Wednesday, June 23, 2010
Itu Sudah
Minggu Pagi di Victoria Park

Banyak orang bertanya pada saya, apakah film “Minggu Pagi di Victoria Park” rame? Well, saya tidak bisa jawab film ini rame atau tidak. Rame sih karena para TKW itu berkumpul , berkerumun di Victoria Park. Oke, maaf kalo jayus. Begini maksudnya, film ini tidak rame, menurut saya. Tapi film ini bagus.
Tidak rame karena memang kita tidak akan menemukan adegan tembak-tembakan di film ini. Tidak ada pula alur yang begitu menegangkan dan membuat jantung berdegup kencang. Tapi film ini bagus. Jadi ya tipikal film Perancis mungkin, tidak rame tapi bagus. Tapi tentu saja masih mending film ini sih daripada film Perancis yang alurnya lambat macam siput itu.
***
Sekar sampai di Hongkong itu karena himpitan ekonomi keluarga. Ia ingin bahagiakan orang tuanya dengan materi berlimpah. Maka ia putuskan untuk menjadi tenaga kerja wanita (TKW). Setahun di Hongkong, ia bisa kirim uang pada keluarganya di Jawa Timur. Dari uang kiriman Sekar, bapaknya bisa memperbaiki rumah. Kini, rumahnya berdinding bata.
Setelah setahun itu, kontraknya habis dan putus. Sedangkan keluarga di rumah tetap butuh sokongan dana darinya. Maka, berbulan sudah ia bekerja serabutan di Hongkong. Menghutang ke kantor kredit dengan bunga tinggi. Tak ada lagi kabar sampai ke rumah orangtuanya di Jawa Timur.
Maka sang ayah, yang menganakemaskan sekar, mengutus sang kakak, Mayang, ke Hongkong. Mayang yang bekerja di perkebunan tebu tidak pernah mengangankan kerja di negeri orang hingga sang ayah memaksanya berlaku demikian. Sejak itu, kepedihan dan amarahnya tersimpan dalam hati.
Dari situlah konflik dimulai. Perjalanan Sekar mencari penghasilan demi hidup dan membayar utang. Dan perjalanan Mayang mencari adiknya, yang seakan lenyap dari pergaulan TKW di negeri tersebut. Perjalanan kedua orang ini berkelindan dengan kehidupan tenaga kerja-tenaga kerja Indonesia yang merantau di tempat yang sama. Dari sini, mata dan hati kita lalu melihat apa yang terjadi di pada mereka yang jauh dari keluarga.
***
Jika kamu pernah menonton "Pertaruhan (At Stake)" produksi Kalyana Shira Foundation yang diputar di bioskop pada 2008 silam, mungkin kamu sudah tidak terlalu kaget dengan apa yang ada di film arahan Lola Amaria ini. Di film ini, adegan percintaan dibiarkan bebas. Percintaan sesama jenis seperti bukan sesuatu yang tabu. Dari beberapa dialog, kita menjadi tahu bahwa standar berpacaran mereka bisa jadi berbeda dengan yang terjadi di Indonesia.
Atau, secara sederhana, penuturan-penuturan tokoh di film ini mengantarkan pada pengetahuan tertentu tentang apa yang terjadi sebenarnya pada TKW-TKW kita. Bagaimana rasanya menjadi miskin dan secara terpaksa untuk mengejar materi di negeri orang, yang sama sekali berbeda bahasa dan budaya. Bagaimana rasanya menjadi tulang punggung keluarga, ketika mereka yang ditulangi itu bisa jadi hanya ongkang-ongkang kaki di rumah dan menunggu kiriman dari negeri timur jauh itu.
Persoalan TKI, atau lebih spesifik lagi TKW, adalah persoalan yang entah kapan bisa selesai. Konflik sosial yang berantai ini tentu lebih penting dari kasus video persetubuhan artis-artis ternama itu. Lebih kurang sama pentingnya dengan kasus Anggodo dan Gayus Tambunan. Ataukah persoalan kemiskinan semacam ini bisa dipecahkan oleh dana aspirasi atau dana desa yang diusung Golkar?
