Thursday, September 15, 2011

Kapan Nikah?

Saya hanya bisa senyum-senyum kecil kalau ditanya 'kapan nikah?' pas lebaran kemarin. Untungnya sih pertanyaan itu tidak sering datang karena pernikahan Om saya menjelang. Lagipula, sampai sekarang, saya masih belum terganggu dengan pertanyaan itu. Hehe. Ya wajar ajalah kalau ada yang nanya, mungkin mereka cuma kenal kita dari usia. :p

Thinking about it and asking meself about it, what's marriage to me?

Marriage is a gamble, let's be honest.- Yoko Ono


Perfectly agree with her! Hehe.

Cepu, le 8 Septembre 2011

Wednesday, September 7, 2011

Langsung, Umum, Bebas, Rahasia

Perjalanan pulang ke kampung halaman senin lalu adalah perjalanan yang unik, kalau tidak bisa disebut aneh. Seberapa aneh? Berikut hasil curi dengar saya atas percakapan-percakapan dua orang perempuan, kira-kira umurnya sama atau lebih tua satu atau dua tahun di atas saya. Beberapa percakapan adalah percakapan melalui telepon genggam. Oh iya, nama-nama dalam percakapan itu sudah dimodifikasi ya, takut ada yang merasa. Hahaha.

Mungkin nggak penting sih ini rekaman percakapannya. Tapi entah kenapa saya ingin menulis saja. Eksploitasi atas mereka? Mungkin. Tapi kan sebenarnya tidak bermaksud demikian. Justru sebenarnya saya senang ketika mendengar percakapan itu. Bahwa masih ada orang yang lugas, blak-blakan, dan jujur (dalam beberapa hal) atas perasaan dan tingkah laku mereka. Mengenai pekerjaan mereka? Keep asking. 

Perempuan 1 (P1): … Nggak papa A, lagi pengen jauh aja dari Bandung. Tapi nanti juga balik lagi kok.
Laki-laki 1 (L1): ...
P1: Ya ditahan dulu atuh kangennya. Minggu depan, kalau nggak tanggal 12 atau 13, Mela pulang ke       Bandung lagi kok.
L1: …
P1: Nggak tau, kan makanya ini mau dicoba dulu. Kemarin mah ngobrol sama supervisornya di telepon, dia baik banget. Berangkatnya aja dibayarin tiketnya. Kalau betah, lanjut. Kalau nggak, ya pulang aja.
L1: …
P1: Aa masih suka ke sana? Sekarang mah di ABC sama Banceuy teh susah banget. Nggak kayak dulu lagi. Wakapolseknya ganti soalnya. Jadi pada di tempat-tempat aja langsung sekarang mah. Ya di losmen-losmen gitu.
L1: …
P1: Aa, doain Mela ya? Ameh loba nu nyaah ka Mela. Da Mela mah niatnya juga bener sekarang mah. Nggak kayak waktu di Bandung.

Percakapan lain:

P1: Eh, ari salaki maneh nu baheula kumaha? Nu BB (bau badan) tea? Si Barat-nya?
P2: Hahaha. Oh, si eta. Nggeus kamanalah. Si eta teh butut, tapi duitna gepokan siah, Mel!
P1: Ari Mio hejo nu di imah ti si eta?
P2: Heueuh. Jadi si eta teh bogoh ka aing. Tapi da ti awal ge, aing mah teu bogoh. Nggeus diniatan rek menta duit hungkul. Si eta janji rek mere urang duit. Nya nggeus we. Nepi ka jual mobil si eta teh rek mere duit ka urang.
P1: Alah naha? Ceunah duitna loba?
P2: Heueuh sih. Tapi teh perusahaanna dicokot ku lanceukna. Pamajikanna ngajieun hutang loba pisan, ratusan juta. Jadi bangkrut jigana mah. Mere ka urang ge janjina 10 juta, terus kamari karek 8 juta. Tapi akhirna dibere sih dua juta deui. Urang ngomong we nggeus kapake keur indung urang gering.
P1: Si anjing. Maneh teh penipu euy. Sugan teh nggeus henteu. Hahaha. Maneh nu nyieun sorangan eta caritana.
P2: Heueuh atuh. Si Pina ngabaran urang, ceunah si Barat rek ngajakan ketemuan. Ih urang mah embung. Sieun dipenta deui duitna.

