Saturday, July 16, 2011

Berbohong/Kuat?

Dia telah berulang kali jatuh. Dari dekat kau akan bisa lihat lengannya lebam. Pun dengan kaki jenjangnya yang kecokelatan. Ia juga punya codet yang tak hilang. Kali lain, Ia meringis, jemarinya pedih bukan buatan. Kemarin, aku bertemu dengannya. Ia mengaduh, otot perutnya seperti kram. Bahkan untuk menarik nafas pun, ia perlu bersabar.

Lelukanya tak segera sembuh walaupun diobati dengan berbagai obat. Ia sudah coba oleskan krim-krim supaya hilang bekas-bekas luka itu. Ia, dengan telaten, mengompres lukanya dengan air dingin. Tapi, ia berjodoh dengan luka itu. Karena, luka itu rupanya terus ada. Terus menganga. Bertambah perih pada waktu-waktu tertentu.

Aku tau, ia punya luka lain, yang lebih tidak bisa sembuh. Tapi ia sembunyikan luka itu dengan baik, dengan senyum, dengan tawa, dan ia bohongi semua orang. Tapi aku bisa lihat itu, dia luka.

***

Friday, July 15, 2011

Pembuka Pagi

Tadi pagi, menjelang siang sih, saya beli brunch. Brunch-nya sarupaning lotek yang enak banget di dekat rumah. Kebetulan lagi ramai, jadi saya harus mengantri dan menunggu giliran dibuatkan lotek yang saya pesan untuk dibawa pulang. Pembeli sebelum saya adalah seorang perempuan, usia sekitar 30-an, dengan gaya berbusana yang pantas dan enak dilihat. Pembeli sebelum mbak tadi adalah seorang bapak, mungkin usianya sekitar 50-an menjelang 60.

Bapak ini memesan dengan porsi yang aneh. Saya sempat bingung dengan pesanannya, tapi setelah dipikir-pikir, mengapa saya harus bingung, toh bukan saya penjualnya. Krikkrik. Harga satu porsi lotek adalah Rp 6.500,00, tanpa lontong, dan Rp 8.000,00, dengan lontong. Bapak ini memesan satu porsi Rp 6.000,00 dan satu porsi Rp 7.000,00 yang dibagi dua. Jadi, dia akan mendapat tiga bungkus lotek.

"Pak, anu teu rada lada, karetna hijinya (Pak, yang rada pedas karetnya satu ya)," ujar teteh lotek.

"Muhun (iya)," ujar si bapak.

"Anu teu lada, karetna dua nya, Pak. (Yang tidak pedas, karetnya dua ya, Pak)," lanjut si teteh, yang disambut dengan anggukan si bapak.

Ketika si teteh mengangsurkan lotek ketiga pada rekannya untuk dibungkus, si bapak bilang, "Anu lada, teu kedah dikaretan we (Yang paling pedas tidak usah diberi karet saja)."

"Teu dikaretan mah murudul atuh, Pak (Kalau tidak diberi karet, nanti amburadul dong, Pak)," ia menjawab dengan tergelak.

Sukses, bapak itu sukses membuat teteh lotek dan rekan-rekannya tertawa terbahak-bahak. Bahkan hingga melayani pesanan saya, teteh itu masih membahasnya hingga saya pun tak kuasa menahan senyum. Sayangnya tidak kenal siapa-siapa, padahal inginnya ikut tertawa terbahak-bahak. Pagi saya lalu indah.


Bandung, le 15 Juillet 2011

Thursday, July 14, 2011

Ekonomi Kerbau Bingung Pancen Mbingungi

via (khatulistiwa.net)

“Mau apa lagi? Ini WC social. Terpaksa mendengarkan mulut usil itu biasa. Gara-gara buang air, suami bisa cemburu, kan sial ini namanya,” kata seorang wanita. ("Rasa Risi Risau Hilang Sama Sekali", halaman 48)

Ini adalah buku kelima dari Sindhunata yang saya baca, kalau tidak salah ingat. Setelah Anak Bajang Menggiring Angin, Air Kata-Kata, Burung-Burung di Bundaran HI, dan Waton Urip. Dari kelima buku dari Romo Sindhunata, yang paling saya suka tentu Waton Urip. Peringkat kedua ditempati oleh Anak Bajang Menggiring Angin dan buku ini, Ekonomi Kerbau Bingung. 