Sebutan pahlawan devisa yang jamak dialamatkan pada mereka tentu saja indah didengar. Tapi nyatanya, mereka juga tidak terbantu apapun dengan julukan itu. Tetap saja mereka “dipalak” di teminal kepulangan mereka di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Ternyata masih saja ada mereka yang diperlakukan tidak wajar oleh majikannya. Atau bahkan dilecehkan oleh orang dari negara lain. Maka menjadi penting hal-hal yang dilakukan oleh Gandhi, seorang lelaki dari KBRI yang kerjaannya mengurusi TKI. Di film ini diperankan oleh Doni Damara. Maka menjadi penting bagi mereka untuk berkumpul di Victoria Park pada hari Minggu. Untuk sekedar tahu bahwa banyak orang yang merasa bernasib sama dan bisa bertahan untuk mencari dollar yang bisa sepuluh kali lipat dari penghasilan “pembantu” di Indonesia.
Satu lagi yang terpenting dari film ini, bagi saya, adalah kemampuannya mengingatkan kita bahwa orang yang hidupnya lebih tidak beruntung dibanding kita. You are less miserable than them. Tidak ada waktu untuk mengumpat keluargamu jika mereka masih mau menanggung apa yang kau minta. Bahkan mereka yang harus menanggung beban keluarga mereka. Ketika kita lupa bersyukur dan merasa hidup kita paling menderita sedunia raya, maka jangan lupa bahwa cerita-cerita tentang TKW yang menjadi PSK adalah benar adanya. Tidak dibuat-buat. Tekanan-tekanan yang dirasakan mereka yang merantau jauh itu nyata adanya, walaupun mungkin hanya bisu.
Jadi ayo skripsi. *tetep ujung-ujungnya skripsi.
***
Boleh applause buat Titi Sjuman untuk aktingnya menjadi Sekar. Untuk Lola Amaria yang menjadi Mayang. Boleh juga applause untuk kegantengan Vincent alias Donny Alamsjah. Dan doa selalu menyertai Yati, yang harus memilih bunuh diri karena tekanan-tekanan yang dirasanya. Untuk Sabrang Mowo Damar Panuluh yang bersedia memproduseri film macam ini.
Oh, iya.. bagi yang belum menonton, jangan harap mendapat visualisasi yang terlalu bagus ya. Pengambilan gambarnya sangat identik dengan film dokumenter. Nggak indah seperti film-film fiksi.
Oh iya, kenapa kalo film beginian nggak ditonton menteri ya? Kenapa Laskar Pelangi dan Tanah Air Beta yang ditonton menteri ya?
Saturday, June 19, 2010
You Can Handle It!
- Batasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, daging merah, alkohol, kafein (kopi, teh),coklat, dan minuman bersoda.
- Kurangi rokok atau berhenti merokok.
- Makan ikan, ayam, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Tapi jangan berlebihan, tetep ada pembatasan.
- Batasi konsumsi susu dan olahan yang mengandung susu.
- Makan sayuran hijau (NAH LOH!) dan meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung asam lemak esensial. Batasi lemak hewani dan lemak dari makanan yang digoreng.
- Konsumsi vitamin B kompleks, vitamin E, kalsium, magnesium, dan omega 6.
- OLAHRAGA, ya intinya aktivitas fisik deh.
- Menghindari dan mengatasi stress
- Menjaga berat badan. Berat badan berbanding lurus dengan PMS. Semakin berat, maka semakin parah PMSnya.
- Catat jadwal siklus haid dan kenali gejala PMSnya.
Till Drop!