Percakapan lain:
P1: Matakna tuh maneh insap.
P2: Sia anjing.

Percakapan lain lagi:
P1: Ari Si Pina masih keneh jeung si Yanto? Nggeus mah hideung, cungkring, naon nu dideleu sih?
P2: Heueuh, urang ge nggeus ngomong ka si eta. Ceunah mah nggeus bogoh. Matakna si eta mah enya wae e*ean di mobil ge. Sabaraha kali diteror ku pamajikanna, masih keneh we.
P1: Anjing, di mobil? Bener bogoh euy.
P2: Heueuh, nggeus mah teu dibere nanaon. Tipi nu si pina, kabeh we pokona nu Si Pina. 

Percakapan selanjutnya:
P1 (berbicara melalui telepon): Nggak papa kok, Om! Aku malah senang ada yang nemenin ngobrol.
L2: ...
P1: Makanya waktu itu aku ajak Om ketemuan. Aku kira Om udah nggak mau ketemu sama aku lagi. Ya mungkin sebel, jijik, atau nggak taulah.

Dilanjut dengan:
P2: Saha deui eta?
P1: Eta si Om. Rek ngapangmeulikeun urang tanah. Bogoh urang euy. 

Percakapan-percakapan itu asli didengar oleh saya dan ibu saya. Menguping, antara ya dan tidak sih. Karena pembicaraan-pembicaraan itu seperti sengaja dipublikasikan, dilakukan dengan suara yang keras. Bahkan mungkin mengganggu dengan volume suara mereka tidak cocok diaplikasikan di bus malam. Percakapan yang begitu lugas itu membuat kadang membuat saya terkikik geli, kaget dengan bahasa-bahasa yang mereka gunakan, bertanya-tanya atas apa yang sedang obrolkan, dan tersenyum sesekali ketika mereka menyebut kata "bogoh" (cinta). Awww.

Hanya beberapa percakapan yang saya kutip, karena itu yang masih saya ingat agak jelas. Percakapan itu mungkin hanya sebagian kecil dari percakapan mereka yang sekitar 12 jam ada di bangku belakang saya selama perjalanan Bandung-Cepu.

Cepu, le 7 Septembre 2011

blut ist dicker als wasser


Perihal keluarga, memangnya keluarga siapa yang sempurna? 

Di umur yang segini, mungkin sudah saatnya mikirin tentang keluarga. Bukan tentang berkeluarga, tapi tentang keluarga. Bukan tentang memiliki keluarga, tapi tentang keluarga. Di umur yang segini, pasti sudah tahu-menahu mengenai masalah keluarga, ditanyai pendapatnya, dapat tekanan dari keluarga, pokoknya segala macam tentang keluarga. Di umur yang segini, pasti sudah menimbang-nimbang tentang berkeluarga, mau keluarga yang seperti apa kelak. 

Kadang-kadang, mau nggak mau, suka tidak suka, pasti kepikiran. Dan pengalaman-pengalaman atau cerita-cerita tentang keluarga, yang jauh maupun yang dekat, pasti memengaruhi pendapat, pandangan, atau cita-cita ideal kita. 

Tentang keluarga inti, keluarga saya sudah kurang lengkap sejak saya masih sekolah dasar. Kami hanya berdua, saya dan ibu saya. Salah satu masalah saya dalam keluarga adalah karena saya kekurangan sumber masalah (baca: saudara kandung). Dari dulu, karena hanya berdua dengan ibu saya, saya sudah biasa mendengar masalah-masalah keluarga. Dan saya harus bersyukur, bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar yang mendera keluarga kami. Alhamduuuuuuuuuuuu.. lillah. 

