Saturday, June 19, 2010

Till Drop!

Last week, I got a menstruation. Oh well, baiklah, bisa diperhalus sebagai tamu bulanan. Beberapa hari sebelum itu, saya rasakan emosi saya naik turun. Atau tidak naik, tapi hanya turun dan terus menurun. Saya kira itu adalah masalah skripsi yang tak kunjung usai, soalnya dikerjakan juga belum. Hehe. Maka sampai di rumah, saya masuk kamar, matikan lampu, dan bikin playlist lagu-lagu mellow. Playlistnya saja saya beri judul “Till Drop”. Isinya lagu-lagu Sigur Ros atau Tika. Hehe.

Semua hal yang buruk saya pikirkan. Tentang orang itu. Tentang pertemanan. Tentang ini dan tentang itu. Beberapa hari itu, saya adalah orang yang paling beraura negatif di seluruh dunia raya. Di kampus, saya menjadi pendiam, bersikap sinis pada beberapa orang, berargumen, dan hal lainnya.

Beberapa hari setelah itu, bertamulah ia si tamu bulanan perempuan. Tidak seperti biasanya, kali ini diiringi sakit perut menyiksa. Satu hal yang jarang-jarang terjadi pada saya. Ditambah Leno yang beberapa kali mati secara tiba-tiba, tidak bisa ikut berkumpul dengan teman-teman, dan tidak punya uang untuk membeli hal-hal yang saya inginkan, bikin saya merengut kayak marmut. Pokoknya, beberapa hari itu, anggap saja saya bukan temen kalian. You’ll be sorry if you near me, that time.

Ketika saya menjadi orang yang seperti itu, maka saya berdiam saja di rumah. Meminimalisasi kegiatan sosial saja. Saya sebenarnya tidak mau mengakuinya, tapi itulah monster yang mengiringi kedatangan tamu bagi wanita per bulannya. Ia si PMS.

Nah, itulah hal bodoh yang tidak pernah saya sadari. Saya selalu saja terlambat menyadari bahwa si PMS sedang menyerang. Saya tidak suka orang yang sedang PMS, apalagi jika mereka mengambinghitamkan si sindrom itu ketika mereka marah-marah. Uggh, big no no. Tapi, oh hell, saya juga mengalaminya. Saya sebenarnya yakin PMS itu bisa dilawan dengan kekuatan pikiran dan kesabaran.

Bagaimana bisa saya tidak menyadari kedatangan PMS? Entah bagaimana. Hahaha. Saya selalu menyadarinya sebagai mood saya yang sedang buruk. Bilang saja jika ‘id’ saya sedang keluar. Haha. Maksudnya, saya menganggap hal buruk yang sedang ada pada saya adalah hanya sebagai ungkapan kekesalan dan keterbatasan diri yang sedang hadir pada suatu waktu tertentu. Maka itu, saya menarik diri. You can call me as an unsocial, in time like that. Itu terjadi pula kan pada kamu, ketika kamu benar-benar ingin sendiri dan tidak ingin bertemu siapapun, padahal belum masanya PMS. Seperti itulah. Dan memang saya mengalaminya di waktu-waktu tertentu ketika pun saya tidak sedang menstruasi atau PMS. Misalnya saja, ketika mentok ketika mengerjakan skripsi, semuanya jadi terlihat salah kan? (curhat mulu).

****


So, what is PMS? Menurut Om Wiki, PMS (Pre Menstrual Syndrome) adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi terkait dengan siklus menstruasi wanita. Yang bisa saya syukuri dari ini adalah, bahwa saya masih wanita. Hahaha.

Gejala tersebut terjadi menjelang siklus menstruasi wanita. Bisa seminggu sebelumnya atau bahkan dua minggu sebelum si wanita mendapatkan tamu tersebut. Bisa dibayangkan betapa menyiksanya itu pada wanita. Beberapa orang yang saya kenal menjadi sangat foodie ketika siklus ini datang. Segala makanan dilahap, seperti tidak kenyang-kenyang. Ada juga mereka yang benar-benar menjadi monster, senggol dikit bacok. Nggak bangetlah pokoknya. Mereka menjadi musuh komunitas jika sedang begini. BEWARE!