Seperti buku juga Burung-Burung di Bundaran HI, buku ini berisi kumpulan berita khas (feature) yang dibuat oleh Romo Sindhunata ketika ia masih menjadi wartawan Kompas. Beberapa ditulis berkolaborasi dengan wartawan lain. Buku ini diterbitkan pada 2006 silam, merupakan tipe buku yang sudah tidak ada di pasaran dan hanya bisa dijumpai di pameran-pameran yang diadakan oleh penerbitnya (baca: Penerbit Buku Kompas). Sampulnya yang tidak terlalu menarik, mungkin menjadikan buku ini dulu alpa dari penglihatan saya.

Meskipun diterbitkan lima tahun yang lalu, tapi kita tidak bisa menemukan cerita terkini di buku ini. Feature-feature yang terpilih untuk buku ini adalah feature berlatar 1980-an. Ketika Indonesia sedang merangkak membangun ekonominya. Ditulis dengan sudut pandang rakyat kecil yang sangat kecil. Beberapa kisah terasa terlalu pilu untuk terus dibaca. Namun di beberapa bagian, ada senyum tipis tersungging ketika membacanya. 

Di tengah suasana ekonomi yang berupaya moncer, Sindhunata memotret bagian-bagian yang tidak gemerlap, tapi gelap. Melalui 29 tulisan, kita diantarkan merasakan getir yang dirasakan oleh rakyat kecil yang berjuang menghadapi moderenisme, pembangunan, dan kapitalisme. Melalui buku ini pula kita bisa melihat betapa Indonesia yang sekarang adalah benar-benar warisan dari Indonesia yang dulu. Bahkan ketika reformasi belum bergaung. 

Meskipun berlangsung tiga puluh tahun yang lalu, rupanya cerita-cerita Sindhunata ini masih sangat relevan di saat sekarang. Melalui buku ini, kita tahu bahwa ketidakadilan pada Nenek Minah, yang dituding mencuri cocoa, adalah hanya satu dari beratus juta kasus serupa yang pernah terjadi. Bahwa jerat kemiskinan di Indonesia sudah begitu mengakar dan njelimet, sehingga seperti tidak mungkin untuk diurai dan diselesaikan.
Tidak ada yang berubah. Sama sekali. 

Ah, saya memang mudah larut dalam tulisan-tulisan yang getir, apalagi milik Sindhunata. Kata-katanya mengalir apik ketika menulis mengenai keadaan sosial. Mungkin latar belakang pendidikan filsafat dan teologi membuatnya mampu meramu fakta-fakta menjadi bahan pemikiran yang sederhana, namun lekat dan (mungkin) menyayat. 

“Makanya semuanya itu rezeki. Buka usaha yang gampang sekali pun tanpa rezeki ya bakal gagal. Maka kita harus mensyukuri rezeki kita, betapa pun rezeki  itu sedikit saja,“ kata Pak Jaelani. ("Pencak Silat, Politik, dan Kejujuran", halaman 123)

Bandung, le 14 Juillet 2011

Where To Go?

via (bass_nroll)

Ini adalah cara licik untuk mengisi blog, apalagi kalau sedang tidak ada ide dan mengetik sambil terkantuk-kantuk. Ini sepertinya lebih baik daripada membiarkan blog kosong dan tidak terisi. Jadi mari membuat list. Kali ini, list-nya seputar jalan-jalan ke luar negeri. Berapa negara yang akan masuk list ini ? Hanya Tuhan yang tahu. Karena dunia terlalu luas untuk dijelajahi dan si saya terlalu BM. 

