Sunday, September 4, 2011

Le Futur

Besok-besok ada masa depan. Aku akan sumringah menyambutnya. Pergi ke ibukota untuk melakui tetugas yang belum selesai. Lalu aku akan susun buku kuning dengan berat hati. Dan kusongsong toga dengan ringan. Lalu aku akan kembali ke ibukota, sambil menjelajahi kota-kota di Indonesia untuk kutulis dengan alur tutur. Oh ya, aku akan sejenak mengunjungi menara yang dibuat oleh Gustav Eiffel. Ia berdiri gagah, katanya. Sambil memamerkan perut gendut ini di Cannes. Semoga aku sempat mengunjungi Dalai Lama di Lhasa. Habis sudah, lalu aku akan kembali ke ibukota. Berpernik barang sedikit, sebentar saja. Lalu mengucapkan janji saja, entah apa, entah dengan siapa. Dan kembali lagi ke kota yang masih agak nyaman ini, Bandung. Lalu, pergi bersurvei ke Yogyakarta, atau Bali. Sedikit berinvestasi di sana. Buat sangkar agar bisa ditinggali. Hiduplah sederhana dengan rumah berlantai satu berkamar dua. Dengan ruang baca yang nyaman dan bergemericik air. Dengan sejuknya, aku akan merangkai kata di depan jendela yang menghadap ke taman kecil. Sesekali aku akan berkunjung ke pantai, tempat mengingat masa lalu, sendiri saja. Dan lalu aku akan berkunjung ke Kota Suci tempat Ibrahim pernah berpijak. Kembali lagi ke tanah air yang begitu indah dan bermasa tua bersama siapa yang mau aku di sampingnya. Sambil terus mendengar lelagu yang bisa didengar dan bertukar cerita dan berargumentasi hingga marah dan lalu tertawa bersama.
***

Tulisan yang sengaja ditulis dalam satu paragraf ini, mengenai keinginan tentang masa depan, sempat dibuat tahun 2009. Tentu ada beberapa poin yang berubah, seperti tetugas yang belum selesai dan buku kuning, kini sudah selesai. Dan secara garis besar, keinginan-keinginan sederhana yang ditulis dua tahun lalu itu masih sama hingga kini. Namun, mungkin jika dijembrengin lagi, bakal banyak sekali tambahannya. Hehehehe. Berkhayal dulu boleh, kan? :D

*Ada apalah saya dua hari ini membahas tentang masa depan? Ruwet.

Bandung, le 8 Juin 2009 et le 3 Septembre 2011

Friday, September 2, 2011

Nanti Bagaimana? Bagaimana Nanti?

Merencanakan masa depan, untuk saya yang bukan perencana yang baik, adalah hal yang nggilani susahnya. Terbayang memang ingin ini, ingin itu banyak sekali. Tapi seharusnya ada rencana bagaimana menggapai keinginan yang tidak satu dan setinggi bukit itu. Iyakah?

via imgfave

Eh, tapi apa betul harus direncanakan? Atau cukup sekedar tahu apa yang kita mau? Atau..? Atau..? Atau..?

Bandung, le 2 Septembre 2011

Pulang ke "Rumah"

Tepat di tengah Agustus, kami mengantri tiket kereta. Ibu dan saya membeli tiket kereta jurusan Solo, jalur yang sudah tidak pernah kami gunakan lagi sejak ada bis yang langsung menuju Cepu. Tapi kali ini, kami harus kembali merasakan berganti-ganti kendaraan untuk segera sampai ke tujuan kami, kampung halaman ibu saya. Malam itu, kami melakukan perjalanan mendadak karena ada berita menyentak disertai suasana hati yang terhentak.

Berita itu memang seperti sudah ditunggu, keadaan Mbah memang tidak membaik sejak setahun lalu. Tapi siapa yang mengira, kematian memang selalu datang mendadak, bukan? Sedetail apapun dipersiapkan, tapi tetap saja akan menjadi kejutan. Kejutan yang menyedihkan? Entahlah. Bagaimana bisa sedih jika orang yang meninggal telah siap, menjadi bahagia di alam sana, bahkan terbebas dari segala bebannya?

Perjalanan menyusuri sebagian jalur selatan Jawa itu memang menyesakkan, apalagi buat Ibu. Terakhir bertemu dengan ibunya adalah tahun lalu, beberapa minggu setelah Lebaran. Dan kini, di pertengahan Ramadhan di tahun berikutnya, ia harus mengunjungi rumah Mbah yang baru, tanpa bisa cium tangan dan pipi seperti di pertemuan biasanya. Namun, ketiadaan Mbah memunculkan keberadaan kakak-beradik yang lama tak kumpul komplit. Itu kabar baik. :)

Ketika saya mengunjungi kediamannya yang baru, saya berbisik pada Mbah, "Mbah, aku sudah wisuda." Dan entah apa yang Ibu bisikkan kepadanya. Yang pasti, ada yang aneh dari Lebaran kali ini yang tanpa kehadirannya.