Menurut Om Wiki lagi, penyebab munculnya sindrom ini memang belum jelas. Beberapa teori menyebutkan antara lain karena faktor hormonal yakni ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Teori lain bilang, karena hormon estrogen yang berlebihan. Para peneliti melaporkan, salah satu kemungkinan yang kini sedang diselidiki adalah adanya perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor dan sistem pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon seks dalam sel. Kemungkinan lain, itu berhubungan dengan gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau fungsi serotonin yang dialami penderita.

Ada hal-hal yang memperberat sindrom pramenstruasi pada seseorang, misalnya saja stress. Nah, jadi mungkin bulan ini, I got my worst PMS ever, ya gara-gara stress itu. Stress belum skripsi. (Yes, skripsi bisa disalah-salahin. :p) Hal lain yang juga mempengaruhi PMS adalah konsumsi makanan dan minuman, kegiatan, dan tentu saja usia. Bisa jadi ketika usia kita bertambah nanti, PMS yang kita rasakan semakin parah.

Seperti juga kepribadian perempuan, laki-laki, dan transgender, PMS memiliki beberapa tipe berdasarkan gejalanya. Menurut Om Wiki yang hampir serba tahu, beberapa tipe PMS adalah:

  • PMS tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat haid. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron: hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi beberapa peneliti mengatakan, pada penderita PMS bisa jadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium. Penderita PMS A sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan berserat dan mengurangi atau membatasi minum kopi.
  • PMS tipe H (hyperhydration) memiliki gejala pembengkakan, perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita. Untuk mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum sehari-hari.
  • PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengkonsumsi makanan yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan oleh stres, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6), atau kurangnya magnesium.
  • PMS tipe D(depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3% dari selururh tipe PMS benar-benar murni tipe D. PMS tipe D murni disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, di mana hormon progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon estrogennya. Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang terjadi bersamaan dengan PMS tipe A.

Oiya, kalau kram perut yang mengiringi menstruasi, tidak termasuk dalam PMS. Walaupun suka nyempil pas kita PMS, kram perut (Dismenorea) ini, Alhamdulillah-nya, cuma muncul sehari atau dua hari menjelang atau pas mens datang. Jadi dia akan segera hilang setelah si darah-darah kotor itu keluar dari tubuh kita. Sedangkan PMS, kadang-kadang dia masih aja ngikut kita kemana-kemana bahkan setelah si mens-nya datang. Mungkin bisa kita bilang, PMS juga sama dengan Pas Menstrual Syndrome. Hahaha. :p

Perempuan selalu punya alasan untuk kemarahan-kekesalan-kemanjaan-dan-kemenyebalkanannya. Menurut literatur yang saya baca, ada juga PMS (post menstrual syndrome). Haha. Bingung kan lo? Nah, berhubung saya lupa pernah baca dimana, maka nanti aja dibahasnya, pas udah nemu lagi literaturnya. Maka, bersiaplah atas emosi yang turun naik atau gejala-gejala lainnya selama sebulan penuh. :p :p

Tapi, semoga sih nggak yaaaaaaaa..

Bandung, le 19 Juin 2010


*sumber: id.wikipedia.org

gambar: http://janninglai.blogspot.com/

Saturday, June 12, 2010

Please deh, Jangan Lebay!

Oke, jadi begini ceritanya, Indonesia sedang dihebohkan dengan video seks yang ‘pemeran utama’-nya artis. Tokoh di video pertama, diduga, yang lelaki adalah seorang vokalis band ternama. Dan yang perempuan, diduga, adalah bintang iklan sabun-presenter-duta beberapa produk-duta PBB-aktris-cum penyanyi. Selang beberapa hari, video kedua muncul. Lelakinya diduga masih lelaki yang sama. Namun, yang perempuan berganti. Diduga si perempuan adalah presenter acara gosip ternama.