Last week, I got a menstruation. Oh well, baiklah, bisa diperhalus sebagai tamu bulanan. Beberapa hari sebelum itu, saya rasakan emosi saya naik turun. Atau tidak naik, tapi hanya turun dan terus menurun. Saya kira itu adalah masalah skripsi yang tak kunjung usai, soalnya dikerjakan juga belum. Hehe. Maka sampai di rumah, saya masuk kamar, matikan lampu, dan bikin playlist lagu-lagu mellow. Playlistnya saja saya beri judul “Till Drop”. Isinya lagu-lagu Sigur Ros atau Tika. Hehe.
Semua hal yang buruk saya pikirkan. Tentang orang itu. Tentang pertemanan. Tentang ini dan tentang itu. Beberapa hari itu, saya adalah orang yang paling beraura negatif di seluruh dunia raya. Di kampus, saya menjadi pendiam, bersikap sinis pada beberapa orang, berargumen, dan hal lainnya.
Beberapa hari setelah itu, bertamulah ia si tamu bulanan perempuan. Tidak seperti biasanya, kali ini diiringi sakit perut menyiksa. Satu hal yang jarang-jarang terjadi pada saya. Ditambah Leno yang beberapa kali mati secara tiba-tiba, tidak bisa ikut berkumpul dengan teman-teman, dan tidak punya uang untuk membeli hal-hal yang saya inginkan, bikin saya merengut kayak marmut. Pokoknya, beberapa hari itu, anggap saja saya bukan temen kalian. You’ll be sorry if you near me, that time.
Ketika saya menjadi orang yang seperti itu, maka saya berdiam saja di rumah. Meminimalisasi kegiatan sosial saja. Saya sebenarnya tidak mau mengakuinya, tapi itulah monster yang mengiringi kedatangan tamu bagi wanita per bulannya. Ia si PMS.
Nah, itulah hal bodoh yang tidak pernah saya sadari. Saya selalu saja terlambat menyadari bahwa si PMS sedang menyerang. Saya tidak suka orang yang sedang PMS, apalagi jika mereka mengambinghitamkan si sindrom itu ketika mereka marah-marah. Uggh, big no no. Tapi, oh hell, saya juga mengalaminya. Saya sebenarnya yakin PMS itu bisa dilawan dengan kekuatan pikiran dan kesabaran.
Bagaimana bisa saya tidak menyadari kedatangan PMS? Entah bagaimana. Hahaha. Saya selalu menyadarinya sebagai mood saya yang sedang buruk. Bilang saja jika ‘id’ saya sedang keluar. Haha. Maksudnya, saya menganggap hal buruk yang sedang ada pada saya adalah hanya sebagai ungkapan kekesalan dan keterbatasan diri yang sedang hadir pada suatu waktu tertentu. Maka itu, saya menarik diri. You can call me as an unsocial, in time like that. Itu terjadi pula kan pada kamu, ketika kamu benar-benar ingin sendiri dan tidak ingin bertemu siapapun, padahal belum masanya PMS. Seperti itulah. Dan memang saya mengalaminya di waktu-waktu tertentu ketika pun saya tidak sedang menstruasi atau PMS. Misalnya saja, ketika mentok ketika mengerjakan skripsi, semuanya jadi terlihat salah kan? (curhat mulu).
****
So, what is PMS? Menurut Om Wiki, PMS (Pre Menstrual Syndrome) adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi terkait dengan siklus menstruasi wanita. Yang bisa saya syukuri dari ini adalah, bahwa saya masih wanita. Hahaha.
Gejala tersebut terjadi menjelang siklus menstruasi wanita. Bisa seminggu sebelumnya atau bahkan dua minggu sebelum si wanita mendapatkan tamu tersebut. Bisa dibayangkan betapa menyiksanya itu pada wanita. Beberapa orang yang saya kenal menjadi sangat foodie ketika siklus ini datang. Segala makanan dilahap, seperti tidak kenyang-kenyang. Ada juga mereka yang benar-benar menjadi monster, senggol dikit bacok. Nggak bangetlah pokoknya. Mereka menjadi musuh komunitas jika sedang begini. BEWARE!