Semoga saja di suatu waktu, saya bisa menjejakkan kaki dan bikin tulisan ‘Dyah was here’ di negara-negara itu. Hingga nanti di suatu masa, anak dan cucu saya akan mengunjungi negara-negara itu dan datang ke tempat dimana tulisan itu berada. Haha. Busuk sekali yah kedengarannya ? Lalu, bagaimana jika negara-negara itu tidak bisa dikunjungi ? Ah, ya apa mau dikata. Memang rupanya ke luar negeri itu tidak semudah membalik telapak tangan kan ? Ya tidak apapun kalau tidak bisa dikunjungi. Yang pasti harus ada beberapa negara yang didatangi, asal ada yang bisa dicoret dari daftar itu. Mungkin satu, dua, atau mungkin tiga. 

Kemana saja kaki ini ingin melangkah selustrum, sewindu, sedasawarsa, atau seabad lagi ?

Thailand, Kamboja, Jepang, Cina, Korea Selatan, India, Maladewa, Nepal, Mesir, Maroko, Kenya, Afrika Selatan, Seychelles, Madagaskar, Turki, Israel, Qatar, Austria, Italia, Yunani, Jerman, Swiss, Liechtenstein, Rusia, Perancis, Spanyol, Vatikan, Monako, Islandia, Belanda, Inggris, Kanada, Bahama, Brazil, Kolombia, Peru, Suriname, Trinidad dan Tobago, Fiji, Palau, Selandia Baru, Ceko, Uzbekistan, Ukraina, dan Uni Emirat Arab. 

Sedikit kan ? Sampai sekarang hanya segitu kok, ditambah beberapa negara berakhiran –istan. Beberapa negara dipilih karena obsesi terpendam akan negara tersebut yang tidak tahu kenapa, seperti Perancis, Jerman, dan Inggris. Sedangkan beberapa lainnya dipiliha karena ingin mengunjungi objek wisata tertentu. Sebagian lainnya karena penasaran saja, macam Liechtenstein dan Fiji. Beberapa lainnya diingini karena namanya bagus. Haha. Yeah, am a woman, indeed. Daftar ini masih akan bertambah seiring dengan membaiknya ingatan saya akan nama-nama negara yang ingin saya kunjungi. Oh iya, dan tentu saja harus ke Saudi Arabia untuk menyempurnakan ibadah.

Semoga bisa kita bersua di negara-negara itu ya. :D

 Bandung, le 14 Juillet 2011

*ps: mungkin daftar BM selanjutnya adalah tempat-tempat di Indonesia yang ingin saya kunjungi. FATAL!

Tuesday, July 12, 2011

Ih, Ngeri Kali!

Dua orang teman saya bercerita, mereka mengalami kejadian yang menyeramkan. Setidaknya menurut kami, saya dan mereka. mereka mengalami kejadian itu secara terpisah, walaupun sama-sama di kendaraan umum di belantara Jakarta. Yang satu mengalaminya ketika ia sedang menanti dengan cemas kapan Kopaja yang ditumpanginya akan segera beranjak sedangkan di luar matahari semakin terik. Dan satu yang lain mengalaminya di Metro Mini. Seingat saya malam belum terlalu tua ketika ia berkicau tentang kejadian itu. 

Kejadiannya dibalut dengan kemasan mengamen, padahal bisa dibilang itu meminta-minta. Meminta-minta yang dibalut dengan ancaman. Si pengamen, jika bisa dibilang begitu, awalnya bercerita ini-itu mengenai sulitny mencari uang di Jakarta dan betapa ia menginginkan belas kasihan dari orang-orang yang menumpang di kendaraan umum itu. Tak lama berselang, kedua pengamen di kedua bus kota itu sudah menyilet-nyilet lengannya. 

Yang di Kopaja berteriak-teriak bahwa silet itu tidak menyakiti tubuhnya sedikitpun. Ia memastikan dengan lantang bahwa ia telah kebal akan pisau tajam miliknya. Dan memang tidak ada apapun terjadi pada tubuhnya, ia tidak berdarah sedikitpun, ujar teman saya yang satu. Disertai pandangan tajam, ia menyodorkan plastik ke hadapan teman saya dan penumpang-penumpang lain yang melongo antara takjub dan takut. Dengan sindiran-sindiran tajam, ia mengharap plastik yang diangsurkannya penuh dengan gemerincing receh atau uang kumal yang berjejal. 