Seminggu setelah video pertama menyebar, melalui situs-situs internet, media massa di Indonesia heboh. Terutama televisi dan media online. Hebohnya keterlaluan, berlebihan, bagi saya. Mulai dari infotainment, yang kerjanya memang membahas artis-artis, hingga program berita, yang biasanya membahas berita yang tidak demikian. Asalnya saya tidak ingin turut berkomentar, tapi pemberitaan-pemberitaan itu minta banget dikomentarin. Hahaha.

Semua orang juga berkomentar. Mulai dari sesama artis, hingga anggota DPR yang tidak bersinggungan sama sekali. Mulai dari menteri, hingga psikolog dan ginekolog. Mulai dari masyarakat, hingga ahli yang mengaku bisa mengetahui validitas video tersebut. Siapa mereka hingga berhak berpendapat macam-macam? Beberapa daerah bahkan memboikot ketiga artis tersebut.

Baiklah, kalau boleh sedikit disimpulkan, orang Endonesa memang seringkali bertindak (agak) berlebihan. Oh iya, dan mungkin berkaitan dengan ciri masyarakat kolektif, maka masyarakat Endonesa terlalu ingin ikut campur urusan orang. Saya nih salah satu contoh spesiesnya.

***

Sejak seminggu lalu, sejak sehari setelah video pertama beredar, hingga kemarin, Jumat (11/6), saya menghitung ada 105 berita di Kompas.com, salah satu portal berita online di Indonesia. Untungnya saya tidak berniat menghitung berita di situs-situs berita lain. Bayangkan saja, di detik.com, pasti jumlahnya lebih menggila. Misalnya media tidak heboh dan berlebihan seperti ini, saya sebenarnya cukup yakin bahwa masalahnya tidak akan menjadi sebesar ini.

Selain itu, di televisi. Semua program berita pasti headline-nya tentang sex tapes ini. Bahkan sudah tiga atau empat kali berturut-turut, Apa Kabar Indonesia (AKI) Pagi, yang disinyalir sebagai salah satu program berita andalan TVONE, turut membahas hal ini. Mungkin sekalian mengaburkan isu dana desa yang digulirkan oleh partai si empunya stasiun televisi tersebut. Entah. Televisi berita yang satu lagi lain pula. Ia juga bahas tentang video ini, walaupun tidak seberlebihan tv saingannya. Namun, di program internasional, macam Indonesia Now, yang berbahasa Inggris dan dipandu oleh wartawan senior asal Filipina pun, berita ini tetap menjadi sorotan.

Bagaimana dengan infotainment? Tidak usah ditanya. Sudah pasti mereka tidak munculkan berita penting. Mereka cuplik-cuplik saja adegan-adegan dari video seks tersebut. Memang sih bagian-bagian tertentu. Tapi justru itu yang berbahaya bukan? Orang menjadi semakin penasaran dan lalu mencari bagaimana sebenarnya isi video tersebut. Dan, voila, semakin menyebar saja video itu dan dibilanglah semua itu merusak moral bangsa.

Media, sebagai penyampai informasi di masyarakat, juga seperti tidak menyadari bahwa mereka punya batas dalam hal berita-memberitakan. Bahkan ada judul berita yang mengutip dari pembicaraan di video tersebut. Look at this, “Kamu Keluarin di Mana?”. That was one of the news title from Kompas.com. Krezi thing. Belum lagi di awal kemunculannya, berita-berita televisi menggunakan cuplikan video tanpa sensor. Di-blur pun tidak. Maka tidak heran kalau Ketua Komisi Penyiaran Indonesia, Dadang Rahmat Hidayat, yang juga dosen saya, kemudian melarang penayangan cuplikan video tersebut. Seharusnya media, jika memang ingin bicara moral, harus punya semacam sensor bagi diri mereka sendiri. Jangan asal cuplik, jangan asal tayangkan. Jangan asal wawancara. Jangan asal bikin skrip.

Lalu mengapa mesti meminta pendapat orang-orang yang begitu judgemental. Belum mereka mengadakan penelitian pada orang yang bersangkutan, mereka lalu terang-terangan bilang kalau pelaku yang lelaki adalah narciss dan mengalami penyimpangan seksual. Bagi saya, hal tersebut bukan hal yang harus diberitakan pada orang lain, apalagi jika belum ada penelitian lebih lanjut.