Menurut Om Wiki lagi, penyebab munculnya sindrom ini memang belum jelas. Beberapa teori menyebutkan antara lain karena faktor hormonal yakni ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Teori lain bilang, karena hormon estrogen yang berlebihan. Para peneliti melaporkan, salah satu kemungkinan yang kini sedang diselidiki adalah adanya perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor dan sistem pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon seks dalam sel. Kemungkinan lain, itu berhubungan dengan gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau fungsi serotonin yang dialami penderita.
Ada hal-hal yang memperberat sindrom pramenstruasi pada seseorang, misalnya saja stress. Nah, jadi mungkin bulan ini, I got my worst PMS ever, ya gara-gara stress itu. Stress belum skripsi. (Yes, skripsi bisa disalah-salahin. :p) Hal lain yang juga mempengaruhi PMS adalah konsumsi makanan dan minuman, kegiatan, dan tentu saja usia. Bisa jadi ketika usia kita bertambah nanti, PMS yang kita rasakan semakin parah.
- PMS tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat haid. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron: hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi beberapa peneliti mengatakan, pada penderita PMS bisa jadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium. Penderita PMS A sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan berserat dan mengurangi atau membatasi minum kopi.
- PMS tipe H (hyperhydration) memiliki gejala pembengkakan, perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita. Untuk mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum sehari-hari.
- PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengkonsumsi makanan yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan oleh stres, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6), atau kurangnya magnesium.
- PMS tipe D(depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3% dari selururh tipe PMS benar-benar murni tipe D. PMS tipe D murni disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, di mana hormon progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon estrogennya. Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang terjadi bersamaan dengan PMS tipe A.
Oiya, kalau kram perut yang mengiringi menstruasi, tidak termasuk dalam PMS. Walaupun suka nyempil pas kita PMS, kram perut (Dismenorea) ini, Alhamdulillah-nya, cuma muncul sehari atau dua hari menjelang atau pas mens datang. Jadi dia akan segera hilang setelah si darah-darah kotor itu keluar dari tubuh kita. Sedangkan PMS, kadang-kadang dia masih aja ngikut kita kemana-kemana bahkan setelah si mens-nya datang. Mungkin bisa kita bilang, PMS juga sama dengan Pas Menstrual Syndrome. Hahaha. :p
Perempuan selalu punya alasan untuk kemarahan-kekesalan-kemanjaan-dan-kemenyebalkanannya. Menurut literatur yang saya baca, ada juga PMS (post menstrual syndrome). Haha. Bingung kan lo? Nah, berhubung saya lupa pernah baca dimana, maka nanti aja dibahasnya, pas udah nemu lagi literaturnya. Maka, bersiaplah atas emosi yang turun naik atau gejala-gejala lainnya selama sebulan penuh. :p :p
Tapi, semoga sih nggak yaaaaaaaa..
Bandung, le 19 Juin 2010
*sumber: id.wikipedia.org
gambar: http://janninglai.blogspot.com/
Saturday, June 12, 2010
Please deh, Jangan Lebay!
Oke, jadi begini ceritanya, Indonesia sedang dihebohkan dengan video seks yang ‘pemeran utama’-nya artis. Tokoh di video pertama, diduga, yang lelaki adalah seorang vokalis band ternama. Dan yang perempuan, diduga, adalah bintang iklan sabun-presenter-duta beberapa produk-duta PBB-aktris-cum penyanyi. Selang beberapa hari, video kedua muncul. Lelakinya diduga masih lelaki yang sama. Namun, yang perempuan berganti. Diduga si perempuan adalah presenter acara gosip ternama.
