benar jalan bebas hambatan. Brebes, Batang, Purwodadi, semuanya macet. Berjam-jam saja kami duduk diam di bis tanpa bisa melakukan apa-apa. Bisnya diam saja, tidak segera bergerak. Cuma penumpang-penumpang saja angkat pantat karena segera tepos dan penasaran apa pasal yang bikin bis berhenti.
Dan masalahnya rata-rata hampir sama. Jalanan-jalanan itu belum purna diperbaiki. Hingga bis-bis, mobil-mobil, motor-motor harus bersabar berjalan pelan-pelan untuk melaluinya. Dan kadang harus menunggu giliran karena bergantian dari arah yang sebaliknya. Mereka yang lewat situ, terpaksa menunggu, menghela nafas, dan menghentikan lelah demi bertemu sanak saudara yang entah jauh atau dekat. Padahal entah sudah berapa lama mereka menempuh perjalanan itu.
Jalanan itu bergelombang dan bolong-bolong. Seperti jalanan Bandung, yang tak habis kami bicarakan, yang tak bisa dilalui oleh sembarang kendaraan. Karena khawatir terjungkal atau, minimal, ban meletus. Oh, Bapak.. kemanakah waktu setahun yang kau bilang benar bisa digunakan memperbaiki jalur-jalur itu? Sepanjang tahun, sepanjang saya selalu lewat situ, selalu begitu saja. Tak juga baik, tak juga layak, apalagi indah. Sama sekali tidak. Jalur utama Pantai Utara, misalnya jalan baru di Alas Roban, itu juga ndak bagus-bagus amat kok , Pak. Ijik rodok rompal (baca: masih agak somplak).
Masalahnya Pak, Bu, buat saya yang kampunya di Cepu dan mudiknya naik bis, kami tidak bisa milih jalur, yang misalnya kata Bapak jalurnya atau jalannya sudah bagus. Masalahnya, bagi sebagian orang, jalanan itu, yang jelek-jelek, rompal, bergelombang, dan berbatu itu adalah satu-satunya jalan menuju kampung halaman.
Dan oh, kenapa nggak ada kereta langsung menuju Cepu dari Bandung, yang tanpa berhenti dan ganti kereta dulu di Semarang? #uuuuuuuu.
Eh, Pak, Bu, bukan dikorupsi kan itu uang perbaikan jalan? Pasti bukan. #optimis
Cepu, le 11 Septembre 2010.
Mengenang dua puluh delapan jam perjalanan Bandung – Cepu.