Hey, wake up! Siapa yang sudah rusak moralnya. Apakah koruptor tidak rusak moralnya? Mereka benar-benar merusak bangsa karena mencuri apa yang seharusnya bisa menjadi milik penduduk Indonesia. Efeknya jelas terlihat. Seandainya mereka berbaik hati tidak mengambil hal yang bukan haknya, maka warga Indonesia mungkin lebih makmur dan tidak demikian mudah terpengaruh pada isu yang seperti ini. Mereka punya hal lain yang lebih menyenangkan untuk diperhatikan. Hal seperti ini bukankah semacam eskapisme dari kehidupan yang terlalu sulit.

Lalu kenapa menjadi terlalu sibuk mengurusi video yang bukan mereka yang di dalamnya, yang dianggap akan merusak moral bangsa, padahal belum tentu. Mengapa begitu takut video itu merusak? Apakah memang seperti itu pula mental orang Indonesia sebenarnya? Sebegitu pesimisnyakah kita? Tidakkah ada keyakinan pada masyarakat kita, bahwa masyarakat memiliki benteng tersendiri dalam hal demikian?

Hal ini mungkin yang dimaksudkan dengan Teori Jarum Hipodermik dalam ilmu komunikasi. Dalam teori ini disebutkan bahwa penonton adalah khalayak yang pasif. Teori ini menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang disuntukkan dengan jarum ke bawah kulit pasien. Bekerja di bawah sadar. Padahal kan, khalayak juga dimungkinkan sebagai khalayak yang aktif, seperti dalam Uses and Gratification Theory. Masyarakat bisa memilih apa yang ingin diketahuinya dan apa yang tidak. Tapi ya iya ya, bagaimana mau memilih berita yang akan dilihat, jika semuanya menampilkan berita yang sama. Haha.

Tapi ya sudahlah. Maka simpulan selanjutnya, selain masyarakat Endonesa adalah masyarakat yang berlebihan, masyarakat Endonesa, mayoritas atau mungkin minoritas saja, adalah masyarakat yang pesimis dan berprasangka buruk. :p

***

Video menyebar dari satu tangan ke sejuta tangan yang lain. Yang kemudian terkena imbasnya adalah siswa sekolah menengah. Razia telepon genggam digalakkan oleh sekolah mereka. Memang agak aneh sih mengapa mereka mesti menyimpan video tersebut di telepon genggam. Tapi yasudahlah, namanya juga ABG. Labil.

Yang saya nggak ngerti, mengapa mesti pihak sekolah yang aktif dalam melakukan hal demikian. Apakah benar orang tua sudah tidak ada peduli dengan anak-anak ini? In my humble opinion, yang belum punya anak ABG tapi sudah pernah jadi ABG, seharusnya keluarga lebih berperan loh. Jangan lalu semua hal mesti ditangani oleh sekolah. Sekolah memang mengajarkan etika dan kehidupan sosial, tapi kata semua orang, lapisan pertama tetap tanggung jawab keluarga.

***

Ini pendapat saya loh. Maaf deh ya kalo salah. Jadi salah gue? Salah temen-temen gue? Hahaha. Tapi bukan berarti saya permisif ya terhadap hal-hal seperti ini. Tapi ada kan yang namanya privasi. Mengapa mesti menjadi heboh dan tidak mengurusi hal lainnya yang lebih penting? Seperti skripsi, contohnya. *ngakak*

Sepertinya ini bukan menjadi satu-satunya postingan yang membahas tentang hal ini. Mungkin saja masih ada seri selanjutnya. Kita lihat saja mood saya nanti. Hahaha. :p


Can't You See That My Pain's So Real?

Wah, sudah sekian hari dan saya melanggar janji pada diri sendiri. Janji untuk mengunggah cerita ke blog, satu cerita per hari. Gagal sudah. Hahaha. Pasti si Andi bakal senang sekali karena ketidakkonsistenan saya ini. Sebenarnya banyak yang ingin diceritakan, dari yang dangkal, sampai dangkal sekali. tapi apa daya, hambatan memang berasal dari dalam diri. Haha. Malas akut luar biasa. Dan pula procrasinator sejati, si saya ini.