Hubungan kami dekat. Saya cerita pada Ibu. Ibu cerita pada saya. Hampir tentang semuanya. Tapi di suatu titik, ada saja yang menjadi masalah. Memang seperti itu layaknya. Hubungan antara ibu dan anak perempuannya memang tidak pernah mulus kan? Masalah baju saja, bila mood keduanya ada yang sedang fragile, pasti bisa menjadi masalah besar. Tapi ya ujung-ujungnya baikan lagi. Memang mau ngapain lagi. Rumah sepi dong kalau kelamaan diam-diaman. Karena cuma berdua. Not to mention ada beberapa orang yang tinggal di satu lantai, tapi tidak sedarah. 

Selain keluarga inti, tentu masih ada keluarga-keluarga lainnya di sekitar saya. Keluarga ibu saya, keluarga almarhum ayah saya, keluarga bude saya, keluarga tante saya, keluarga om saya, keluarga sepupu saya, keluarga teman saya, keluarga orang yang saya kenal, dan masih banyak keluarga yang lain-lain. Semuanya, pasti punya masalah. Dari yang kecil, sedang, besar, hingga besar sekali. Dari yang sederhana, menengah, hingga rumit setengah mampus kayak sinetron yang nggak kelar-kelar. 

Saya pernah ada di suatu titik yang membuat saya marah besar karena keluarga dan menimbang-nimbang untuk lepas ikatan dari satu bagian keluarga saya. Setelah dipikir-pikir dan banyak sharing dengan teman dan, tentu, Ibu saya, saya jadi tambah mikir. Memangnya mau pilih keluarga yang seperti apa, memang bisa minta, memang bisa diwujudkan begitu saja? Memangnya bisa lepas ikatan begitu? Bagaimana pun blut ist dicker als wasser kan? Serenggang-renggangnya hubungan keluarga, tapi tetap saja namanya keluarga. Mau semarah apapun pada mereka, tetap saja saya ada butuhnya dengan mereka, setidaknya hingga beberapa waktu nanti. Ah, mau bagaimana? Hadapi saja karena memang harus dihadapi. Sulit dan memang sulit. 

Keluarga lain, yang saya pikir seru pun, pasti tidak lepas dari masalah. Kalau dalam Bahasa Srimulat, keluarga yang terbebas dari masalah adah hil yang mustahal. Nihil. Dicari sampai ke penjuru dunia pun nggak mungkin ketemu. Mau jadi keluarga Kerajaan Inggris yang popular itu? Masalah makin banyak. Mau jadi anaknya Mimi dan Pipi yang terlihat mesra? Terbukti ternyata bermasalah hingga cerai. Mau jadi keluarga Nixau? Tetep aja bermasalah karena sebuah botol. Atau mau jadi keluarga Paris Hilton? Masalah semakin segudang. Mau jadi keluarga Pak Harto yang kaya melintir tujuh turunan? Ah, tapi katanya hasil korupsi. 

Ah sudahlah. Tak ada batas jika kau terus cari. Jangan terus-terusan dicerca. Bukan, bukan karena mereka yang paling benar, paling mengerti kita, atau paling baik sedunia raya. Kritik memang tetap perlu. Tapi, pada akhirnya, mungkin cuma mereka yang bisa saya andalkan. 

Karena tetap harus bersyukur setidaknya punya keluarga. Kalau ada yang jahat, bersyukur saja karena ada yang tidak jahat. Kalau ada yang tidak baik, bersyukur saja karena ada yang baik. Kalau ada yang tidak perhatian, bersyukur saja karena ada yang perhatian. Kalau ada yang pelit, bersyukur saja karena ada yang tidak pelit. Kalau ada yang jelek, bersyukur saja karena ada yang tidak jelek. Kalau ada yang sering marah, bersyukur saja karena ada yang jarang marah. Kalau ada yang tidak suportif, bersyukur saja karena ada yang suportif. Kalau ada yang mengesalkan, bersyukur saja karena ada yang tidak mengesalkan. 