Mbah, sugeng riyadin. Nyuwun pangapunten lahir lan batin. Mugi mengko saget rembug malih, nggih.. :)

*kutipan pembicaraan saya dan Mbah bisa dilihat di sini.


Bandung, le 2 Septembre 2011

Pelesir Naik Muria

Bulan Juli lalu, saya menyambangi Kepulauan Karimun Jawa bersama beberapa teman. Perjalanan yang cukup impulsif dan ngaco berat. Hahaha. Saya memutuskan ikut berlibur bersama mereka hanya setengah jam sebelum waktu kumpul di pool bis. Selanjutnya, liburan ini menjadi liburan yang juara satu buat saya. :D

Ada sedikit oleh-oleh dari sana, diambil dari kameranya Mas Budi dan Yoga. Saking impulsifnya, saya sampai lupa bawa kamera. Hehe.

Karjaw Rangers: (ki-ka) Benno, Meong, saya, Mas Budi, Yoga, dan Aji



The Greatest View


We're ready to mingle



Our private jacuzzi with magnificent scenery

Me and them

Too good to be true

Keling

Terdampar di Pulau Gosong

Banyak bebatuan seperti yang ada di Belitong. *padahal belum pernah ke Belitong* :p


Running back to Bandung

The Legendary Muria

Itu dia oleh-oleh fotonya. Nantikan cerita selengkapnya. Kalau saya tidak malas. Hehehe. Akibat perjalanan itu, sekarang saya dan teman-teman sangat ingin belajar diving, tapi mahal. Sekian.


Bandung, le 2 Septembre 2011

(baru) Sarjana (baru)

Genap dua bulan lalu, saya resmi menyandang gelar sarjana. S.Ikom, sarjana ilmu komunikasi, bukan sarjana ilmu komputer, seperti yang orang sering salah kira. Euforia terasa, terlebih saat melihat banyaknya dukungan dari teman dan orang-orang terdekat, melalui kedatangan mereka, ataupun sekedar mention di Twitter dan pesan singkat di telepon genggam. Kekhawatiran atas pertanyaan "Sudah lulus belum?" ketika lebaran nanti, hilang sudah.

Waktu itu, saya bungah sekali, walaupun tidak tahu gelar itu mau dipakai kapan.Yang penting, perjuangan enam tahun yang naik-turun, maju-mundur, senang-sedih, sibuk-lowong, dan berhasil-gagal itu berlalu sudah. Memang telat satu tahun dari perkiraan awal, hingga gelar cum-laude tak bisa didapat. Tapi ya sudahlah, tidak ada penyesalan atas itu. Hehe.

Dua bulan lalu itu, saya belum wisuda. Masih jumawa karena gelar yang baru nemplok dan berasa sudah menaklukan dunia.  Di hari-H wisuda, kegembiraan itu tentu terpancar jelas. Teman-teman datang, ucapan selamat dari sana-sini, tampil cantik, foto bersama, dan buket bunga dari teman-teman. Perfecto!


Gilang, saya, Annelis, dan Rosania


Rasa itu berakhir tiga minggu lalu, mungkin dua atau tiga hari setelah wisuda. Setelah itu, kekhawatiran menumpuk, banyak hal yang wara-wiri di otak dan rasa saya. Simpulan saya dan teman-teman adalah seseorang menjadi sangat labil ketika baru menyandang gelar sarjana. Hahaha. Maksudnya labil adalah  belum tahu pasti apa yang diinginkannya. Tidak semua orang, mungkin. Tapi itu terjadi pada banyak orang, saya salah satunya.

Pertanyaan ingin dan akan kerja dimana langsung menghantui. Idealisme yang masih tersisa mengingatkan untuk bekerja sesuai nilai-nilai ideal yang telah diajarkan dan saya anut. Yang seperti apa? Bias. Hahaha. Ingin jalan-jalan kesana-kemari, mengunjungi tempat-tempat apik di Indonesia, tapi belum punya uang dan rasanya sudah tidak pantas untuk minta uang lagi ke orang tua. Dan lain-lain, dan lain-lain. Belum lagi masalah pertemanan. Bukan, saya bukan berseteru dengan teman-teman saya. Tapi rasanya perpisahan dengan mereka semakin akan cepat terjadi. Setidaknya, kami tidak akan intens bertemu, bertukar kabar, dan bercerita ini-itu hingga lupa waktu. Ah.

Bagaimanapun, itulah siklus hidup manusia, kan? Tidak mungkin juga saya terus berada di kampus itu, gedung-gedung itu, koridor itu, kamar sewa, dan fase itu. The end is the beginning is the end, kalau kata Smashing Pumpkins.

Jadi, mau ngapain setelah ini? *die*

Bandung, le 2 Septembre 2011