Sekarang, mumpun sedang geje di rumah, marilah kita coba urai satu-persatu hal yang ingin diceritakan. Dan kita mulai dari hal yang paling aneh sedunia raya.

Jadi begini ..

Sudah dua hari ini, ada benjol duduk manis di jidat saya. Apa ya bahasa halusnya jidat? Oh ya, dahi (terima kasih buat Alien yang sudah mengingatkan. Gini doang lupa. :p). Mengapa benjol tersebut ada di dahi saya? Cerita ini absurd. Dan, tentu saja, membuka aib (baca: kebodohan) saya sendiri. Tapi tak apalah. Supaya jadi pelajaran, jangan bodoh seperti saya. :p

Jika Kau bisa bayangkan, kemarin kami ke ATM Centre di BEC. Letaknya berdekatan dengan loket pembayaran parkir. Annelis dan saya menemani Kiki untuk mengambil uang di ATM tersebut. Transaksi selesai, saya dan dua sahabat terbaik itu keluar dari ATM Centre.

Ketika kami keluar, sebuah mobil melintas dan membayar uang parkirnya dengan santai. Tiba-tiba, entah kenapa, saya yang tidak santai. Melihat akan ada mobil selanjutnya yang membayar parkir, maka saya berlari. Entah kenapa, seperti refleks saja saya berlari. Padahal, si dua sahabat terbaik itu masih berjalan dengan santainya.

Ketika saya sudah sampai di dekat loket pembayaran parkir, masih agak berlari, mereka berteriak. Saya tidak mendengar jelas kata-kata apa yang mereka teriakkan. Yang saya tahu, ada sesuatu yang menimpa kepala saya dengan sangat keras. DHAAAAAAARRR. Boleh saya ulangi lagi? Dengan sangat keras. Lalu saya berbalik ke belakang dan bertanya pada kedua sahabat terbaik, “Apaan teriak? Eh, tadi yang nimpa aku apa sih?”

Ya seperti yang sudah Anda tebak. Saya terkena palang loket parkir otomatis. Berhubung musibah tersebut juga menyebabkan saya terjatuh, jadilah memar tidak hanya di dahi. Setelah sampai rumah baru saya periksa, ternyata lutut juga memar dan ada bagian kecil di kaki saya yang juga luka karena kegesrek aspal. Jadi mohon saja dibayangkan, berapa kecepatan palang tersebut dan bagaimana sakitnya jidat saya yang terkena palang tersebut. Saya hanya memegangi kepala saya. Untuk mencegah si kepala atau mata saya jatuh. Karena rasanya seperti ada bagian yang tercerabut dari muka ditambah peureus (ungkapan Sunda. Perih seperti jika ditampar). Setelah kejadian itu, kedua sahabat terbaik hanya bisa menanyakan, apakah saya baik-baik saja, berulang-ulang kali. Saya jawab, baik-baik saja, tinggal menunggu benjol.

Dan benar saja, tidak lama berselang, tidak sampai dua menit, si benjol lalu muncul. Dan malam harinya, seperti yang juga saya bisa prediksi, kepala saya pusing setengah mampus. Ahaha. Maaf, agak lebay. Untungnya belum ada lebam berwarna biru. Jadi tidak seperti kena kekerasan dalam rumah tangga.

Ya intinya, kebodohan ada pada saya. Segala kesempurnaan memang hanya ada pada Tuhan. :D Maksudnya, entah apa yang terlintas di pikiran saya, maka saya memutuskan lari. Padahal, saya jelas-jelas tahu ada mobil yang telah membayar dan berarti si palang tersebut akan menutup secara otomatis setelahnya. Hadeuh. Dan bisa-bisanya, saya tidak sadar akan apa yang menimpa saya kecuali setelah si dua sahabat itu mengatakannya.