Seminggu setelah video pertama menyebar, melalui situs-situs internet, media massa di Indonesia heboh. Terutama televisi dan media online. Hebohnya keterlaluan, berlebihan, bagi saya. Mulai dari infotainment, yang kerjanya memang membahas artis-artis, hingga program berita, yang biasanya membahas berita yang tidak demikian. Asalnya saya tidak ingin turut berkomentar, tapi pemberitaan-pemberitaan itu minta banget dikomentarin. Hahaha.
Semua orang juga berkomentar. Mulai dari sesama artis, hingga anggota DPR yang tidak bersinggungan sama sekali. Mulai dari menteri, hingga psikolog dan ginekolog. Mulai dari masyarakat, hingga ahli yang mengaku bisa mengetahui validitas video tersebut. Siapa mereka hingga berhak berpendapat macam-macam? Beberapa daerah bahkan memboikot ketiga artis tersebut.
Baiklah, kalau boleh sedikit disimpulkan, orang Endonesa memang seringkali bertindak (agak) berlebihan. Oh iya, dan mungkin berkaitan dengan ciri masyarakat kolektif, maka masyarakat Endonesa terlalu ingin ikut campur urusan orang. Saya nih salah satu contoh spesiesnya.
***
Sejak seminggu lalu, sejak sehari setelah video pertama beredar, hingga kemarin, Jumat (11/6), saya menghitung ada 105 berita di Kompas.com, salah satu portal berita online di Indonesia. Untungnya saya tidak berniat menghitung berita di situs-situs berita lain. Bayangkan saja, di detik.com, pasti jumlahnya lebih menggila. Misalnya media tidak heboh dan berlebihan seperti ini, saya sebenarnya cukup yakin bahwa masalahnya tidak akan menjadi sebesar ini.
Selain itu, di televisi. Semua program berita pasti headline-nya tentang sex tapes ini. Bahkan sudah tiga atau empat kali berturut-turut, Apa Kabar Indonesia (AKI) Pagi, yang disinyalir sebagai salah satu program berita andalan TVONE, turut membahas hal ini. Mungkin sekalian mengaburkan isu dana desa yang digulirkan oleh partai si empunya stasiun televisi tersebut. Entah. Televisi berita yang satu lagi lain pula. Ia juga bahas tentang video ini, walaupun tidak seberlebihan tv saingannya. Namun, di program internasional, macam Indonesia Now, yang berbahasa Inggris dan dipandu oleh wartawan senior asal Filipina pun, berita ini tetap menjadi sorotan.
Bagaimana dengan infotainment? Tidak usah ditanya. Sudah pasti mereka tidak munculkan berita penting. Mereka cuplik-cuplik saja adegan-adegan dari video seks tersebut. Memang sih bagian-bagian tertentu. Tapi justru itu yang berbahaya bukan? Orang menjadi semakin penasaran dan lalu mencari bagaimana sebenarnya isi video tersebut. Dan, voila, semakin menyebar saja video itu dan dibilanglah semua itu merusak moral bangsa.
Media, sebagai penyampai informasi di masyarakat, juga seperti tidak menyadari bahwa mereka punya batas dalam hal berita-memberitakan. Bahkan ada judul berita yang mengutip dari pembicaraan di video tersebut. Look at this, “Kamu Keluarin di Mana?”. That was one of the news title from Kompas.com. Krezi thing. Belum lagi di awal kemunculannya, berita-berita televisi menggunakan cuplikan video tanpa sensor. Di-blur pun tidak. Maka tidak heran kalau Ketua Komisi Penyiaran Indonesia, Dadang Rahmat Hidayat, yang juga dosen saya, kemudian melarang penayangan cuplikan video tersebut. Seharusnya media, jika memang ingin bicara moral, harus punya semacam sensor bagi diri mereka sendiri. Jangan asal cuplik, jangan asal tayangkan. Jangan asal wawancara. Jangan asal bikin skrip.