Lalu bagaimana keluarga inti yang akan saya bangun nanti ya? Selamat datang masalah. Rumit ataupun sederhana, ya bagaimana nantilah. (belum) habis perkara.

Family can annoy you. Smother you. Suffocate you until you feel like dying. But I’ll take it anytime. Death by love can’t be that bad. (@indraherlambang, 11 September 2010)

Cepu, le 7 Septembre 2011

Kicau Kacau Galau

Sudah baca “Kicau Kacau” oleh Indra Herlambang? Saya sudah. Baru selesai dua detik lalu. 

Buku itu adalah kumpulan tulisan Indra Herlambang yang terpencar di sana-sini. Di buku ini, kita bisa menelusuri bagaimana mulanya Indra, yang terkenal sebagai host, bisa menjadi penulis yang handal. Ini pendapat pribadi, karena saya suka tulisan-tulisannya. Haha. 

Tulisan-tulisan yang sempat dimuat di tiga majalah – Free Magazine, U Magazine, dan ME Asia- itu dikaitkan dengan kicauannya di twitter. Dan mau bilang apalagi, saya suka twit-twitnya. Witty. Lagi-lagi ini penilaian pribadi. Haha. Sayangnya Indra seperti menghilang dari dunia per-twitter-an sejak sebulan silam. 

Ketika belum selesai saya membaca buku ini, saya sudah tahu bahwa saya suka buku ini, selain karena gaya menulisnya yang lugas dan tidak terlalu ‘tinggi’. Ya, memang kadang otak saya yang sejumput ini suka idiot kalo disuruh mencerna bacaan-bacaan dengan bahasa yang njelimet dan bikin otak berasap karena bolak-balik baca satu paragraf. 

Di buku ini, Indra mengeksploitasi pengalaman-pengalamannya dan menunjukkan berbagai sisi dirinya, tidak selalu sebagai orang yang high profile. Dia menjadi human, dengan menunjukkan bahwa dia memiliki kehidupan yang normal: keluarga yang sangat menyayanginya, teman-teman yang mendampinginya, hantu-hantu yang ada di sekitarnya, kemacetan Jakarta, dan bahkan museum di Taman Mini Indonesia Indah. 

Dengan tutur kata yang santai dan kadang diselingin humor, Indra bisa membawa kita menyelami apa yang ia rasakan. Bahkan mengajak kita untuk mendeteksi dan mengingatkan akan pengalaman kita masing-masing. Misalnya di tulisan “Sembilan Ratus Enam Belas Ribu Seratus Lima Puluh Langkah Kaki”. Karena hey, saya juga pernah melakukan hal itu. Kemana-kemana selama sehari dan berhari-hari lainnya, saya menghitung langkah kaki saya ketika berjalan kemanapun. Haaaks. Atau seberapa sering saya menelepon Ibu ketika lewat tengah malam, hanya untuk dibukakan pintu depan yang terkunci karena saya pulang terlalu larut. Atau bahkan tentang kesendirian. Atau bagaimana kita mengumpat karena politisi-politisi yang hobinya melawak. Indra tidak segan untuk menertawakan dirinya sendiri, tanpa harus terlalu merendahkan diri. Dan dengan pengalaman, pendapat, dan daya analisisnya yang nggak cemen, Indra bisa membuktikan bahwa indera-inderanya dipergunakan dengan baik dan otaknya tidak ‘kosong’.  Kalau memang dia butuh pembuktian itu ya. 