Beberapa kali saya melihat mobil yang terkena palang parkir ini. Pernah juga melihat anak kecil yang terkena palang parkir ini, hingga si palang parkir patah. Awalnya memang sudah agak rusak tapi karena kena kepala si anak, jadi patah. Kejadian tersebut saya lihat di Tamini Square. Seorang bapak, mengendarai motor, ia menerabas palang parkir setelah satu mobil membayar parkir. Berhubung palang itu otomatis, jadi setelah satu kendaraan keluar, maka palang tersebut menutup. Dan ketika palang tersebut akan menutup, si bapak tadi melaju. Maka, dhuaaar, yang terkena si palang parkir adalah anaknya, yang berada di tengah. Dan bukan ibunya atau bapaknya, yang berada di belakang atau di depan si anak. Bisa diduga si anak menangis sekeras-kerasnya.

Dan ternyata kejadian tersebut terjadi pada saya. Can’t believe that. Benjol akibat hantaman palang tersebut masih terasa. Kepala pun masih sedikit pusing. Yang penting, mata saya tidak terkena imbasnya. Amin. Dan semoga, saya tidak tambah tolol karena kejadian ini. Hahaha.

Saya tidak tahu bagaimana ekspresi si mbak penjaga loket pembayaran parkir tersebut. Dan bagaimana pula ekspresi orang yang ada di mobil belakang yang berusaha saya hindari itu. Ekspresi saya, tentu saja, meringis kesakitan. Dan di waktu yang sama juga nyengir dan tertawa menertawakan diri sendiri. Konyol. Ekspresi si dua sahabat terbaik? Tertawa sambil khawatir. Mau ketawa, kasian ke saya. Tapi kalo kejadiannya konyol, amat-sangat pantas untuk ditertawakan.

Yang penting abis itu makan pempek.

** ungkapan dua sahabat terbaik hanya akan ada di posting-an ini. Cih. Hahahaha.


Bandung, le 12 Juin 2010

diedit le 15 juin 2010. Karena si annel mengingatkan bahwa ada detail yang terlupa.

baca aja lagi. kalo yang udah baca mungkin ngeh dimana yang kelupaannya. :D

Tuesday, June 8, 2010

Hello There!

“Friends are those rare people who ask how we are and then wait to hear the answer.” (Ed Cunningham)


Kamu punya teman? Saya punya.

Apa jadinya jika teman-teman itu satu-persatu mulai pergi, secara perlahan-lahan? Bagi saya, hal ini adalah hal yang tidak baik. Sangat tidak baik. Apalagi jika kau sangat tergantung pada kehadiran mereka. Orang tua sibuk bekerja, tidak punya adik dan tidak punya kakak, dan belum mau punya pacar. MAYDAY. Hehehe.

Beberapa bulan belakangan dan tentu saja, beberapa bulan mendatang, sepertinya memang saya harus mempersiapkan diri menghadapi hal tersebut: teman-teman yang mulai pergi, satu persatu dan perlahan-lahan. Bagaimana cara mempersiapkan diri untuk menghadapi hal yang demikian sulitnya? Tidak tahu.

Sejak kecil, saya sudah diajari bahwa setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Hari ini beli mainan baru, keesokan harinya sudah rusak, atau bahkan hilang. Hari ini dapat teman baru, setahun kemudian berpisah karena lulus dari taman kanak-kanak itu. Dan begitu saja selanjutnya terjadi. Bagus jika dapat me-maintain hubungan pertemanan. Beberapa bisa di-maintain, beberapa tidak. Mungkin karena saya tidak jago dalam hal demikian. :p

Sejak lama juga pikiran saya berputar-putar, setiap orang yang beranjak tua, semakin sedikit pula teman yang menemaninya. Maka itu, tidak heran, banyak orang tua yang menjadi kekanak-kanakan di masa tuanya. Mungkin ia cari perhatian, supaya dapat teman untuk sekedar mengobrol.

Beberapa keluarga memiliki sahabat keluarga. Tapi sedikit sekali jumlahnya yang demikian itu. Jangankan punya sahabat keluarga, punya teman saja sudah untung. Tentu saja akan ada perbedaan situasi, tidak lagi seperti kita masih di sekolah atau kuliah. Semua orang akan nampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Hal yang sangat jelas karena lalu memiliki perbedaan pandangan untuk mengarungi hidup yang lebih nyata. Semuanya berubah: kau akan lulus kuliah, bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu yang tidak terasa semakin banyak, menikah, bekerja untuk keluarga, punya anak, dan selanjutnya dan selanjutnya.