Lalu mengapa mesti meminta pendapat orang-orang yang begitu judgemental. Belum mereka mengadakan penelitian pada orang yang bersangkutan, mereka lalu terang-terangan bilang kalau pelaku yang lelaki adalah narciss dan mengalami penyimpangan seksual. Bagi saya, hal tersebut bukan hal yang harus diberitakan pada orang lain, apalagi jika belum ada penelitian lebih lanjut.
Hey, wake up! Siapa yang sudah rusak moralnya. Apakah koruptor tidak rusak moralnya? Mereka benar-benar merusak bangsa karena mencuri apa yang seharusnya bisa menjadi milik penduduk Indonesia. Efeknya jelas terlihat. Seandainya mereka berbaik hati tidak mengambil hal yang bukan haknya, maka warga Indonesia mungkin lebih makmur dan tidak demikian mudah terpengaruh pada isu yang seperti ini. Mereka punya hal lain yang lebih menyenangkan untuk diperhatikan. Hal seperti ini bukankah semacam eskapisme dari kehidupan yang terlalu sulit.
Lalu kenapa menjadi terlalu sibuk mengurusi video yang bukan mereka yang di dalamnya, yang dianggap akan merusak moral bangsa, padahal belum tentu. Mengapa begitu takut video itu merusak? Apakah memang seperti itu pula mental orang Indonesia sebenarnya? Sebegitu pesimisnyakah kita? Tidakkah ada keyakinan pada masyarakat kita, bahwa masyarakat memiliki benteng tersendiri dalam hal demikian?
Hal ini mungkin yang dimaksudkan dengan Teori Jarum Hipodermik dalam ilmu komunikasi. Dalam teori ini disebutkan bahwa penonton adalah khalayak yang pasif. Teori ini menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang disuntukkan dengan jarum ke bawah kulit pasien. Bekerja di bawah sadar. Padahal kan, khalayak juga dimungkinkan sebagai khalayak yang aktif, seperti dalam Uses and Gratification Theory. Masyarakat bisa memilih apa yang ingin diketahuinya dan apa yang tidak. Tapi ya iya ya, bagaimana mau memilih berita yang akan dilihat, jika semuanya menampilkan berita yang sama. Haha.
Tapi ya sudahlah. Maka simpulan selanjutnya, selain masyarakat Endonesa adalah masyarakat yang berlebihan, masyarakat Endonesa, mayoritas atau mungkin minoritas saja, adalah masyarakat yang pesimis dan berprasangka buruk. :p
***
Video menyebar dari satu tangan ke sejuta tangan yang lain. Yang kemudian terkena imbasnya adalah siswa sekolah menengah. Razia telepon genggam digalakkan oleh sekolah mereka. Memang agak aneh sih mengapa mereka mesti menyimpan video tersebut di telepon genggam. Tapi yasudahlah, namanya juga ABG. Labil.
Yang saya nggak ngerti, mengapa mesti pihak sekolah yang aktif dalam melakukan hal demikian. Apakah benar orang tua sudah tidak ada peduli dengan anak-anak ini? In my humble opinion, yang belum punya anak ABG tapi sudah pernah jadi ABG, seharusnya keluarga lebih berperan loh. Jangan lalu semua hal mesti ditangani oleh sekolah. Sekolah memang mengajarkan etika dan kehidupan sosial, tapi kata semua orang, lapisan pertama tetap tanggung jawab keluarga.
***
Ini pendapat saya loh. Maaf deh ya kalo salah. Jadi salah gue? Salah temen-temen gue? Hahaha. Tapi bukan berarti saya permisif ya terhadap hal-hal seperti ini. Tapi ada kan yang namanya privasi. Mengapa mesti menjadi heboh dan tidak mengurusi hal lainnya yang lebih penting? Seperti skripsi, contohnya. *ngakak*
Sepertinya ini bukan menjadi satu-satunya postingan yang membahas tentang hal ini. Mungkin saja masih ada seri selanjutnya. Kita lihat saja mood saya nanti. Hahaha. :p