Yang di Metro Mini lain lagi. Di hadapan penumpang yang telah lelah bekerja seharian dan ditambah macet ala Jakarta, seorang lelaki tanggung menunjukkan atraksinya. Ia mengambil silet yang telah disiapkan sebelumnya dan menyayat-nyayat tubuhnya. Kebal ? Tidak. Yang satu ini malah berlumuran darah. Dengan baju yang kumal, mata yang sayu, makinlah ia tampak kacau. "Itu orang giting sih, gue rasa, " kicau teman saya itu sembari kaget berbaur mual.
***
Percaya, tidak percaya, harus percaya bahwa kejadian itu memang ada. Teman saya yang di Kopaja mengalaminya dua kali, lebih dari cukup untuk memastikan bahwa kejadian itu nyata dan bukan hanya fatamorgana karena suhu yang begitu tinggi. Perilaku-perilaku ajaib warga kelas bawah di Jakarta Raya itu bisa dibilang mengancam atau mengintimidasi orang lain. Mereka, seperti juga copet yang lihai, mencerabut sisa-sisa rasa aman yang dimiliki penumpang bis kota yang sudah lelah itu. Bagaimana jika pengamen itu tidak diberi uang dan lalu melakukan sesuatu kepada penumpang di bis kota itu dengan silet yang mereka miliki ? Ah, berlipat kali seramnya jika dibayangkan. Dan bagaimana pula jika anak kecil yang melihat "pertunjukkan" itu ? Gila nian. 

Ibukota memang lebih kejam dari ibu tiri, begitu kata pepatah. Dan rupanya itu pula yang coba dijelaskan oleh "pengamen-pengamen" itu. Mereka beri tahu pada para penumpang yang sedikit berpunya bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan selain hal itu untuk mendapatkan uang. Tidak ada jalan bagi mereka untuk menyambung hidup di Ibukota yang kejam karena mereka miskin dan tidak memiliki pendidikan yang layak. Jika tidak begitu, bagaimana mereka bisa mengisi perut yang keroncongan? Bisakah alasan-alasan demikian diterima oleh akal sehat? Sulit. Toh banyak juga yang melakukan kerja lain yang lebih layak walaupun dengan pendidikan yang seadanya. Walaupun kerja kasar, tapi yang penting tidak mengganggu orang lain. 

Pantas saja kalau banyak warga Jakarta memilih mencicil mobil dengan harga selangit atau motor yang murah meriah kalau mereka merasa tidak aman menumpang kendaraan umum. Mereka memilih berlelah-lelah dengan macet yang menghadang di depan mata, yang mereka ciptakan sendiri. Rasa aman dan nyaman sama sekali tidak mereka temukan di kendaraan umum yang entah bagaimana pengaturannya hingga sampai sebegitu bobroknya. 

Masalahnya, pilihan itu begitu terbatas bagi sebagian orang. Kendaraan tidak punya, tarif taksi mahal, Transjakarta tidak mencapai tempat tujuan mereka, teman yang ditebengi pun tidak ada, uang pas-pasan, mau jalan kaki tapi panasnya kebangetan, atau berbagai alasan lain. Maka mereka harus pasrah saja memandangi kejadian-kejadian seram seperti itu. Dan banyak berdoa supaya si "pengamen" tidak lebih nekat dan melakukan hal lain lebih dari itu. Kalau sudah begini, ungkapan bahwa kuasa datang dari pihak yang dominan sudah tidak berlaku lagi. Kuasa itu datang dari pihak yang lebih rendah tingkatnya secara struktural. 

Ajegile. Ingin sekali rasanya membawa Pak Presiden untuk melihat atraksi-atraksi ajaib dan menyeramkan di bis kota itu. Dan akan sangat menghibur ketika beliau bilang, "Saya prihatin!".

Bandung, le 12 Juillet 2011