Dalam keadaan seperti itu, teman bukan menjadi sebuah kebutuhan tapi sebuat pelengkap saja. Jika di masa mudamu, waktu-waktumu penuh dengan temanmu, bahkan lebih dari dua puluh empat jam. Maka semua itu akan berkurang di masa tuamu. Karena ada hal-hal yang lebih penting daripada teman-temanmu. Bertemu yang seperlunya saja, ketika ada waktu. Bahkan menyelipkan waktu untuk bertemu pun akan terasa susah. Pekerjaan di sini dan sana. Keluarga ingin ini dan ingin itu. Belum lagi jika harus sekolah, melanjutkan pendidikan yang tertunda. Dan macam-macam saja alasannya. Mungkin kau akan belajar melupakan dan terlupakan. Merelakan waktu-waktumu untuk segala waktumu untuk persahabatan tercerabut. Maka beruntunglah ibu-ibu arisan itu! Hahaha.

Oh, terima kasih juga untuk pencipta jejaring sosial dimanapun Anda berada, siapapun Anda. Walaupun terkadang jejaring sosial ini seperti terlalu "berisik" dan merecoki hidup. Tapi berkat jejaring-jejaring inilah, yang jauh pun terasa dekat. Oh, tentu jangan lupa berterima kasih pada pencipta telepon dan telepon seluler yang membuat segalanya menjadi cepat.

Maka, di masa transisi seperti ini, hal bagaimana yang akan kau lakukan untuk bersiap menghadapi perpisahan dengan teman-temanmu, dengan sahabat-sahabatmu? Yang bahkan sejak sekarang pun, mereka sudah sibuk dengan skripsinya masing-masing.


*tapi tolong jangan bilang kalau saya harus juga memulai skripsi saya. Tanpa diberi tahu pun, saya sudah tahu itu, lebih dari yang orang lain tahu. Dan jangan bilang saya tidak berusaha apapun untuk memulai skripsi saya. Otak saya kembang-kempis. :((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((

Sunday, June 6, 2010

Seberapa Besar?

Mari berpikir dangkal. Uhh, I love this part of me, DANGKAL. J

Ketika sedang berada di angkutan umum sepulangnya dari Gasibu siang tadi, saya berpikir dan menelaah diri saya sendiri. Apakah saya ini orang yang berkemauan keras, berkemauan biasa saja, berkemauan lemah, atau bahkan sama sekali tidak memiliki kemauan. Tapi menurut saya, tidak mungkin ada orang yang tidak berkemauan sama sekali, jadi pengklasifikasian yang terakhir dihilangkan saja.

Maka, kini hanya ada punya tiga grup: orang yang berkemauan keras, biasa saja, ataukah berkemauan lemah. Berada di diagram mana saya? Pikiran saya pun meloncat-loncat. Batin saya berperang, kalau boleh dibilang begitu.

***

Apa pasal tiba-tiba saya berpikir demikian? Jadi begini ceritanya, saya berjalan sejak pagi, sekitar pukul tujuh, saya berencana untuk mencari sepatu PX Style di Gasibu. Sepatu itu adalah merek sepatu murah yang cukup awet dan cukup nyaman. Beberapa gerai saya kunjungi, peluh bercucuran didera ramainya pasar yang hanya buka satu kali seminggu itu. Saya berpindah dari sayap utara Gasibu (arah Monumen Perjuangan) hingga ke sayap timur (arah Pusdai). Seakan tidak cukup melelahkan, saya berputar beberapa kali demi mencari sepatu yang saya inginkan.

Seorang ibu di tengah Gasibu menjual sepatu yang saya inginkan, tetapi ukurannya ternyata tidak ada yang pas. Saya beralih ke sayap Timur dan menemukan seorang Bapak menjual sepatu tersebut. Namun, ukuran saya tidak tersedia dan kiranya kualitas sepatu yang dia jual juga tidak terlalu bagus. Maka kembalilah saya ke sayap utara Gasibu. Sayangnya, si abang penjual itu menjual dengan harga yang tinggi. Jauh tinggi dari harga biasa. Sebagai perempuan, yang secara norma dinilai jago menawar, saya tidak terima dan beranjaklah saya dari Abang itu.