Bagian mana yang paling bikin saya ‘terhanyut’? Tentu tulisan-tulisan tentang pertemanan dan keluarga. *die* Benar sih kalau buku ini disebut Curahan Hati Penulis Galau. Karena saya bisa merasakan aura galaunya. Halah. Eh, by the way, galau kan tidak melulu seputar masalah percintaan kan? Karena menurut KBBI, galau itu  sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Cusss...

Oh satu hal yang saya kurang suka dari tulisan-tulisan Indra Herlambang: kadang terlalu cepat usai. Hehe. Tapi satu buku “Kicau Kacau” yang 332 halaman ini, lumayanlah nggak cepet-cepet banget.
Kalau semua hal keliatan buruk, jangan-jangan yang salah matanya. (Twitter: @indraherlambang, 18 Oktober 2010)

Cepu, le 6 Septembre 2011

Sunday, September 4, 2011

Tisu Gulung vs Sebotol Minuman


Pernah nggak ya saya menyela antrian? Pertanyaan itu terus ada di otak saya sejak tadi siang.

Sebelum pertanyaan itu berputar-putar bikin penasaran, saya beli sebotol minuman dingin di Indomaret dekat rumah. Hanya sebotol. Lalu saya mengantri untuk membayar, kebetulan di depan saya ada seorang laki-laki yang masih melakukan transaksi dengan mbak kasir. Sambil melayani laki-laki itu, mbak kasir itu memandang ke arah saya dan melihat apa yang saya beli. Oke.

Kira-kira dua detik sebelum giliran saya membayar, ada seorang ibu yang membeli satu gulung tisu dan menyela antrian. Mbak kasir lalu melayani si ibu terlebih dahulu daripada saya. D'oh sekali deh kejadian itu. Setelah si ibu selesai melakukan transaksi dan tiba giliran saya, saya lalu bilang sama mbak yang sepertinya masih baru di cabang ini, "Mbak, tadi saya duluah lho yang ngantri."

"Oh ya? Maaf nggak lihat," jawab mbak itu. Dan saya tetiba ingin ngobrak-abrik Indomaret itu dan membawa pulang semua barang yang ada di sana. *mental gratisan. haha*

Seharusnya saya memang bilang pada ibu itu untuk tidak menyela antrian. Tapi saya pikir, mbak kasir itu sudah melihat saya lebih dulu ada di situ daripada ibu bekerudung ungu dengan tisu di tangannya. Saya pikir, walaupun ibu itu menyela antrian saya, mbak kasir akan dengan bijak bilang, "Maaf, Bu, tolong mengantri." Dan mempersilakan saya membayar minuman saya terlebih dahulu. Memang kita tidak bisa mengandalkan orang lain ya?

Tapi pikiran saya salah. Jadilah tadi siang saya berpikir, pernahkah saya menyela antrian orang lain? Karena jika pernah, saya pasti sudah dikutuk karena disela ketika mengantri itu rasanya tidak enak, penonton! Kesal. Dongkol. Dan ingin membawa pulang semua barang di toko itu. *tetep* 

Seperti kata Bang Napi, kejahatan itu terjadi juga karena ada kesempatan. Nah, kali ini, mbak kasir memberi kesempatan pada ibu berkerudung ungu untuk menyela antrian saya. Begitukah, Mbak? Hah? Hah? Hah? #drama

Dari pengalaman itu, saya semakin sadar kalau antrian itu, misalnya di Indonesia, kadang-kadang tidak berpengaruh. Masih ingat dengan kisruh penjualan tiket pertandingan bola kan? Makanya Gerakan Disiplin Nasional (GDN) hanya marak beberapa tahun saja. Itupun tidak terimplementasi dengan baik. Buktinya saya masih suka-suka menyeberang tanpa jembatan penyeberangan. Hehe. kejadian tadi siang itu karma mungkin, ya?

Eh, tapi saya jadi penasaran ingin coba menyela antrian. *dilempar tisu gulung*

Bandung, le 4 Septembre 2011