Saya berkeliling kesana-kemari. Hingga, kalau tidak salah ingat, saya mengunjungi masing-masing pedagang sepatu itu dua kali. Lalu ibu saya menelepon dan menanyakan saya ada dimana. Di saat itulah saya ingat bahwa saya sudah lelah dan harus segera pulang. Ibu berpesan, udah beli yang mana aja yang kamu mau, mahal sedikit nggak papa, atau cari aja nanti di tempat lain.

Mendengar suara ibu yang melahirkan saya itu (*lebay*), maka saya cepat-cepat memutuskan sepatu mana yang akan saya beli. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sepatu di pedagang di sayap utara. Yang mahal. Tapi itupun saya tidak jadi membeli model yang saya cari sejak lama. Saya memilih model lain, yang ternyata lebih murah.

***

Jadi, apakah saya punya selfi-willing yang kuat atau bagaimana? Mengandalkan ingatan-ingatan itu, saya menyadari bahwa saya memiliki kemauan yang keras jika menginginkan barang yang saya ingin. Pokoknya apapun harus sampai dapat. Tapi hal ini tidak menjadikan saya sebagai seorang yang impulsif. Pokoknya, saya harus dapat sesuatu yang sesuai dengan keinginan saya, baik model, kualitas, maupun harga. Kemauan keras ini bertumbuh seiring ketidakmauan saya menyesal di akhir proses belanja. Di beberapa hal lain, misalnya belajar, kemauan keras ini juga masih memengaruhi. Eksesnya adalah saya menjadi orang yang cukup perfeksionis. Kadang berita yang saya tulis terlalu detail atau tugas yang saya buat kebanyakan literatur. Karena saya ingin semua informasi bisa tertampung dan menjadikan tugas tersebut baik. (walaupun hal ini juga kemudian berlawanan pula dengan sifat saya yang procrasinator.:p)

Namun, di beberapa hal, kemauan ini menjadi pudar. Entah karena dipengaruhi si malas atau apa. Misalnya, dalam mengulik masalah-masalah untuk usmas (hahaha. Tertawalah sepuas kalian.). Saya sulit berkonsentrasi pada satu hal dan menghambat saya untuk mempelajari hal-hal yang bisa dijadikan usmas, padahal it’s already June. Kemauan saya menjadi mudah terkikis jika menghadapi hambatan. Misalnya informasi yang terbatas, buku-buku yang sulit dicerna, dan masalah yang tidak pasti atau tidak kuat argumennya.

Beberapa orang di sekitar saya merupakan penghuni diagram berkemauan keras, biasa saja, dan berkemauan lemah. Terkadang, yang berkemauan keras, jika saya melihat mereka, mereka jadi nampak egois, ngotot, dan memaksakan kehendak mereka. Tidak masalah asal tidak lalu mengganggu saya. Kalau sudah sampai taraf yang mengesalkan, maka sarewelah. Haha. Mati aja lo! ;p Yang biasa saja, mungkin seperti saya, bergantung pada situasi-situasi yang dihadapi. Sedangkan mereka yang berkemauan lemah, malah mengesalkan karena malah seperti zombie.

Nah, ingin saya sekarang adalah saya menjadi orang yang berkemauan keras dan bisa mencapai hal-hal yang saya inginkan. Ya, siapa yang nggak mau ya? Semoga semogi momogi.

***

Jadi, saya mendua? Tentu saja. Tergantung situasi. Lihat saja contoh di Gasibu yang saya ceritakan tadi. Saya berkemauan keras sampai empat jam ngulik Gasibu demi dapet sepatu impian. Tapi tidak berkemauan keras karena begitu mudah berbalik hati ketika tidak dapat model sepatu yang sesuai keinginan. :D

Pointless mind.

Oh iya, sekalian pemberitahuan, bahwa rubik saya belum jadi. Sudah agak malas menguliknya. (Tuh kan, jadi saya berkemauan keras atau tidak? :p)